Bisa Apa di Surga?
Beberapa hari yang lalu saya berkisah mengenai Nabi Adam. Gadis kecil di hadapan saya menyimak dengan serius. Ia sangat suka mendengarkan cerita.
“Nabi Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah. Beliau tinggal di surga. Karena digoda oleh Iblis, Nabi Adam melanggar larangan Allah. Saat menyadari kesalahannya, Nabi Adam memohon ampunan. Allah Yang Maha Penyayang memaafkan Nabi Adam. Namun karena telah berbuat salah, Nabi Adam diturunkan dulu sementara ke bumi.” Saya berhenti sesaat, lalu melanjutkan dengan nada jenaka. “Turun deh Nabi Adam ke bumi.”
Pendengar cerita saya tersenyum. Ia senang mendengar penekanan-penekanan kecil yang saya lakukan saat bercerita. Terkadang saya bertanya mengenai kemiripan kejadian dalam cerita dengan pengalamannya atau membuat gerakan-gerakan dari kalimat yang sedang disampaikan. Dengan aktivitas ini ia menjadi terlibat dan kegiatan bercerita bertambah seru.
“Di bumi, Nabi Adam mempunyai anak, cucu, cicit dan terus berkembang sampai ke kakek nenek kita. Itulah sebabnya mengapa kita sekarang berada di dunia. Jika selama hidup di dunia kita mengikuti semua perintah Allah dan melakukan kebaikan maka in syaa Allah kita akan kembali lagi ke surga karena asal manusia adalah dari surga.” Demikian saya menutup cerita, bersiap menanti pertanyaan.
Sejurus kemudian suara bening menyapa gendang telinga.
“Surga itu seperti apa, Bunda?”
“Surga itu tempat yang indah sekali. Di sana ada pohon-pohon yang buahnya gampang dipetik. Jadi kalau Kakak mau makan buah, tinggal ambil. Buahnya datang ke arah kita.” Saya menggerakkan tangan seolah-olah sebuah jeruk mendekat pada kami. Ia tertawa senang.
“Di surga kita bisa melakukan apa yang kita mau. Semua disediakan.” Saya berusaha memberikan gambaran dengan bahasa yang dapat dipahami anak pra sekolah.
Bidadari saya terdiam sejenak. Mungkin ia sedang membayangkan surga.
“Di surga bisa petik bunga?” tanyanya dengan wajah polos.
Saya tersenyum. Rupanya ia sedang memikirkan apa saja hal yang bisa dilakukan di surga. Memetik bunga kembang sepatu yang mekar di depan rumah adalah salah satu kegiatan yang disukai oleh murid taman kanak-kanak ini. Ia akan mengawali aktivitas jalan pagi kami dengan memetik bunga berwarna merah muda tersebut.
“Bisa.”
“Bisa baca buku?” tanyanya lagi.
“Bisa!” saya menjawab dengan bersemangat.
Si Cantik yang baru mulai bisa membaca ini memang senang sekali pada buku. Ia kerap meminta saya membacakan buku untuknya. Saat ini ia sudah bisa membaca rangkaian kalimat pendek. Gadis kecil ini akan memilih sebuah cerita dari buku, membaca judulnya, kemudian tugas saya adalah membacakan isi ceritanya. Aktivitas ini sangat mengasyikkan baginya. Satu cerita selesai, lanjut cerita berikutnya, demikian seterusnya hingga terkadang empat cerita pendek kami nikmati bersama dalam satu kesempatan membaca buku.
“Bisa ngepel?”
Saya tidak menduga ia akan mengajukan pertanyaan ini. Ternyata mengepel adalah salah satu kegiatan yang disukainya juga. Memang sejak usia 2 tahun ia sudah membantu saya mendorong-dorong tongkat pel ke sekeliling rumah.
“Bisa. Kalau Kakak mau ngepel bisa. Tapi di surga kayaknya kita nggak perlu ngepel.”
“Karena sudah bersih ya, Bunda?” ia menyimpulkan sendiri.
“Iya.” Saya menjawab disertai senyuman.
“Kakak mau masuk surga?”
“Mau!” jawabnya antusias.
“Caranya bagaimana?”
“Sayang sama Allah, shalat dan mengaji.”
“Pintar,” saya memberinya kecupan. “Sayang sama Allah, rajin shalat, mengaji dan….”
“Baik hati,” sambungnya.
“Betul. In syaa Allah nanti kita berkumpul lagi di surga. Nanti di surga, Kakak cari Bunda ya,”
Bidadari cantik itu mengangguk disertai senyum manis.
Bercerita atau membacakan cerita adalah salah satu aktivitas yang sangat baik untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak. Biarkan anak berimajinasi mengenai cerita yang sedang didengarnya. Bisa jadi ia hanya tertarik pada satu hal kecil dalam sebuah cerita, ini boleh-boleh saja. Tidak selalu anak akan fokus pada tokoh utama atau inti cerita. Dalam kisah di atas, gadis kecil saya tertarik pada surga. Pertanyaan yang ia ajukan menunjukkan arah minatnya.
Komentar dan pertanyaan anak dapat menjadi acuan bagi kita untuk memahami daya tangkap, minat dan hal-hal yang berkesan bagi anak dari sebuah cerita. Bisa juga untuk menggali lebih jauh mengenai apa yang penting dan disukainya. Saya baru tahu bahwa mengepel adalah salah satu hal yang disukai oleh si Cantik kami, setara dengan kegemarannya memetik bunga dan membaca buku.
Pada dasarnya kita dapat membacakan cerita apa saja pada anak. Namun saya senang memulai aktivitas ini dengan cerita-cerita dari Alquran. In syaa Allah ini akan membuat mereka makin dekat dengan Al-Kalam. Saya berharap saat kelak gadis kecil saya telah bisa membaca dan memahami Alquran, akan terbentuk koneksi antara apa yang dibacanya dengan cerita-cerita yang didengarnya sewaktu kecil. Semoga ini akan menjadi pedomannya untuk melangkah menuju surga. In syaa Allah.
Mutiara, 25 April 2022
Dian L Izwar
Semua kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu (Nabi Muhammad), yaitu kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu. Di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang-orang mukmin
QS. Hud: 120
