Lapisan dan Tingkatan Jiwa
Seorang sahabat memberikan tanggapan saat membaca tulisan Menuju Pribadi Sehat Mental yang saya unggah pada Hari Kesehatan Mental Sedunia 10 Oktober yang lalu. Ia tidak sependapat mengenai empat lapisan jiwa dari Dr. Bagus Riyono (sensing, reasoning, empathy, conscience) yang saya tuangkan dalam tulisan tersebut.
“… merujuk pada kajian Tasawuf yang bersumberkan Al-Quran dan Hadits, jiwa terdiri:
- Jiwa Muthmainnah
- Jiwa Radiah
- Jiwa Mardiyah
- Jiwa Lawammah
- Jiwa Bissu’”, tulisnya melalui pesan singkat.
Inilah enaknya memiliki sahabat dengan minat yang sama, dapat saling memberi masukan dan memperkaya pengetahuan.
Kembali pada lapisan jiwa, banyak tokoh ulama dan ahli berupaya untuk memahami bagian tak tampak dari manusia ini. Dalam hemat saya, jika kita menganalisa obyek yang sama dengan menggunakan dasar yang sama maka hasilnya mungkin saja berbeda tapi biasanya tidak akan bertentangan. Dengan demikian apabila jiwa manusia dianalisa berdasarkan Alquran dan Hadis oleh beberapa ahli, bisa jadi setiap ahli akan menghasilkan model yang berbeda tetapi jika kita gali lebih dalam sesungguhnya dapat saling melengkapi.
Salah satu model jiwa berdasarkan pandangan Islam dikemukakan oleh Abdallah Rothman dalam bukunya Developing a Model of Islamic Psychology and Psychotherapy. Ia mengembangkan Islamic Model of the Soul melalui studi kualitatif dengan metode grounded research. Dalam model ini, Rothman menyampaikan bahwa jiwa mempunyai 4 struktur (structure of the soul). Keempat struktur tersebut adalah nafs, qalb, aql dan ruh. Di samping struktur, jiwa juga mempunyai tingkatan (stage of the soul). Dalam penelitiannya, Rothman menemukan ada 7 tingkatan jiwa. Namun untuk kepentingan model yang aplikatif dalam psikoterapi, ia hanya menuliskan 3 tingkatan. Tiga tingkatan jiwa tersebut adalah nafs al amara bil su’, nafs al lawwama dan nafs al muthmainah.

Jika kita kaitkan dengan masukan dari sang sahabat di atas, boleh jadi apa yang dimaksudkannya dengan lapisan jiwa adalah tingkatan jiwa dalam model Rothman. Sementara lapisan jiwa yang saya jadikan rujukan dalam tulisan Menuju Pribadi Sehat Mental lebih mendekati struktur jiwa dalam model tersebut. Dengan demikian dapat kita lihat bahwa sesuatu yang tampaknya berbeda sejatinya dapat saling melengkapi. Sebuah obyek dapat ditelaah dari berbagai sisi dengan berbagai cara dan menghasilkan beragam model.
Dalam pemahaman saya yang saat ini tengah mempelajari Psikologi Islam, manusia mempunyai satu jiwa. Di dalam jiwa yang satu ini terdapat beberapa komponen atau lapisan. Dinamika komponen di dalam jiwa inilah yang menentukan keadaan jiwa tersebut sehingga jiwa seseorang dapat berada pada tingkatan yang berbeda-beda.
Semoga pemahaman mengenai struktur dan tingkatan jiwa ini dapat membantu kita dalam mengelola jiwa menuju nafs al muthmainah untuk kembali padaNya dengan hati yang rida dan diridaiNya. Wallahu’alam.
Mutiara, 20 Oktober 2022
Dian L Izwar
dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya,
lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaan
sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)
dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.
(QS. Asy-Syams: 7-10)
Bahan Bacaan:
Abdallah Rothman & Adrian Coyle: Toward a Framework for Islamic Psychology and Psychotherapy: An Islamic Model of the Soul, Journal of Religion & Health 57, 1731-1744 (2018). https://link.springer.com/content/pdf/10.1007/s10943-018-0651-x.pdf
