Jepit Rambut Berganda

Kemarin saya menerima kiriman foto seorang keponakan.  Gadis kecil itu tersenyum semringah dengan enam jepit rambut di kepalanya.  Ia memang ingin menunjukkan keenam asesori tersebut.  Tampak rasa senang di ekspresinya.  Jika biasanya hanya mengenakan satu jepit, sekarang ada 6 buah hiasan di rambut hitamnya.  Mengapa?

“Aku mau pakai jepitnya banyak kayak Mbak yang main bulutangkis.”

Saya tersenyum mendengar alasan ini.  Begitulah dunia anak-anak.  Tingkah mereka sering menggemaskan.  Alasan perilaku mereka pun kadang tak terduga.

Kami sekeluarga memang penggemar bulutangkis.  Sejak beberapa hari terakhir, ponakan kecil saya ikut menonton laga-laga para pebulutangkis di Indonesia Masters 2022.  Ternyata selama menonton ia memperhatikan pebulutangkis wanita yang menggunakan banyak asesori di rambutnya. 

Sepertinya sang atlet menggunakan hiasan rambut agar permainannya tidak terganggu oleh helaian rambut yang bergoyang ke sana kemari.  Satu jepit saja tampaknya tak cukup untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga 3 jepit rambut dipasang di sebelah kanan dan 3 lainnya di sebelah kiri.  Inilah yang diamati oleh keponakan saya.  Dengan kemampuan penalarannya yang masih terbatas, murid taman kanak-kanak ini belum memahami tujuan penggunaan jepit rambut yang banyak itu.  Boleh jadi ia menganggap begitulah cara penggunaan jepit rambut terkini atau mungkin suka dengan tampilan banyak jepit, jadi ia menirunya. 

Proses belajar anak memang berlangsung melalui kegiatan meniru.  Mereka mengimitasi hal-hal yang dilihatnya, terutama yang sering diulang atau menarik perhatian.  Anak bagaikan spons dengan daya serap yang tinggi.  Apa saja yang mereka lihat dapat melekat dengan cepat menjadi sebuah perilaku.  Allah menganugerahi kecakapan ini sebagai bekal bagi anak untuk tumbuh dan berkembang.

Kemampuan anak dalam meniru ibarat pedang yang tajam.  Jika digunakan dengan baik, ia sangat bermanfaat.  Namun penggunaan secara sembrono dapat melukai.

Sebagai orang tua, kita tidak dapat menentukan apa yang akan diserap anak.  Dengan imajinasinya yang luar biasa, anak dapat menyerap semua hal bahkan sampai detil kecil yang tak terpikirkan oleh kita.  Dalam kasus di atas, pada saat ibunya asyik memperhatikan teknik-teknik permainan sang atlet, keponakan saya justru tertarik pada jepit rambutnya.  Sebuah hal kecil yang terkadang luput dari perhatian orang dewasa.  Hal ini bisa terjadi pada setiap tayangan, bisa jadi ada hal-hal kecil yang kita anggap sepele tapi justru menarik bagi anak. 

Tantangan utama dalam kegiatan meniru ini adalah anak belum mampu memilah perilaku sehingga mereka cenderung untuk mencoba segala sesuatu yang dilihatnya.  Mengenakan 6 jepit rambut tentunya tidak masalah, bahkan terlihat lucu.  Namun ada juga anak yang jadi gemar memukul setelah sering menonton tayangan superhero, bahkan ada yang nekat melompat dari ketinggian karena merasa ia bisa terbang.  Padahal orang tua memberikan tayangan tersebut dengan tujuan bahwa anak memahami karakter positif si superhero.  Namun yang tampil dalam perilaku anak bisa berbeda.  Hal ini terjadi karena anak menyerap sisi lain dari tontonan yang tidak sepenuhnya disadari orang tua.  Beberapa orang tua melepaskan buah hatinya menonton sendiri dengan dalih sudah memilihkan program khusus untuk anak.  Anak diberi gadget lalu dibiarkan menikmati sendiri tayangan yang ada.  Terkadang dalam program tersebut ada detil kecil yang dihadirkan sebagai bumbu tayangan atau ada iklan dengan konten tertentu yang muncul di sela-sela tayangan yang luput dari pengawasan orang tua.  Semua ini memiliki potensi untuk ditiru anak.  

Oleh karena itu penting untuk menemani anak pada saat menonton dan mendiskusikan pemahaman mereka mengenai apa yang sedang ditonton.  Jika mereka meniru sebuah perilaku, tanyakan tujuan atau alasan mereka melakukan hal tersebut.  Ajak anak mendiskusikan relevansi perilakunya dengan situasi saat ini sehingga anak terlatih untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya.  Mendiskusikan sebuah perilaku berdasarkan kepatutan dan kepantasan juga baik bagi perkembangan moral anak.

Mendampingi anak menonton adalah sebuah investasi jangka panjang yang sangat berharga bagi perkembangan karakter sang buah hati.  Jangan biarkan tontonan menjadi tuntunan bagi mereka.  Tetaplah kita yang menuntun anak menuju nilai-nilai luhur yang diajarkan Sang Pencipta.  Semoga Allah mudahkan.  Aamiin.

Mutiara, 13 Juni 2022

Dian L Izwar


“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

(QS. Al-Ahzab: 21)


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *