Helm di Tangan
Hari Ahad kemarin saya pergi berbelanja keperluan bulanan. Dalam perjalanan pulang, di depan mobil kami ada seorang pengendara motor yang menarik perhatian saya. Ia tidak memakai helm seperti pengendara lainnya. Ini mungkin pemandangan yang biasa, sering juga saya temui pengendara motor tanpa helm di kepala mereka. Yang membuat pengendara ini unik adalah ia membawa sebuah helm yang digantungkan di lengan kirinya. Jadi, ia membawa helm saat berkendara tetapi tidak mengenakan alat pelindung kepala tersebut sebagaimana mestinya.
Tentu saja saya tidak bisa bertanya padanya mengapa ia melakukan tindakan tersebut. Sambil mengamati helm putih yang tergantung indah di lengan kiri lelaki muda itu, saya membayangkan apa yang ada di pikiran sang pengendara. Saya hanya bisa menduga-duga. Mungkin dia tidak tahu bahwa kewajiban menggunakan helm bukanlah sekedar peraturan tanpa dasar. Mungkin ia tidak sadar bahwa helm adalah alat proteksi. Mungkin ia tidak paham bahwa benda bulat itu dapat melindungi kepalanya apabila mengalami benturan. Helm dapat mencegah trauma yang lebih berat pada kepala pengendara saat terjadi kecelakaan, mungkin pengetahuan tentang ini belum sampai padanya. Mungkin ia hanya menggunakan helm karena takut pada polisi, takut ditilang. Jadi ia membawanya untuk berjaga-jaga kalau nanti ia bertemu polisi. Ah, ini baru barangkali. Saya tidak tahu alasan yang sesungguhnya. Tak baik juga menduga-duga. Jadi kita lupakan saja. Saya hanya ingin berterima kasih pada pemuda itu karena kehadirannya membuat saya merenung mengenai peraturan.
Sejatinya sebuah peraturan dibuat untuk kebaikan. Mengapa pihak otoritas harus repot-repot membuat sebuah peraturan – apalagi disertai sanksi apabila melanggar – jika tidak ada manfaatnya? Peraturan dibuat agar masyarakat terlindungi, agar setiap individu dapat merasa aman. Nah, informasi mengenai bentuk perlindungan ini yang tidak selamanya sampai pada kita secara utuh.
Terkadang kita hanya merasakan repotnya harus mengenakan masker di masa pandemi ini. Kita tidak terinformasi bahwa masker dapat mencegah seseorang menghirup virus yang mungkin ada di sekitarnya sekaligus mencegah penyebaran covid-19 apabila tanpa sadar virus tersebut telah ada dalam saluran nafasnya. Atau kita tidak paham bahwa virus penyebab pandemi ini akan mati apabila terkena sabun selama minimal 20 detik. Sehingga mencuci tangan untuk mencegah penularan virus corona ini perlu menggunakan sabun dan dilakukan dengan durasi yang sesuai.
Jika tujuan yang ingin dicapai dari sebuah aturan dipahami dengan baik, mungkin seorang bapak di swalayan tempat tadi saya belanja akan menggunakan sabun – bukan hanya sekedar membasahi tangannya dengan air – saat diminta mencuci tangan sebelum masuk ke toko swalayan tersebut. Satpam yang berjaga mungkin akan mengingatkan untuk menggunakan sabun dan tidak membiarkannya masuk jika belum melakukan prosedur cuci tangan sesuai standar. Barangkali kita juga akan berpikir lagi sebelum memutuskan untuk pergi berlibur atau mudik saat Lebaran nanti. Boleh jadi kita tergerak untuk mencari tahu tujuan dari sebuah larangan atau anjuran sehingga dapat memahaminya secara menyeluruh dan ringan hati dalam melaksanakannya. Wallahu a’lam.
Mutiara, 23 April 2021
Dian L Izwar
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
QS. Al-Isra ayat 36
