Sensing Mentality

Jiwa adalah bagian terpenting dalam kesejahteraan mental seseorang.  Jiwa terdiri dari 4 lapisan dengan fungsi yang berbeda namun saling terkait.  Seseorang dikatakan sehat mental apabila keempat lapisan jiwanya berfungsi secara optimal.  Sensasi yang dirasakan tubuh di lapisan sensing diteruskan ke lapisan reasoning untuk dimaknai dan dilanjutkan ke lapisan empathy dalam kaitannya dengan individu lain serta diolah sebagai sebuah pesan yang makin mendekatkan kita pada Sang Pencipta di lapisan conscience.  Dengan demikian, sejatinya setiap pengalaman akan mengingatkan dan mendekatkan kita pada Allah subhana wa ta’ala.  Namun tidak selamanya jiwa kita berada dalam kondisi optimal ini. 

Ada kalanya apa yang dirasakan tubuh berhenti di lapisan sensing.  Pengalaman-pengalaman tersebut tidak diteruskan ke lapisan selanjutnya.  Keadaan ini disebut sensing mentality, yaitu keadaan mental individu di saat hanya lapisan sensing saja yang bekerja. 

Sensing mentality merupakan sebuah keadaan yang perlu diwaspadai.  Ia dapat menyebabkan seseorang mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang ia ketahui melalui inderanya saja.  Perhatiannya terpusat di sini pada saat ini, tidak ada konsiderasi lebih lanjut mengenai konsekuensi logis dari tindakan yang diambil, relasinya dengan sesama dan kehendak Sang Pencipta. 

Kita ketahui bahwa lapisan sensing bertugas merasakan sensasi yang dialami tubuh.  Sensasi ini bersifat superfisial dan sementara.  Dapat kita bayangkan bagaimana sifat tindakan yang dilakukan seseorang saat ia hanya bersandar pada sensing.  Sebuah perilaku yang didasari semata-mata oleh hal yang membangkitkan rasa atau sekedar menggugah sensasi.   Tidak ada penalaran dalam tindakan tersebut, apalagi memikirkan orang lain dan norma dari Yang Maha Mengetahui. 

Sensing mentality tidak terjadi dengan tiba-tiba.  Proses menuju sensing mentality berlangsung secara bertahap di dalam jiwa seseorang.  Terkadang hal ini tidak disadari oleh yang bersangkutan.  Orang lain pun tidak dapat melihat proses melemahnya kesehatan mental ini sampai ia muncul dalam bentuk perilaku yang menimbulkan tanya.  “Kok bisa dia melakukan hal itu?”  “Bagaimana mungkin dia bersikap seperti itu?” 

Individu dengan sensing mentality tahap awal dapat tampil seperti individu lainnya yang sehat mental, tapi ia merasakan kekosongan dalam dirinya.  Ada bagian hampa yang tak dapat diisi dengan apa pun yang ia kerjakan.  Ini terjadi karena lapisan conscience di dalam jiwanya meredup.  Ia menjalani kehidupan tanpa mengingat untuk apa sebenarnya ia hidup, hanya mengikuti arus dan mencari hal-hal yang menyenangkan untuk memuaskan kebutuhannya akan sensasi.  Ia berusaha mengisi ruang hampa dalam dirinya dengan sebanyak mungkin sensasi karena yang dominan bekerja dalam jiwanya adalah lapisan sensing.  Ini seperti lingkaran sebab akibat yang tak berkesudahan, semakin ia fokus hanya pada sensing, semakin jauh ia dari conscience.  Semakin jauh dari conscience, kehampaan dalam dirinya bertambah dan ia kembali mencari sensasi.  Seseorang yang secara fisik tampak sehat, memiliki keluarga yang baik, karir yang bagus dan harta yang cukup tapi merasakan kegelisahan dalam dirinya bisa jadi mengalami conscience yang meredup.  Ia punya segalanya tetapi merasa hidupnya hampa.  Ia jauh dari bahagia karena ia jauh dari Sang Pemilik Hidup.

Conscience yang redup sangat berbahaya.  Conscience bagaikan energi bagi lapisan lainnya.  Jika lemahnya hubungan seseorang dengan Sang Pencipta tidak segera diatasi maka kegelapan conscience akan mengimbas pada emphaty dan reasoning.  Kedua lapisan jiwa ini juga tidak akan berfungsi optimal.  Saat seseorang kehilangan koneksi dengan Allah, orientasi perilakunya cenderung hanya bersifat duniawi.  Proses pengambilan keputusan dan bagaimana ia berelasi dengan orang lain tidak dikaitkan dengan keberadaannya di dunia sebagai hamba Allah.  Sifat dunia yang fana membuat apa yang dilakukannya juga berdampak sementara, tak mampu memberikan ketenangan bagi jiwanya. 

