The Treatment of Sensing Mentality
Jiwa manusia terdiri dari 4 lapisan. Pada jiwa yang sehat, ke-4 lapisan ini akan bekerja dengan optimal. Sensasi yang dialami tubuh akan diinderai di lapisan sensing. Selanjutnya diolah lebih dalam dan diberi makna oleh lapisan reasoning. Lalu dikaitkan dengan keberadaan orang lain pada lapisan empathy. Semua hal ini kemudian diresapi sebagai sebuah pengalaman yang mendekatkan diri pada Sang Pencipta melalui lapisan conscience.
Adakalanya, sensasi yang dialami tubuh hanya berhenti pada lapisan terluar, yaitu sensing. Informasi yang ada di sensing tidak diolah lebih lanjut pada lapisan berikutnya. Inilah yang disebut sebagai sensing mentality, sebuah keadaan mental individu di saat hanya lapisan sensing saja yang aktif dan mendominasi jiwa seseorang.
Sensing mentality bukanlah sebuah kondisi ideal. Pada keadaan ini tindakan diambil hanya disandarkan pada apa yang diketahui melalui indera tanpa pertimbangan lebih lanjut mengenai tujuan, alasan dan konsekuensi logis dari perilaku tersebut. Tidak pula memikirkan relasi dengan sesama dan kehendak Sang Pencipta. Tentu saja bentuk perilaku yang tampil jauh dari perilaku sehat. Tindakan dan atau keputusan tidak sehat ini dapat terasa sebagai sebuah ketidaknyamanan oleh yang bersangkutan tetapi bisa juga tidak disadari. Namun keadaan ini tidak bersifat permanen. Setiap orang pada dasarnya selalu dapat kembali pada keadaan jiwa yang sehat.
Mengingat aktivitas jiwa pada individu dengan sensing mentality didominasi oleh lapisan sensing, maka tatalaksana menuju kesehatan mental adalah secara sadar mengaktifkan kembali ke tiga lapisan lainnya. Dengan demikian ada 3 cara untuk mengatasi sensing mentality, yaitu: menguatkan kemampuan berpikir, melembutkan hati dan memurnikan nurani.
Strengthen the Reason
Langkah pertama mengatasi sensing mentality adalah dengan menguatkan kemampuan berpikir. Hal ini bertujuan untuk mengaktifkan kembali lapisan reasoning. Dengan aktifnya lapisan reasoning, diharapkan informasi dari sensing akan diolah lebih dahulu di lapisan ini sebelum muncul sebagai sebuah tindakan.
Aktivasi kemampuan berpikir ini dapat dilakukan dengan senantiasa mengajukan beberapa pertanyaan sebelum memulai sebuah tindakan, baik itu bicara, menulis, melangkah, makan atau pun perilaku lainnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:
“Apa tujuan saya melakukan ini?”
“Apa alasan saya melakukan ini”
“Apakah tindakan saya ini benar?”
“Apakah tindakan ini bermafaat?”
“Apa konsekuensi dari tindakan ini?”
“Apa dampaknya bagi semua pihak yang terlibat?”
Kebiasaan memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini akan mengerem keinginan untuk langsung berespon terhadap setiap sensasi yang dirasakan sensing. Proses berpikir akan membuat seseorang lebih cermat menganalisa sebuah pengalaman sebelum sampai pada sebuah keputusan untuk bertindak. Tentu saja hal ini memerlukan latihan. Semakin sering seseorang melakukan proses ini, maka akan semakin aktif pula lapisan reasoning.
Latihan sederhana untuk melakukan ini adalah dengan membaca ulang pesan singkat sebelum mengirimkannya. Setelah mengetik, jangan langsung menekan tombol kirim tapi baca lagi pesan yang telah ditulis. Kemudian tanyakan: apa tujuan saya menuliskan ini? Apakah yang saya tuliskan ini benar? Apa manfaat tulisan ini bagi si penerima pesan? Apa dampak pesan ini jika saya kirimkan? Pada saat melakukan hal ini, terkadang kita akan mengubah kalimat dalam pesan tersebut atau bahkan tidak jadi mengirimkan pesan atau menundanya. Ini adalah salah satu tanda bahwa lapisan reasoning mulai bekerja. Apabila pesan tersebut tetap dikirimkan, in syaa Allah itu adalah pesan yang bermanfaat dan berdampak positif karena telah melewati evaluasi dari reasoning.
Touch the Heart
Langkah berikutnya untuk mengatasi sensing mentality adalah melembutkan hati. Tujuannya adalah untuk mengaktifkan lapisan empathy, membuat jiwa kita kembali terkoneksi dengan jiwa lainnya. Hal ini akan membuat kita mempertimbangkan orang lain dalam keputusan-keputusan yang kita ambil.
Memberi adalah latihan yang paling mudah untuk menumbuhkan empati. Berlatihlah untuk berbagi. Berikan sesuatu yang berharga bagi orang lain dan tangkap getaran emosi yang ada pada proses tersebut.
Agar latihan ini optimal, kita perlu memberikan sesuatu yang memang dibutuhkan oleh si penerima. Akan berbeda rasanya pada saat kita memberikan hadiah yang sama untuk semua orang dengan hadiah yang sesuai dengan keinginan atau kebutuhan masing-masing orang. Kita perlu mengenali orang yang akan kita beri hadiah. Saya mengenal seorang teman yang rajin mengucapkan selamat pada anggota grup media sosial yang sedang berulang tahun. Yang unik adalah ucapan selamat dan doa itu berbeda untuk setiap orang dan sesuai dengan karakter mereka masing-masing. Dia mengenali teman-temannya dengan baik.
Latihan lain adalah mengalami, melakukan sesuatu untuk dapat merasakan pengalaman seseorang. Puasa merupakan salah satu cara melembutkan hati. Merasakan tidak bisa makan akan membuat kita lebih peka pada mereka yang memang tidak bisa makan meskipun sedang tidak berpuasa.
Purify the Conscience
Langkah terakhir dan paling penting dalam mengatasi sensing mentality adalah memurnikan nurani. Semua manusia lahir dalam keadaan suci. Fitrah manusia pada dasarnya sama tapi dinamika jiwa membawa masing-masing orang ke arah yang berbeda. Individu dengan sensing mentality umumnya jauh dari Rabbnya, bahkan terkadang melupakan Sang Pencipta. Untuk mengaktifkan lapisan conscience kita perlu membangun kembali hubungan jiwa kita dengan Allah subhanu wa ta’ala.
Menemukan tujuan hakiki dari hidup merupakan salah satu langkah menuju kedekatan dengan Sang Pemilik Hidup. Kita berada di dunia untuk mempersiapkan diri agar kelak dapat kembali pada Allah dalam keadaan yang terbaik. Kehidupan yang sebenarnya bukanlah di dunia ini tetapi di akhirat nanti. Orientasi pada kehidupan yang abadi akan membuat kita tidak lagi mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi. Dengan demikian pengalaman-pengalaman di setiap lapisan jiwa akan dimaknai sebagai sebuah pelajaran yang mengingatkan pada hari akhir dan Yang Maha Mengawasi. Terkadang butuh waktu untuk sampai pada keyakinan ini. Bisa jadi nurani kita telah lama tertutupi oleh hal-hal yang tidak semestinya ada di sana.
Langkah praktis yang sering saya rekomendasikan pada klien adalah membaca Alquran. Bacalah kitab mulia ini setiap hari. Baca seberapa mampu, minimal 10 menit. Terbata-bata tak masalah, tak mengerti artinya tak masalah, yang penting rutin membaca. Dengan interaksi yang intens, cahaya Alquran in syaa Allah akan menyinari jiwa dan menggerakkan hati untuk lebih dekat padaNya.
Saat membuat tulisan ini, saya merasa bahwa Ramadan adalah momen yang sangat tepat untuk mengatasi sensing mentality. Ramadan dengan segala aktivitas di dalamnya menyentuh seluruh lapisan jiwa, memurnikan nurani dan mendekatkan kita pada Sang Maha Pengasih. Betapa sayangnya Allah pada hambaNya. Bagaimana pun keadaan jiwa kita, Allah menghadirkan Ramadan untuk membawa hambaNya pada keadaan yang lebih baik. Syawal yang hadir setelah Ramadan selayaknya memang bermakna meningkatnya ketakwaan dan kesehatan mental.
Selamat menjelang hari yang fitri, Sahabat. Semoga kita menjadi hambaNya yang lebih takwa.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Mutiara, 29 April 2022 M/27 Ramadan 1443 H
Dian L Izwar
#Refleksi kuliah sesi ke-12 “The 126-hour program on Islamic Psychology as the science of human soul, cognition, emotion and behavior”. Ahad, 20 Maret 2022, 20.00-22.00 WIB oleh Dr. Bagus Riyono, MA, Psikolog
“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.”
QS.An-Nahl: 78
