Human as Khalifah and Abdullah

Mengapa manusia diturunkan ke bumi?  Untuk apa kita ada di dunia?  Jawaban dari pertanyaan ini merupakan hal penting yang menentukan arah hidup seseorang.  Memahami tujuan hidup akan membuat kita lebih bersemangat menjalani kehidupan.

Kerangka kerja dasar mengenai tujuan keberadaan manusia di bumi adalah sebagai khalifah dan abdullah.  Dua hal yang sekilas tampak bertentangan tapi sesungguhnya saling melengkapi dan memberikan keseimbangan dalam diri manusia.

Khalifah

Khalifah secara bahasa berarti pengganti, seseorang yang ditunjuk untuk menggantikan pelaksanaan sebuah tugas atau bisa juga berarti penguasa.  Manusia dijadikan penguasa dan bertanggung jawab untuk mengelola alam serta mengatur hal-hal yang berkenaan dengan kelangsungan kehidupannya di bumi.  Sebuah amanat yang berat.  Namun sebagai makhluk yang dikaruniai akal, manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan hal ini, in syaa Allah. 

Abdullah

Abdu berarti hamba.  Abdullah bermakna seseorang yang mengabdikan dirinya pada Allah.  Manusia adalah pelayan Allah.  Dengan demikian peran manusia sebagai khalifah di bumi bertujuan untuk menjalankan tugas yang telah diamanatkan padanya.  Sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, tugas tersebut adalah beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Atribut manusia sebagai khalifah dan abdullah ini harus dilakukan secara bersamaan dalam satu kesatuan peran, pada saat menjadi khalifah manusia juga menjadi abdullah.  Selaku khalifah manusia tidaklah bebas mengelola bumi sesukanya melainkan harus tunduk pada hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah mengingat manusia juga merupakan abdullah.  Di sisi lain, manusia juga tidak diharapkan untuk hanya memuja Allah tanpa berperan aktif dalam menghadapi setiap tantangan di muka bumi karena peran sebagai khalifah menuntutnya untuk mampu mengelola diri dan lingkungannya.  Agar dapat menjalankan amanat yang besar ini, manusia perlu mengenal Allah dan memahami aturan-aturanNya. 

Renungan saya dalam konteks keseharian sebagai psikolog klinis, kapasitas sebagai khalifah membuat kita mampu memahami sebuah gejala, menegakkan diagnosis dan memberikan terapi pada klien.  Namun sebagai seorang hamba, kita perlu menyadari bahwa semua itu hanya dapat terjadi dengan izin Allah.  Keberhasilan dari sebuah proses konseling dan terapi merupakan kombinasi dari upaya maksimal kita sebagai khalifah dan ketundukan kita sebagai abdullah. 

Saya teringat almarhum paman, beliau seorang dokter.  Praktik beliau sangat ramai.  Pasien-pasien datang dari jauh, bahkan luar kota.   Satu kalimat beliau yang sangat berkesan bagi saya saat kami berbicara mengenai profesi dokter dan psikolog adalah:

“Saat mengobati pasien, doakan juga mereka.  Semoga Allah menyembuhkannya.”

Saya merasa ini adalah salah satu contoh konsep khalifah dan abdullah yang beliau terapkan dalam menjalani profesinya.  Wallahu a’lam.

Mutiara, 8 Maret 2022

Dian L Izwar

#Refleksi kuliah sesi kedelapan “The 126-hour program on Islamic Psychology as the science of human soul, cognition, emotion and behavior”.  Ahad, 6 Maret 2022, 20.00-22.00 WIB oleh Dr. Bagus Riyono, MA, Psikolog

Bahan bacaan: Cowan, J.M., Hans Wehr A Dictionary of Modern Arabic, 4th edition, Spoken Language Services Inc., Urbana, Illinois.


“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

QS. Az-Zariyat: 56

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *