5 Relations in Human Life

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia akan selalu berinteraksi dengan lingkungan dan dirinya sendiri.  Secara sederhana interaksi ini dapat dikelompokkan menjadi 5 kategori, yaitu hubungan manusia dengan Allah, diri sendiri, alam, orang lain dan benda-benda buatan manusia.  Pola relasi yang tepat dengan kelima hal tersebut akan membawa manusia pada kebaikan dan kesehatan mental yang lebih baik pula.  Pola relasi yang ideal adalah sebagai berikut.

Relasi dengan Allah: Ibadah (mengabdi)

Dalam hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala, tugas manusia adalah beribadah.  Ibadah berasal dari kata abdu yang artinya hamba.  Fitrah manusia adalah menghamba kepada Allah, memujaNya, mengabdi kepada Sang Pencipta dan menyembah hanya Allah semata.  Aktivitas ritual seperti shalat, puasa, haji dan zakat adalah bentuk ibadah.  Namun ibadah tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat ritual saja.  Dengan selalu mengingat Allah dan meniatkan apa pun yang kita lakukan sebagai bentuk pengabdian pada Allah, maka setiap hal yang kita kerjakan in syaa Allah akan bernilai ibadah. 

Relasi dengan Diri Sendiri: Tazkia (menyucikan)

Manusia terlahir dalam keadaan suci. Tugas manusia terhadap dirinya adalah mempertahankan kesucian ini sehingga ia dapat bertemu kembali dengan Allah dalam keadaan suci.  Kita tahu bahwa manusia mempunyai potensi untuk melakukan kesalahan, Allah memberikan jalan keluar dari keadaan ini dengan bertobat.  Pada saat manusia benar-benar bertobat, maka in syaa Allah ia akan suci kembali.  Memohon ampunan Allah dan bertobat dengan sungguh-sungguh merupakan bagian dari tazkia yang berarti membersihkan dan menyucikan.

Di samping itu, Tazkia juga bermakna mengembangkan dan meningkatkan.  Manusia perlu untuk selalu mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan.  Manusia mempunyai tugas untuk belajar sepanjang hayatnya.  Pertambahan pengetahuan dan kemampuan ini hendaknya makin mendekatkan manusia kepada Allah subhanahu wa ta’ala.  In syaa Allah.

Relasi dengan Alam: Imara (mengelola)

Alam menyediakan segala kebutuhan manusia.  Tugas manusia adalah mengelola alam secara optimal. Manusia perlu mengatur alam sedemikian rupa agar kebutuhannya tercukupi dan keseimbangan alam tetap terjaga.  Manusia wajib mempertahankan sumber daya alam agar tetap lestari, merawat alam untuk keperluan manusia saat ini dan anak cucunya nanti.  Mengeksploitasi alam bertentangan dengan tugas manusia sebagai imara. 

Relasi dengan Orang Lain: Ikhtilaf (menghargai perbedaan)

Setiap manusia adalah unik.  Manusia perlu menyadari bahwa dirinya berbeda dengan orang lain.  Perbedaan ini akan memperkaya manusia melalui kolaborasinya dengan sesama.  Perbedaan membuat setiap manusia mengambil peran yang berbeda dalam kehidupan dan saling melengkapi.  Adanya profesi dokter, psikolog, guru, pedagang, arsitek, tentara, tukang bagunan, supir dan beragam profesi lainnya menunjukkan adanya perbedaan kemampuan dan minat pada setiap orang.  Perbedaan ini membuat manusia saling mengisi dan membangun peradaban.  Allah menciptakan manusia berbeda agar kita dapat saling bekerja sama dan berbagi peran.   

Relasi dengan Benda Buatan Manusia: Istikhdam (memanfaatkan)

Apa pun yang diciptakan manusia tentunya bertujuan untuk membantu manusia menjalani kehidupan.  Benda-benda dibuat untuk melayani manusia dan bukan sebaliknya.  Teknologi, misalnya, dikembangkan untuk memudahkan manusia dalam berbagai hal.  Memanfaatkan teknologi membuat hidup lebih sejahtera.  Dibalik kemudahan ini, ada tantangan besar untuk tetap menjadikan teknologi sebagai “pelayan” manusia.  Pada saat manusia melupakan hal ini, maka teknologi bisa berubah peran menjadi “tuan”.  Salah satu contoh dari perubahan fungsi ini adalah adiksi.  Kecanduan pada gawai menggambarkan perubahan peran gawai dari “pelayan” menjadi “tuan” bagi manusia.  Manusia tidak lagi memiliki kontrol penuh terhadap penggunaan gawai tetapi “diatur” oleh kecanduannya terhadap gawai tersebut.  Demikian pula dengan adiksi lain seperti rokok, minuman atau pornografi.  Salah satu upaya untuk mengembalikan posisi benda-benda buatan sebagai pelayan manusia adalah dengan bertazkia. 

Wallahu a’lam.

Mutiara, 9 Maret 2022

Dian L Izwar

#Refleksi kuliah sesi kedelapan “The 126-hour program on Islamic Psychology as the science of human soul, cognition, emotion and behavior”.  Ahad, 6 Maret 2022, 20.00-22.00 WIB oleh Dr. Bagus Riyono, MA, Psikolog

Bahan bacaan: Cowan, J.M., Hans Wehr A Dictionary of Modern Arabic, 4th edition, Spoken Language Services Inc., Urbana, Illinois.


“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

QS. Az-Zariyat: 56


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *