Luka

“Masa kecil saya tidak bahagia, Bu.”  Pandangan wanita itu menerawang.  Matanya berkaca-kaca.  Mungkin bayangan masa kecil itu kembali hadir di ingatannya. 

“Saya tidak ingin anak-anak mengalami apa yang saya alami,” ia berkata lirih.  “Tapi saya justru melakukan hal sama…” tangisnya pecah.  Bulir bening mengalir deras membasahi pipi. 

Saya biarkan air mata itu jatuh.  Semoga hadirnya dapat membasuh luka.  Menangis merupakan sarana untuk menenangkan jiwa.  Air mata adalah rahmat.  

===========

Luka pengasuhan sering terungkap di dalam ruang konseling.  Pada umumnya orang tua yang mengalami hal tidak nyaman semasa kecil bertekad untuk tidak melakukan hal tersebut pada anak-anaknya.  Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjadi orang tua ideal.  Menjadi sosok yang jauh berbeda dari tokoh yang mereka kenang di masa kecil.  Namun, kerap kali yang terjadi malah sebaliknya.

“Ayah saya orangnya keras.  Kalau berbicara sering membentak.  Kami semua ketakutan jika Ayah bersuara.  Saya tidak ingin anak-anak takut pada saya, saya tidak mau membentak mereka.  Saya tidak mau tapi ternyata saya seperti Ayah.”

Mengapa hal ini terjadi?  Apa yang membuat sebuah perilaku yang sangat dijaga untuk tidak dilakukan justru muncul dalam tindakan?  Jawabannya ada pada kenangan.

Apabila seorang ayah tidak ingin membentak anaknya karena membayangkan tidak enak dibentak ayahnya semasa kecil, maka secara tidak sadar ia akan memutar kembali kenangan masa kecil itu di dalam ingatannya.  Tujuannya baik, yaitu sebagai pengingat agar ia tidak melakukan hal tersebut pada anaknya. Masalahnya adalah otak tidak membedakan keadaan saat ini atau masa lalu. 

Otak hanya memproses apa yang ada di dalam pikiran.  Apakah kejadian itu nyata atau hanya bayangan, otak tidak tahu.  Anda mungkin pernah menangis atau melihat seseorang menangis saat menonton sebuah adegan film sedih.  Kita tahu bahwa kisah yang ditonton itu hanyalah lakon yang dibawakan oleh seorang pemeran.  Kisah itu tidak nyata, tetapi kita ikut sedih.   Mengapa? Karena dalam bayangan kita hal tersebut nyata.  Saat suatu peristiwa mendapat perhatian dan masuk ke dalam pikiran, maka hal itu menjadi nyata bagi otak.  Demikian pula dengan kenangan pada masa kecil yang kini diputar ulang sebagai pengingat agar tidak dilakukan.  Kenangan tersebut menjadi nyata dan hadir saat ini.  Lalu bagaimana ia menjelma menjadi sebuah tindakan?

Pada saat kita berada dalam sebuah situasi, pikiran kita secara otomatis akan mencari referensi bagaimana cara bersikap dalam situasi tersebut.  Referensi ini dicari dari bank data yang tersimpan di dalam ingatan.  Sama seperti perpustakaan, buku-buku yang sering digunakan biasanya disimpan di bagian depan dan mudah diraih.  Sementara kitab yang jarang dilihat akan diletakkan di laci terbawah dan kadang tertumpuk oleh berkas-berkas baru. 

Kenangan akan luka pengasuhan menjadi sebuah referensi yang berada ditumpukan teratas dan paling mudah diakses karena bayangan kejadian itu sering diulang.  Peristiwa itu menjadi nyata dalam ingatan.  Ia menjadi referensi pertama yang dirujuk oleh pikiran pada saat kita berada dalam kondisi yang sama. 

Bayangan yang tersimpan adalah seorang ayah yang membentak anaknya pada saat anak itu tidak patuh.  Sehingga ketika sang anak yang kini menjadi ayah menemukan anaknya tidak patuh, maka tanpa sadar (karena proses pencarian referensi ini berlangsung sangat cepat) ia akan membentak anaknya. Ia hanya melakukan apa yang ada dalam referensi termudah yang bisa diaksesnya untuk situasi tersebut.  Hal inilah yang menyebabkan seorang ayah membentak anaknya meski ia sangat tidak ingin melakukannya.  Bagaimana agar hal ini tidak terjadi?  Bagaimana caranya agar luka pengasuhan di masa lalu tidak menimbulkan luka baru?

Luka pengasuhan terjadi di masa lalu.  Kita tidak akan pernah bisa kembali ke masa itu dan kita tidak perlu membawa luka itu ke masa kini. 

“Tapi lukanya masih ada, Bu Dian.”

“Ya, lukanya akan selalu basah jika kita terus menorehnya dengan kenangan pahit.  Namun lukanya juga bisa sembuh kalau kita mau.”

“Caranya, Bu?”

“Terima dan maafkan.  Terima bahwa kita pernah diperlakukan tidak adil.  Terima bahwa kita pernah tersakiti.  Terima semua kejadian yang menimpa kita di masa lalu.  Kemudian maafkan.  Maafkan orang-orang yang terlibat.  Maafkan juga diri sendiri jika kita ikut andil dalam kejadian itu.”

“Susah, Bu.”

“Kalau ada anak kecil yang menumpahkan air minum karena tangan mungilnya tidak cukup kuat mengangkat gelas, apakah dia akan dimarahi?”

“Nggak, dia kan masih kecil.”

“Dia dimaafkan meski telah membasahi lantai dan memecahkan gelas?”

“Ya, dia kan nggak sengaja.”

“Apa mungkin luka ini ada karena orang tua kita tidak sengaja?  Mungkin mereka belum tahu caranya mengasuh?  Mungkin mereka sedang menanggung beban yang berat?”

Air mata kembali mengalir, “Saya tidak berniat mencubit anak saya, Bu.  Saya tidak ingin menyakiti dia.  Saya tidak bisa menahan diri saya.  Ibu saya mungkin juga begitu ya, Bu?”

Saya mengangguk.  “Apakah kita bisa memaafkan Ibu?”

Giliran ia yang mengangguk.  “Saya tahu Ibu sebenarnya sayang sama saya.”

“In syaa Allah semua orang tua menyayangi anaknya.  Bila kita yakini itu, in syaa Allah kita akan lebih mudah untuk memaafkan.”

Dengan menerima dan memaafkan, kita secara perlahan akan menutup berkas kejadian tersebut.  Lama-lama ia akan menjadi masa lalu dalam arti yang sesungguhnya.  Peristiwa itu akan tersimpan di laci paling bawah dan tertumpuk oleh kenangan-kenangan manis yang sering kita ulang.  Dengan demikian ia tak lagi menjadi referensi perilaku di masa kini.  Tak lagi menganggu dalam relasi dengan si buah hati.  Bila kita berusaha, in syaa Allah luka itu akan sembuh. 

Mutiara, 1 Mei 2024
Dian L Izwar


“….Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?  Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

QS. An-Nur: 22


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *