There is No Health without Mental Health
Pada acara pengambilan sumpah profesi psikolog klinis tanggal 30 Mei 2021 yang lalu, ketua Ikatan Psikolog Klinis Pusat, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si, Psikolog dalam sambutannya menyampaikan bahwa there is no physical health without mental health. Tidak ada kesehatan fisik tanpa kesehatan mental. Saat itu saya merasa bahwa kalimat ini sangat tepat disampaikan kepada para psikolog klinis mengingat mereka akan bekerja dengan orang-orang yang mengalami masalah kesehatan mental. Pesan ini akan mendorong semangat mereka untuk terus membantu para klien yang akan dihadapi kelak.
Saat seorang sahabat bercerita mengenai temannya yang terkonfirmasi positif covid-19 beberapa waktu yang lalu, kalimat “there is no physical health without mental health” ini kembali terngiang di telinga saya. Pasalnya, sahabat tersebut mengungkapkan bahwa sang teman sebenarnya mengalami gejala yang ringan. Ia hanya perlu isolasi mandiri di rumah. “Tapi dia down banget,” ujarnya. Kalimat yang menunjukkan bahwa secara mental dia sangat tidak sehat.
Banyak penelitian mengungkapkan hubungan antara sikap mental dan kondisi fisik. Kita tentu sudah paham bagaimana stres dapat memicu timbulnya penyakit maag, alergi atau asma. Di sisi lain, Anda juga mungkin pernah mendengar ada orang yang merasa dirinya sakit namun pada saat diperiksa secara medis, semuanya baik-baik saja. Secara fisik dia sehat namun ia merasa sesak napas, nyeri atau gejala fisik lainnya. Ia merasakan semua ini dalam pikirannya.
WHO mendefinisikan mental health sebagai a state of well-being in which the individual realizes his or her own abilities, can cope with the normal stresses of life, can work productively and fruitfully, and is able to make a contribution to his or her community.
Secara sederhana, kesehatan mental berkaitan dengan “perasaan yang ada dalam pikiran seseorang mengenai dirinya.” Kesehatan mental yang baik adalah perasaaan positif mengenai diri sendiri dan adanya rasa mampu untuk mengelola masalah yang mungkin terjadi. Perasaan mampu ini akan meningkatkan resiliensi (daya tahan menghadapi tekanan) yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan individu. Dengan kesehatan mental yang optimal, seseorang akan merasa lebih mampu mengatasi masalah yang dihadapinya.
Saat ini kasus covid-19 di Indonesia, khususnya di DKI Jakarta, meningkat dengan sangat cepat. Pada tanggal 8 Juli 2021 terdapat penambahan 38.124 kasus baru di Jakarta. Banyak teman dan sahabat yang terpapar. Saya merasa bahwa kesehatan mental menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Covid-19 saat ini lebih dari sekedar sakit fisik. Paparan informasi yang mengalir deras tak jarang menimbulkan kecemasan. Ditambah pula dengan kenyataan harus mengalami isolasi untuk menghindari penyebaran virus. Terpisah dari orang-orang yang dikasihi dapat menimbulkan stres tersendiri. Dibutuhkan kesehatan mental yang optimal untuk mengatasi semua ini.
Beberapa sahabat penyintas covid-19 bercerita bahwa penerimaan dan keinginan yang kuat untuk sembuh merupakan hal yang paling dibutuhkan untuk melewati masa-masa sulit ini. Kecemasan, pikiran-pikiran tentang kematian dan kesakitan yang parah justru dapat membuat seseorang yang sebenarnya baik-baik saja menjadi tidak baik keadaannya secara fisik.
Seorang rekan bercerita bahwa setelah hasil PCR-nya keluar dan ia dinyatakan positif covid-19, tiba-tiba ia merasa sesak dan sulit bernapas. Padahal sebelumnya ia ngotot mengatakan bahwa ia hanya flu biasa dan sebentar lagi juga akan sembuh. Begitu kuatnya pengaruh pikiran pada tubuh kita. Pada saat sang rekan diperiksa saturasi oksigennya, hasilnya menunjukkan masih dalam batas normal. Ia tak seharusnya merasa sesak dengan tingkat saturasi oksigen yang tertera. Pikirannya yang mengatakan bahwa ia sakit parah, sehingga tubuhnya mengolah informasi tersebut sebagai rasa sesak dan sulit bernapas. Setelah mengetahui bahwa saturasi oksigennya masih dalam batas normal, ia dapat kembali bernapas seperti biasa.
Kembali pada kasus teman yang down saat mengetahui ia terpapar, Anda tentunya sudah dapat menduga bahwa proses menuju sembuhnya akan lebih lama dan lebih sulit dibandingkan dengan teman yang menerima kenyataan bahwa ia sedang sakit dan berusaha kuat untuk sembuh. Sahabat lain bercerita bahwa selama dirawat di rumah sakit ia sama sekali tidak menghidupkan televisi dan hanya sesekali membuka pesan di ponsel, sekedar memberi kabar pada keluarga bahwa ia baik-baik saja. Saat isolasi benar-benar digunakannya untuk istirahat dan memulihkan diri. Ia juga tidak merasa sedih harus berada sendirian karena ia memahami bahwa ini adalah cara terbaik untuk sembuh dan menghindari orang lain terpapar. Alhamdulillah dalam 5 hari ia sembuh dan boleh pulang. Ini adalah dua contoh kasus bagaimana pikiran dapat “mengubah” status kesehatan fisik seseorang. Gejala fisik yang ringan dapat terasa berat dan sebaliknya gejala fisik yang berat dapat lebih cepat membaik dengan penerimaan dan pikiran yang positif.
Dengan memahami bahwa kesehatan mental yang baik mempunyai pengaruh terhadap kesehatan fisik, in syaa Allah kita dapat melalui masa-masa sulit ini dengan lebih tenang. Bukankah tugas kita berusaha? Setelah usaha dan doa, kita serahkan hasilnya pada yang Maha Kuasa. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala segera mengangkat pandemi ini dan senantiasa memberi hidayah serta perlindunganNya pada kita semua.
Mutiara, 10 Juli 2021
Dian L Izwar
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya apabila ia memohon kepada- Ku.”
(HR Muslim)