Melemahnya empathy adalah tahap berikutnya dari sensing mentality.  Pada tahap ini, jiwa seseorang tidak lagi terkoneksi dengan jiwa lainnya.  Ia tidak menganggap pribadi lain setara.  Saat berada dalam keadaan mental ini, individu hanya fokus pada kebutuhan dirinya sendiri.  Orang di luar dirinya dipandang sebagai obyek, seolah mereka tak memiliki perasaan, kebutuhan dan pengalaman.  Penggunaan kata-kata kasar atau sikap yang merendahkan orang lain adalah beberapa hal yang dapat dirasakan oleh lingkungan sekitar.  Perundungan merupakan salah satu contoh melemahnya empathy.  Perundung secara sengaja terus menerus mengusik, mengganggu dan menyusahkan seseorang.  Seakan orang tersebut tidak memiliki kedudukan yang setara dengannya sebagai hamba Allah.  Lebih jauh, saat kehilangan emphathy seseorang bisa saja melakukan perbuatan yang kejam pada sesama.  Ia dapat berubah menjadi sadis.  Hal ini disebabkan oleh sirnanya rasa belas kasihan dari dalam jiwa karena Emphaty bertanggung jawab terhadap pengelolaan emosi dalam diri seseorang. 

Tahap lanjutan dari sensing mentality adalah hilangnya reasoning.  Pada keadaan ini, seseorang tidak lagi memikirkan konsekuensi dari tindakannya.  Terkadang ia bahkan tidak memikirkan alasan maupun tujuan dari perilakunya.  Pengalaman yang diindera tubuh tidak diolah di lapisan reasoning tapi berhenti di tahap sensing. 

Salah satu contoh perilaku tanpa reasoning adalah menyebar hoaks di media sosial.  Pelaku tidak memikirkan konsekuensi jangka panjang dari tindakannya.  Ia hanya menikmati reaksi orang-orang yang mempercayai berita tersebut.  Pada tahap yang lebih ekstrem, seseorang dapat melakukan tindakan yang sulit dipahami dengan logika jernih.  Di situasi ini, manusia kehilangan identitas utamanya sebagai makhluk berakal.  Memilih kematian sebagai jalan keluar dari kesulitan dapat menjadi salah satu contoh.  Si pelaku lupa bahwa dunia hanyalah persinggahan dan kehidupan abadi justru dimulai setelah kematian.  Ia tak mampu lagi memikirkan akibat dari pilihan perilakunya. 

Tindakan terbaik untuk mengatasi sensing mentality adalah mencegahnya.  Secara sadar kita perlu mengoptimalkan fungsi setiap lapisan jiwa.  Promotif dan preventif adalah dua kata yang semakin akrab dengan pikiran saya.  Terkadang kita memerlukan bantuan orang lain untuk mengingatkan dan membawa kita kembali pada kejernihan hati.  Saya merasa inilah pentingnya berada di lingkungan yang kondusif dan mempunyai sahabat-sahabat yang baik.  Pada kasus yang lebih berat, kita perlu bantuan ahli.  Secara umum, tazkia dapat kita lakukan sebagai upaya preventif, promotif dan kuratif terhadap keadaan jiwa sesuai dengan fungsinya untuk membersihkan dan mengembangkan jiwa.  Wallahu alam.

Mutiara, 27 Maret 2022

Dian L Izwar

#Refleksi kuliah sesi ke-12 “The 126-hour program on Islamic Psychology as the science of human soul, cognition, emotion and behavior”.  Ahad, 20 Maret 2022, 20.00-22.00 WIB oleh Dr. Bagus Riyono, MA, Psikolog

Bahan Bacaan:
Riyono B. Sensing Mentality and the Cognitive-Spiritual Intervention. Minbar. Islamic Studies. 2019;12(4):1091-1106.
https://www.minbar.su/jour/article/view/702?locale=en_US


“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”

QS. Al-Hasyr: 19


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

2 thoughts on “Sensing Mentality”

  • April 29, 2022 at 11:47
    Permalink

    Masya Allah…
    Jazakillah Khair ilmu & pencerahannya mbak Dian. Semoga Allah selalu berikan keberkahan ilmu & selalu bermanfaat untuk orang di sekitar.

    Reply
    • May 1, 2022 at 05:55
      Permalink

      Aamiin.. Ya Rabb..
      Wa jazakillahu khairan, Mbak Nonon..

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *