Katam Kaji
Tadi pagi saya melihat arak-arakan lewat di depan rumah. Sebuah mobil membawa maket Alquran besar diiringi sekelompok anak-anak yang mengenakan jubah dan serban. Di belakangnya ada barisan anak-anak lain yang mengenakan baju adat dan diakhiri oleh pasukan marching band yang memeriahkan suasana. Suara marching band inilah yang membuat saya keluar rumah dan turut menikmati sukacita yang terpancar dari rombongan itu.
Katam Kaji namanya. Sebuah acara untuk merayakan selesainya seorang anak belajar membaca Alquran. Sebuah tradisi yang sudah mengakar kuat dalam budaya masyarakat di kota Bukittinggi. Ingatan saya melayang ke puluhan tahun silam. Kegiatan saya selepas ashar adalah pergi ke masjid untuk mengaji. Di sana kami belajar membaca huruf hijaiyah. Dimulai dengan juz amma kemudian Alquran.
Pada saat seorang anak sudah menyelesaikan pelajaran membaca Alquran, ia bisa ikut Katam Kaji. Artinya ia telah membaca Alquran dari awal hingga akhir, sudah khatam. Hal ini dirayakan dengan penuh suka cita. Anak yang ikut Katam Kaji diarak keliling kota. Teman dan kerabat berdatangan ke rumah mengantarkan hadiah. Orang tua menggelar hajatan besar sebagai ungkapan rasa syukur atas kemampuan putra-putrinya membaca Alquran dengan tartil. Tradisi ini sudah ada sejak lama. Saya ingat bagaimana ibu saya bercerita dengan bahagia kenangan sewaktu beliau Katam Kaji. Seru dan menyenangkan.
Sebagai orang tua kita perlu membekali anak dengan kemampuan membaca Alquran. Katam Kaji membuat proses belajar anak menjadi lebih menyenangkan. Tradisi telah membantu para orang tua di Bukittinggi dan daerah lain di Sumatera Barat yang menggelar budaya serupa untuk menunaikan salah satu hak Alquran, yaitu dibaca hingga tamat.
Ustad Khalid Basalamah menyampaikan ada 4 hak Alquran yang perlu ditunaikan oleh seorang muslim, yaitu:
- Dibaca sampai tamat meskipun belum memahami maknanya
- Dipelajari dan dipahami maknanya (tadabbur)
- Dihafal
- Diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah bisa membaca, banyak orang tua meneruskan interaksi anak dengan Alquran langsung pada poin ketiga, yaitu menghafal. Sebagian orang tua memasukkan anaknya ke sekolah khusus untuk menghafal Alquran, mengarahkan mereka agar hafal 30 juz. Ini tentu saja baik. Semoga mereka menjadi para penjaga Alquran.
Yang tak kalah penting adalah mengajak anak untuk memahami arti bacaan Alquran. Sehingga anak tidak hanya bisa membaca dan menghafal tapi juga tahu arti dari kata dan kalimat yang ia ucapkan. Kebiasaan untuk merenungkan makna yang lebih dalam dan mempelajari sebuah ayat hingga paham mengapa dan untuk apa Allah menurunkan ayat tersebut juga mulai dapat dilatihkan. Bagi saya ini adalah tahap yang penting. Tujuan dari membaca dan menghafal Alquran sejatinya adalah untuk memahami maknanya. Dengan bekal pemahaman yang benar, in syaa Allah seorang anak akan mampu menjadikan Alquran sebagai acuan dalam bersikap dan berperilaku. Tuntunan kalam mulia in syaa Allah akan meresap ke dalam kalbu dan menjadi parameter dari setiap ilmu yang kelak dipelajarinya.
Saya teringat saat mulai mempelajari Psikologi Islam. Perbedaan utamanya dengan psikologi konvensional adalah pada sudut pandang. Islamic Psychology uses Islamic worldview. Sudut pandang Islam inilah yang perlu tertanam di dalam diri setiap anak muslim melalui pemahamannya mengenai isi Alquran. Dengan demikian, apa pun yang ia pelajari atau metode apa pun yang ia gunakan dalam memahami sesuatu, interpretasinya akan selalu merujuk pada cara pandang Islam. In syaa Allah ia akan benar-benar dapat menjadikan Alquran sebagai huda, petunjuk dalam menjalani hidup.
Jika hak ke-2, yaitu memahami makna Alquran, telah tertunaikan dengan baik maka akan lebih mudah bagi seorang anak untuk mengamalkan Alquran dalam kehidupannya sehari-hari. Ia tidak akan ragu atau merasa terpaksa karena telah paham mengapa Allah mewajibkan shalat, misalnya, atau mengapa ia diharapkan mengucapkan perkataan yang baik saat berinteraksi dengan orang lain. In syaa Allah ia juga akan dapat merasakan kasih sayang Allah terhadap hambaNya dari ayat-ayat di dalam Alquran melalui kebiasaan tadabbur yang dilakukannya.
Kemudian, seiring dengan kemampuannya yang terus berkembang, in syaa Allah ia bisa mengajarkan Alquran kepada orang lain sehingga pemahaman terhadap Alquran tidak hanya memberi manfaat bagi dirinya tetapi juga bagi orang di sekitarnya Semoga ia menjadi manusia terbaik yang disebutkan dalam hadis rasulullah: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” (HR. Tirmidzi)
Ini sebuah cita-cita, semoga Allah mudahkan anak-anak kita menunaikan seluruh hak Alquran. Semoga Allah mudahkan juga kita untuk menjadi teladan bagi mereka. Aamiin.
Bukittinggi, 26 Juni 2022
Dian L Izwar
”Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, ”Al-hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, ”Apa itu al-hal wal murtahal, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Yaitu yang membaca Alquran dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.”
(HR Tirmidzi).
“Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?”
(QS.47: 24)
“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”
(QS. 38: 29)
