Identitas

Awal Oktober 13 tahun yang lalu, saya menghadiri sebuah kongres di Afrika.  Saya senang mengenakan busana batik pada acara-acara formal seperti ini. 

Pagi itu, saat saya berada di dalam lift, seorang wanita tersenyum dan menyapa ramah, “Are you from Indonesia?” 

Saya mengangguk.  Senang rasanya dikenali, tapi dia tahu dari mana?  Saya belum mengenakan tanda pengenal.

“I notice your dress.” Kurang lebih demikian ujarnya seakan menjawab pertanyaan saya.

“Oh, ya.  This is batik.”

“Yeah, we’re neighbors,” ujarnya dengan nada hangat, “I’m from Philippine.”

Lalu kami berbincang dan saling memberi nomor telepon dan alamat email.

Hari ini, bertepatan dengan Hari Batik Nasional, peristiwa itu kembali ke ruang ingatan saya.  Menyenangkan mendapatkan teman yang mengaku tetangga saat kita berada di lain benua.  Sesama warga Asia Tenggara rasanya seperti saudara saat bertemu di Afrika.    Pertemuan kami memang terjadi beberapa hari setelah UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya takbenda dari Indonesia.  Saat itu batik sedang menjadi sorotan.  Ia mengenali saya dari baju batik yang saya kenakan.  Batik menjadi identitas yang membuat saya dikenali sebagai warga Indonesia.

Tadi siang, saya dan suami menghadiri undangan pernikahan salah seorang kolega suami.  Kami mengenakan busana dengan motif yang kurang lebih sama.  Sarimbit, kata orang Jawa.  Sarimbit berarti satu pasang.  Baju kembar yang biasanya dikenakan oleh suami istri disebut sarimbit.  Pada pesta pernikahan tersebut, kami bertemu dengan teman-teman suami yang tidak saya kenal.  Namun mereka segera mengenali saya sebagai istri dari koleganya.  Kenapa?  Karena saya dan suami berbusana sarimbit.  Sekali lagi, identitas saya dikenali dari busana.

Apa yang kita kenakan sejatinya memang dapat menjadi identitas.  Ia menjadi ciri khusus dari diri kita yang tertangkap oleh orang lain.  Hal ini akan mempengaruhi bagaimana mereka bersikap dan bereaksi terhadap kita.  Busana tertentu dapat menimbulkan kesan tertentu pula.  Tinggal kita yang menentukan, identitas apa yang akan kita tampilkan.

Mutiara, 2 Oktober 2022

Dian L Izwar


Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan bulu (sebagai bahan pakaian untuk menghias diri). (Akan tetapi) pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu merupakan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Allah agar mereka selalu ingat.

Al-A’raf: 26


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *