The Shifting Paradigm
Malam ini saya mengikuti kuliah perdana “The 126-hour program on Islamic Psychology as the science of human soul, cognition, emotion and behavior”. Bismillah, ini merupakan salah satu ikhtiar untuk lebih memahami Psikologi Islam. Kegiatan yang diselenggarakan secara daring ini diikuti oleh peserta dari Indonesia, Canada, Jepang, Lebanon, Rusia, Nigeria, India dan Sudan. Pengampu program ini adalah Dr. Bagus Riyono, MA, Psikolog. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan bagi beliau untuk berbagi pengetahuan dan mengembangkan Psikologi Islam.
Sebagai sebuah disiplin ilmu, Psikologi Islam mempunyai cara pandang yang berbeda dengan psikologi konvensional yang selama ini saya pelajari. Pada pendidikan psikologi sebelumnya, saya diajarkan bahwa pengembangan ilmu disandarkan pada bukti-bukti ilmiah yang didapat melalui pengamatan yang sistematis terhadap obyek studi. Dalam Psikologi Islam, pengembangan ilmu juga didasari oleh pengamatan sistematis tapi didahului oleh hasil kontemplasi yang dalam terhadap kandungan ayat-ayat Alquran mengenai obyek studi tersebut. Dengan demikian, pengembangan ilmu dalam Psikologi Islam diawali dari Alquran sebagai sumber kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya. Hal-hal yang ada di alam semesta merupakan bukti akan kebenaran Alquran. Alquran menjadi pedoman dari arah studi.
Pada kuliah malam ini, Dr. Bagus menyampaikan bahwa ada tiga sumber sains dalam Psikologi Islam yaitu Alquran (sebagai sumber kebenaran tertinggi), Souls (jiwa manusia yang melakukan kontemplasi terhadap ayat-ayat Alquran) dan Universe (tanda-tanda alam yang membuktikan kebenaran Alquran). Dengan adanya tiga sumber ini, Psikologi Islam menjadi lebih valid dan reliabel dibandingkan dengan psikologi konvensional yang hanya mengandalkan pada pengamatan sistematis terhadap manusia dan alam. Mengapa? Karena manusia bisa saja salah dalam mengamati, memahami dan menyimpulkan. Sesuatu yang saat ini diyakini sebagai sebuah kebenaran, di kemudian hari dapat menjadi sesuatu yang keliru. Perkembangan pengetahuan telah membuktikannya. Sementara Alquran adalah kitab yang berisi kebenaran. Secara logika, jika kita bersandar pada Alquran maka yang akan kita temukan tentulah kebenaran.
Ini adalah perubahan paradigma, shifting paradigm. Tidak mudah mengubah cara pandang yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Namun kita tahu bahwa cara pandang akan berpengaruh pada interpretasi. Saya rasa ini adalah dasar mengapa perkuliahan diawali dengan pengenalan paradigma Psikologi Islam. Akan sulit untuk melihat konsep-konsep Psikologi Islam secara jernih jika kita masih menggunakan paradigma psikologi konvensional.
Pertanyaan yang muncul saat saya menuliskan catatan ini adalah: bagaimana cara melakukan kontemplasi yang benar terhadap Alquran? Bagaimana caranya agar tidak keliru memaknai ayat-ayat dalam kitab mulia tersebut? Semoga pertanyaan ini akan mendapatkan jawaban pada kuliah mendatang. Bismillah.
Mutiara, 12 Februari 2022
Dian L Izwar
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
Q.S. Fushilat: 53
