Escape

Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat menelepon.  Telah lama kami tak bertukar cerita.  Bincang hangat mengalir begitu saja.  Lama-lama obrolan sampai juga pada pandemi.  Bagaimana stresnya anak-anak dengan metode pembelajaran jarak jauh dan cerita jenuhnya bekerja dari rumah.

“Kerjaan kayak nggak ada habisnya.  Kalau dah mumet gue tinggal nonton drakor,” kalimatnya diakhiri tawa lepas.

Menonton drama Korea menjadi salah satu alternatif baginya untuk escape,  melarikan diri sejenak dari rutinitas yang membebani.

Saya ingat cerita sahabat lainnya di sebuah grup media sosial.  Baginya hari Minggu adalah hari bahagia, bebas dari segala rutinitas, lepas dari semua beban pekerjaan.  Ia akan larut dalam hening, menguntai kata di depan laptop.  Sahabat yang satu ini memang gemar menulis.  Dengan menulis ia kembali memperoleh energi untuk mengawali pekan yang baru di hari Senin.

Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk rehat.  Saat mengalami keadaan yang membuat jenuh atau tekanan yang terasa membebani, kita memang perlu escape sejenak.  Meninggalkan rutinitas dan melupakan semua beban.  Kegiatan ini diperlukan agar kita tetap sehat mental.  Ada orang yang menyebutnya sebagai me time.  Meluangkan waktu sejenak untuk diri sendiri.  Mengambil jeda.  Bertanya apa kabar dan mendengarkan tubuh kita bicara.  Melakukan hal yang menyenangkan bagi diri kita,  sebuah kegiatan yang dapat dinikmati prosesnya dan tidak melulu berorientasi pada hasil.  Kegiatan ini dipercaya dapat mengembalikan energi yang sudah habis terkuras.  Selama kita fokus pada kegiatan yang menyenangkan tersebut tubuh kita akan relaks.  Keadaan relaks ini sangat diperlukan untuk mengatasi kelelahan, kejenuhan dan tekanan yang sebelumnya kita rasakan.  Tubuh kita beristirahat sejenak dari semua ketidaknyamanan itu.  Demikian kira-kira paparan teori yang saya sempat pelajari.  Intinya, tubuh kita butuh istirahat, butuh jeda untuk memulihkan diri.  Ibarat ponsel, kita perlu waktu untuk mengecas baterai kita.

Saya masih ingat pengalaman beberapa tahun yang lalu.  Saat itu saya sedang mengejar deadline.  Dari pagi saya sudah di depan komputer, menuliskan materi pelatihan berikut rancangan aktivitas pelatihannya.  Karena permintaan klien mendadak, tenggat waktunya pun mepet.  Pekerjaan yang biasanya saya kerjakan dengan santai selama sepekan, kali ini harus selesai dalam dua hari.  Kepala saya terasa penuh.  Pundak saya pegal dan ujung jemari saya terasa agak kebas karena lama dan cepatnya saya mengetik.  Ketika azan zuhur berkumandang, saya save perkerjaan saya lalu bangkit dari kursi.  Saya langsung berwudhu.  Saya tinggalkan semua.  Rasanya shalat pada waktu itu nikmat sekali.  Saya baru memahami pentingnya tuma’ninah dalam shalat.  Saya menghayati rukuk yang lama, sujud yang panjang.  Selepas shalat semua rasa pegal di pundak saya hilang.  Saya seperti punya energi baru.

Allah yang Maha Tahu telah membekali kita dengan 5 kali waktu escape dalam sehari.  Sayangnya kita tidak selalu memanfaatkannya.  Saya pun tidak selalu bisa menikmati shalat seperti itu.  Padahal shalat adalah me time yang paling mudah dan paling logis.  Tidak ada orang yang akan protes apabila kita shalat.  Kita dapat menggunakan waktu shalat dan zikir sesudah shalat sebagai me time tanpa ada yang mengganggu.  Semakin tuma’ninah kita dalam shalat semakin lama waktu escape kita dari hiruk pikuk dunia.  Semakin khusyuk kita dalam shalat, semakin relaks tubuh kita.  Ma syaa Allah.  Pada saat memikirkan hal ini saya merasa bahwa saat Allah mengatakan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong, dalam makna yang sangat sederhana shalat benar-benar menolong kita untuk menjalani hari dengan penuh energi dan menjaga kita untuk tetap sehat mental.  Tentu saja selama kita menunaikannya sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.  Semoga kita makin dapat menikmati saat-saat shalat kita.

Mutiara, 8 November 2020

Dian L Izwar


“Wahai orang-orang yang beriman. Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.  Sungguh, Allah beserta orang yang sabar”

(QS. Ath-thalaq ayat 12)


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *