Senyum Anak Indonesia
Dua klien saya hari ini bicara tentang senyum.
“Walau saya kesal, saya ingat pesan Bu Dian untuk senyum dulu sebelum bicara, hasilnya saya nggak jadi marah,” demikian ia bercerita. Ia menjadi lebih santai. Hari-harinya bertambah baik setelah ia mulai membiasakan diri untuk tersenyum. Hubungannya dengan orang-orang terdekat pun terasa lebih menyenangkan.
Klien kedua merasa tidak bersemangat menjalani hari. Semua terasa berat dan air mata kadang mengalir begitu saja.
“Coba sekarang senyum,” ujar saya saat ia selesai menceritakan kegundahannya.
Ia menurut, lalu senyumnya berkembang menjadi tawa.
“Ah, Bu Dian,” ujarmya di sela getar gembira yang tercipta. Matanya bercahaya. Nuansa kelabu berlalu dari wajahnya.
“Beda nggak rasanya sekarang dan tadi sebelum senyum?” saya bertanya.
“Iya, Bu. Beda.” Senyumnya kembali merekah.
Saya pun tersenyum bahagia membayangkan senyuman yang terkembang di wajah para orang tua saat membesarkan buah hati mereka.
Alhamdulillah, Allah menganugerahkan kemampuan tersenyum pada manusia. Senyuman adalah sebuah upaya kecil yang bermakna besar. Sebuah senyuman (meskipun dipaksakan) akan memberikan dampak positif pada suasana hati seseorang. Suasana hati yang positif ini mempengaruhi sikap dan perilaku yang ditampilkan. Mood positif membuat seseorang melihat dunia lebih indah dan tantangan yang sedang dihadapi terasa lebih mudah untuk diatasi.
Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada hari ini mengingatkan saya akan anak-anak yang dibesarkan dengan senyuman. Rasa bahagia tergambar dalam tingkah lakunya. Wajah ceria menghiasi hari-hari mereka.
Pada awal masa tumbuh kembangnya, kita sering menyapa bayi dengan senyuman. Mereka sangat lucu dan menggemaskan. Namun seiring bertambahnya usia sang bayi, senyuman di wajah ayah dan bunda semakin berkurang. Perintah dan larangan hadir sebagai gantinya. Tanpa sadar terkadang kita memasang wajah tegang saat menghadapi anak-anak. Sikap kita pun sama tegangnya, padahal sikap orang tua inilah yang kelak dijadikan anak sebagai teladan dalam berperilaku. Dalih disiplin kerap menghilangkan senyuman dari ruang pengasuhan.
Di hari khusus bagi anak-anak ini, saya ingin mengajak semua orang tua untuk tetap menghadirkan senyuman dalam proses pengasuhan. Mari kembalikan senyum manis di wajah bayi lucu yang kini telah mulai berlari itu. Tersenyumlah sebelum bertemu dengan si buah hati sehingga apa pun yang mereka lakukan in syaa Allah dapat kita hadapi dengan lapang hati.
Selamat Hari Anak Nasional, Ayah Bunda. Selamat mengasuh dengan senyuman dan hati yang lapang.
Mutiara, 23 Juli 2024
Dian L Izwar
“Saya belum pernah melihat orang yang lebih banyak tersenyum daripada Nabi.”
HR. Tirmidzi
