Menuju Pribadi Sehat Mental
Kesehatan mental adalah keadaan mental sejahtera yang membuat seseorang mampu mengelola stres, menyadari kemampuan diri, belajar dan bekerja dengan baik serta berkontribusi pada komunitasnya. Mental yang sehat akan mendukung seseorang dalam mengambil keputusan yang tepat dan mengembangkan relasi yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. Kesehatan mental merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kesehatan fisik dan sosial seseorang. There is no health without mental health.
Merujuk pada definisi dari WHO di atas, kesehatan mental tidak berarti hanya bebas dari gangguan mental. Individu sehat mental adalah individu yang produktif dan bermanfaat bagi orang lain. Orang yang sehat mental menyadari kemampuan dirinya dan dapat memanfaatkan kemampuan tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Sudah sehat mental kah kita?
Kesehatan mental bukanlah sebuah keadaan yang menetap. Keadaan mental seseorang akan bergerak dalam suatu rentang antara tidak sehat dan sangat sehat. Oleh kerena itu langkah pertama menuju pribadi sehat mental adalah menyadari keadaan mental kita saat ini. Setelah itu menjaganya agar tetap sehat atau berupaya untuk membuatnya menjadi lebih sehat. Bagaimana caranya?
Mental berkaitan erat dengan jiwa. Dr. Bagus Riyono, seorang pakar Psikologi Islam, menyebutkan bahwa jiwa manusia terdiri dari 4 lapisan. Memahami bagaimana jiwa bekerja akan berpengaruh pada kesehatan mental, in syaa Allah.
Lapisan terluar dari jiwa adalah sensing, yang memungkinkan jiwa berhubungan dengan tubuh dan merasakan sensasi dari hal-hal yang dialami tubuh. Lapisan ini sudah terberi pada setiap orang. Pengambilan keputusan di tahap ini hanya didasari oleh sensasi yang dirasakan tubuh.
Lapisan kedua adalah reasoning, yang mengolah pengalaman sensing menjadi sesuatu yang lebih bermakna dari sekedar sensasi indra. Pengambilan keputusan pada tahap ini telah melalui proses penalaran sehingga sebuah tindakan yang dilakukan akan mempunyai alasan dan atau tujuan yang logis. Kemampuan ini perlu dilatih. Cara yang sederhana adalah dengan bertanya mengapa, untuk apa dan mempertimbangkan dampak dari sebuah perilaku sebelum melakukannya.
Lapisan ketiga adalah empathy, yang menghubungkan jiwa manusia yang satu dengan yang lainnya. Pada tahap ini, pengambilan keputusan tidak hanya mempertimbangkan diri sendiri tapi juga orang lain. Emosi yang kita rasakan ada di lapisan ini. Empati dapat dilatih dengan meningkatkan interaksi dan sungguh-sungguh berusaha untuk mengerti perasaan, pikiran dan pengalaman orang lain. Memiliki hewan peliharaan juga dapat mengasah empati. Rasa peduli, keinginan memahami dan menyayangi adalah konsep dasar dari empati.
Lapisan terdalam adalah conscience atau nurani. Lapisan ini menghubungkan jiwa dengan Allah. Conscience adalah energi bagi jiwa. Ia merupakan lapisan terkuat yang akan mempengaruhi lapisan lainnya. Nurani yang redup akan melemahkan empati dan menumpulkan pertimbangan mengenai baik dan buruk. Sebaliknya nurani yang kuat akan melahirkan perilaku logis, berempati dan berada dalam batasan yang telah ditetapkan Sang Pemilik Hidup. Conscience perlu terus dipelihara. Salah satu caranya adalah dengan mengingat Sang Pencipta dan memahami tujuan kehadiran kita di dunia.
Dengan demikian, salah satu cara untuk menjaga kesehatan mental dalam pandangan Psikologi Islam adalah senantiasa mendekat pada Sang Pemilik Jiwa. Dengan nurani yang kuat, sensasi pada lapisan sensing akan diolah oleh reasoning dan empathy kemudian dimaknai oleh conscience sebagai salah satu tanda kebesaran Allah. Individu akan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang dialaminya untuk lebih mengenal dirinya dan Penciptanya. Semakin ia kenal dengan diri dan Penciptanya, semakin sehat pula mentalnya. In syaa Allah.
Hari Kesehatan Mental Dunia, 10 Oktober 2022
Dian L Izwar
“Ingatlah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika baik, maka seluruh tubuh menjadi baik; jika rusak, maka seluruh tubuh menjadi rusak pula, ia adalah kalbu.’”
HR. Bukhari & Muslim
