The Right Questions

Saat baru berkenalan dengan Psikologi Islam, saya kerap bertanya mengenai bagaimana Alquran menjelaskan berbagai construct psikologi yang selama ini saya ketahui.  Keinginan untuk kembali pada Alquran membuat saya ingin tahu sudut pandang Islam tehadap stres, misalnya.  Atau bagaimana Alquran memandang alam bawah sadar.  Kuliah malam ini mendiskusikan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut ternyata keliru. 

Di mana letak kelirunya? Kita ketahui bahwa perkembangan ilmu dalam psikologi konvesional didasari oleh pengamatan yang sistematis terhadap manusia dan alam.  Dengan demikian, construct psikologi yang didapat dari hasil pengamatan tersebut merupakan hasil dari olah pikir manusia.  Nah, jika kita mencari sebuah construct psikologi di dalam Alquran, akan ada potensi menjadikan Alquran sebagai bukti untuk mendukung construct tersebut atau memaksakan kebenaran sebuah construct dengan cara mencocok-cocokkannya dengan Alquran.  Ini adalah pemikiran yang terbalik.  Kita tahu bahwa Alquran adalah sumber kebenaran yang pertama dan utama.  Sementara sains merupakan sarana untuk menemukan kebenaran tetapi bukan merupakan kebenaran itu sendiri.

Lalu, bagaimana caranya jika kita ingin bertanya pada Alquran?  Dr. Bagus Riyono menjelaskan bahwa kita perlu membebaskan diri dari construct-construct psikologi yang ada dan mengajukan pertanyaan yang murni dan mendasar.  Misalnya: Bagaimana Alquran menggambarkan manusia?  Bagaimana Alquran melindungi manusia dari pola pikir yang keliru?  Pertanyaan-pertanyaan seperti ini in syaa Allah akan memberikan jawaban yang tidak terpenjara oleh sebuah construct tertentu.  Ma syaa Allah.  Pengetahuan yang benar dimulai dari pertanyaan yang benar. 

Dalam sejarah perkembangan sains, kuliah malam ini memperkenalkan ilmuwan pertama yaitu Ibnu al-Haytham (965-1040 M).  Beliau adalah pelopor metode eksperimen yang menjadi dasar dari penelitian modern.  Salah satu pernyataan sang ilmuwan yang didiskusikan adalah “if one belief was true, then a conflicting belief could not also be true; one of the beliefs must be false.  False belief were dangerous because they obscured the truth and led believers away from God.”  Hal-hal yang benar harus saling mendukung.  Jika ada yang tidak sesuai atau bertolak belakang, maka salah satunya bukanlah kebenaran.  Keyakinan mengenai hal yang tidak benar dapat membawa kita menjauh dari Sang Pencipta.  Subhanallah.  Saya merenungkan hal-hal yang telah saya pelajari selama ini, berapa banyak construct saling bertentangan saat menjelaskan hal yang sama?  Wallahu a’lam.

Mutiara, 19 Februari 2022

Dian L Izwar

#Refleksi kuliah sesi ketiga “The 126-hour program on Islamic Psychology as the science of human soul, cognition, emotion and behavior”.  Sabtu, 19 Februari 2022, 20.00-22.00 WIB oleh Dr. Bagus Riyono, MA, Psikolog.

Bahan bacaan: Story from BBC NEWS: http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/science/nature/7810846.stm


“Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya”

QS Al-Baqarah: 42.


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *