Mengapa Psikologi Islam?
Ada yang bertanya mengapa saya belajar Psikologi Islam. Apakah pendidikan 11 semester di fakultas Psikologi sebuah universitas terkemuka di Indonesia tidak membuat saya mampu membantu klien yang membutuhkan? Mengapa harus kuliah Psikologi Islam lagi? Saya merasa pertanyaan ini penting dan jawabannya cukup panjang, jadi saya tuliskan saja. Bismillah. Semoga dapat menjadi ibrah.
Apakah pendidikan psikologi yang saya terima bisa membuat saya membantu klien?
Alhamdulillah bisa. Dua bulan setelah memperoleh gelar psikolog saya langsung mengaplikasikan ilmu psikologi di dunia industri dan organisasi. Sebagai konsultan sumber daya manusia, ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah sangat memudahkan saya dalam membantu klien.
Sepuluh tahun menjadi konsultan, saya rindu pada dunia klinis. Maka sejak tahun 2006 saya juga berpraktik sebagai psikolog klinis di sebuah rumah sakit di Jakarta. Saya berkenalan dengan Psikologi Islam pada tahun 2019. Dengan demikian selama 13 tahun menjadi konselor, saya membantu klien berdasarkan ilmu psikologi yang saya dapatkan di kampus. Kesimpulannya, ilmu psikologi yang saya pelajari selama kuliah dapat saya terapkan untuk membantu klien dan masyarakat. Alhamdulillah. Namun di sepanjang perjalanan praktik, hati saya kerap bertanya: mengapa agama seolah terpisah dari psikologi. Seakan psikologi dan Islam adalah dua jalur yang berbeda.
Puncak kegelisahan saya terjadi pada saat DSM-5 tidak lagi mengkategorikan homoseksualitas sebagai gangguan atau penyimpangan seperti pada edisi-edisi sebelumnya. Sejak kuliah, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association (APA) merupakan buku pegangan dalam menelaah kasus klinis. Saya merujuk pada buku ini dalam menegakkan diagnosis. Adanya perubahan dalam DSM-5 tersebut membuat saya bertanya, mengapa sesuatu yang secara agama jelas-jelas dilarang dapat dianggap normal? Seharusnya tidak ada pertentangan seperti ini dalam mengamalkan ilmu. Hati saya terusik, apakah selama ini saya telah mengacu pada sebuah pedoman yang benar? Di sini saya merasa mungkin ada yang belum lengkap dari ilmu psikologi yang saya pelajari.
Saya mulai mencari jawaban. April 2019 saya mengikuti pelatihan Tazkiyah Therapy yang disampaikan oleh Dr. Bagus Riyono. Pada pelatihan tersebut apa yang ada di pikiran saya disampaikan Dr. Bagus Riyono dalam sebuah kerangka yang sistematis. The missing link yang selama ini saya rasakan seolah terjawab: tujuan utama dari terapi atau konseling bukanlah wellbeing tapi tazkiyah, pembersihan jiwa dan pengembangan diri menuju rida Allah; wellbeing yang tidak hanya terbatas pada kesejahteraan mental di dunia tetapi juga mempertimbangkan kebahagiaan saat menjalani kehidupan abadi di akhirat nanti. Alhamdulillah. Dunia saya terasa bersinar.
Saya putuskan untuk belajar lebih banyak. Saya mulai mengikuti konferensi-konferensi Psikologi Islam dan belajar bahasa Arab Alquran untuk membantu saya memahami satu-satunya buku acuan yang tidak pernah berubah. Saya berusaha memahami bagaimana Alquran memandang manusia.
Apa itu Psikologi Islam?
Kita tahu aliran pertama dalam psikologi konvensional adalah Psikoanalisa yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Kemudian muncul teori psikologi perilaku, psikologi koginitif, psikologi humanistik dan psikologi positif dengan tokohnya masing-masing. Tokoh Psikologi Islam modern adalah Prof. Malik Badri. Bapak Psikologi Islam ini menerbitkan buku The Dilemma of Muslim Psychologists pada tahun 1979 yang mengajak para psikolog muslim untuk memikirkan kembali dasar dan sumber ilmu psikologi yang selama ini mereka pelajari.
Psikologi berasal dari kata psyche yang dalam Bahasa Yunani berarti jiwa dan logia yang berarti ilmu. Jadi psikologi adalah ilmu mengenai jiwa. Dr. Bagus Riyono mengemukakan bahwa Psikologi Islam adalah ilmu mengenai jiwa, emosi, kognisi dan perilaku manusia (Islamic Psychology is the science of human’s soul, emotion, cognition and behavior). Fokus utama Psikologi Islam adalah mempelajari jiwa yang merupakan inti dari kualitas manusia, tentu saja dengan tidak mengabaikan emosi, kognisi dan perilaku.
Psikologi Islam mempelajari manusia dengan mengacu pada sistem pandangan hidup Islam (Islamic worldview) yang bersifat empiris dan metafisis. Perbedaan utama Psikologi Islam dengan psikologi konvensional adalah pada adanya pengakuan terhadap Allah dan kehidupan akhirat. Dua hal ini tidak dibicarakan dalam teori-teori psikologi konvensional yang hanya mengakui sesuatu yang bersifat empiris dan terukur. Dr. Bagus Riyono menyampaikan bahwa Psikologi Islam mengembalikan psikologi ke definisi awalnya karena psikologi konvensional secara perlahan telah menggeser dan membatasi obyek studi psikologi pada hal-hal yang bersifat materialistik dan fisiologis.
Penting untuk dipahami bahwa Psikologi Islam bukanlah sekedar menambahkan atau menyematkan unsur Islam pada konstruk-konstruk psikologi konvensional. Psikologi Islam menggali konstruk psikologi dari Alquran yang merupakan pedoman hidup seorang muslim. Untuk dapat melakukan hal ini, peneliti perlu terlebih dahulu menerima Alquran sebagai sumber kebenaran sejati. Kemudian melakukan kontemplasi terhadap ayat-ayat Alquran dan mempelajari tanda-tanda alam untuk melihat bukti empiris dari apa yang tertuang dalam Alquran. Dengan demikian, Psikologi Islam bukanlah sebuah ilmu yang bersifat dogmatis. Konstruk yang dikembangkan dalam Psikologi Islam diuji secara ilmiah dan bersifat empiris. Perbedaannya dengan psikologi konvensional adalah konstruk tersebut berasal dari Alquran dan atau divalidasi dengan ayat-ayat Alquran. Pendidikan Psikologi Islam yang saat ini saya jalani mengingatkan saya bahwa cara terbaik untuk memahami manusia adalah melalui manual book yang telah disediakan oleh Sang Pencipta. Sebagai psikolog, kita perlu memahami dan mengelaborasi kitab mulia ini dan menjadikannya sebagai huda, in syaa Allah.
Kembali pada pertanyaan awal, apakah pengetahuan dari pendidikan psikologi konvesional bisa saya aplikasikan untuk membantu klien? Alhamdulillah bisa. Namun Psikologi Islam memberikan sebuah pemahaman yang utuh akan hakikat manusia dalam khazanah pengetahuan psikologi saya. Psikologi Islam memberikan sudut pandang yang lebih komprehensif mengenai manusia dan mengingatkan saya bahwa sejatinya hidup ini adalah dari Allah menuju Allah. Menghadirkan Sang Pemilik Ilmu dalam setiap hal yang kita lakukan adalah sebuah kebutuhan.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk melangkah di jalanNya, baik di saat kita berperan sebagai anak, pasangan, orang tua, saudara, sahabat mau pun saat menjalankan profesi sehari-hari, termasuk profesi psikolog.
Mutiara, 16 Juli 2022
Dian L Izwar
#Refleksi kuliah sesi ke-23 sampai ke-28 “The 126-hour program on Islamic Psychology as the science of human soul, cognition, emotion and behavior”. Juni 2022, 20.00-22.00 WIB oleh Dr. Bagus Riyono, MA, Psikolog
Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan nyata.
(QS. Al-Jumu’ah: 2)

Maasya Allah, semoga menggugah dan menginspirasi praktisi psikologi lainnya untuk mengenal, belajar dan mengamalkan psikologi Islam
Aamiin.. Semoga, Mas Abas. Bismillah.
MaasyaAlloh.. Trmksh Bu Dian pencerahannya…
Alhamdulillah, sama-sama Bu Pipit..