Gendong
Gadis kecil saya suka digendong. Saya memang sering menggendongnya sejak bayi.
Saat orang-orang mengingatkan, “Jangan keseringan digendong, nanti bau tangan.” Saya hanya tersenyum.
Ia memang jadi “bau tangan”, jadi suka digendong. Tak masalah, karena saya memang ingin ia merasa nyaman berada dalam gendongan. Dengan demikian, saya dapat menggendongnya sesering mungkin. Saya percaya bahwa kontak fisik merupakan hal yang baik untuk tumbuh kembang bayi. Jadi saya membawanya dalam hampir semua kegiatan. Saya mengajaknya ke dapur, ke taman dan ia juga duduk di pangkuan kala saya membaca. Selama masih memungkinkan, bidadari mungil itu akan berada dalam dekapan saya.
Saat ia sudah bisa bicara, saya menggendongnya kapan pun ia mau. Ketika tubuhnya bertambah berat dan ia telah pandai berjalan, kami mempunyai perjanjian dalam hal gendong menggendong ini.
“Kalau Kakak minta, Bunda gendong. Kalau Bunda capek, Kakak jalan.”
Kami tidak peduli dengan komentar orang, “Wah, sudah besar kok masih digendong,” karena kami punya aturan tersendiri dalam kegiatan menggendong.
Mengapa saya melakukan ini?
Penelitian menunjukkan bahwa kedekatan bayi secara fisik dengan ibu atau pengasuh memberikan dampak positif pada perkembangan emosi dan otak bayi. Ia menjadi lebih tenang dan cepat pandai bicara. Bayi yang digendong cenderung lebih sering diajak bicara sehingga ia mendapat lebih banyak stimulasi. Bayi yang digendong juga lebih banyak mendapatkan kecupan dan sentuhan fisik yang berpengaruh baik bagi pertumbuhannya. Alhamdulillah, hal ini tampak pada gadis kecil saya. Ia tumbuh menjadi anak yang pintar dan cepat pandai bicara.
Seiring dengan bertambahnya usia, gadis kecil saya makin jarang minta gendong. Terkadang saya yang kangen ingin menggendongnya. Ia akan berada di pangkuan saya sejenak, kemudian meluncur turun. Akan tiba saatnya sang buah hati tak lagi membutuhkan dekapan kita sesering masa bayinya. Kemandirian akan membawanya menjauh secara fisik. Sampai saat itu datang ciptakanlah momen-momen kebersamaan yang indah dengan memeluk dan menggendongnya. In syaa Allah ia akan tumbuh menjadi anak yang lebih sehat mental dan berkembang dengan optimal.
Selamat memperingati hari anak, Sahabat. Semoga kita dimampukanNya untuk memberikan pendampingan terbaik bagi sang buah hati.
Mutiara, 23 Juli 2022
Dian L Izwar
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda untuk Al Hasan:
“Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya maka cintailah dia dan cintai orang yang mencintainya.”
Abu Hurairah berkata; “Beliau lalu mendekapnya ke dalam dadanya.”
HR. Ibnu Majah

Terimakasih banyak Kakak Psikolog
Alhamdulillah…
Alhamdulillah. Sama-sama, terima kasih juga..