Nggak Enak

Seorang sahabat bercerita.  Sewaktu hari Raya, ia pulang ke desa.  Mudik tentu perlu biaya.  Jadi, ia bicara pada pemilik kontrakan, meminta pengertian.  Ibu yang baik hati itu maklum, sang sahabat boleh menunggak.  Biaya kontrakan bulan April tak harus dibayar sebelum mudik Lebaran.

Akhir Mei, saatnya membayar kontrakan.  Karena menunggak, jadi jumlah sewanya 2 bulan.  Sang sahabat menghitung pendapatan.  Tak cukup.  Tak terkumpul dana untuk membayar uang kontrakan selama 2 bulan.

“Jadi aku pinjam uang untuk bayar kontrakan di tempat aku kerja.  Aku pinjam untuk nyukupin aja.”  Ia menghitung kekurangan berdasarkan gajinya dan uang yang biasa didapat suaminya per bulan.

“Tapi ternyata suamiku gajiannya dikit bulan ini.  Jadi tetap nggak cukup.  Aku nggak enak mau pinjam lagi di tempat aku kerja.  Jadinya aku pinjam sama orang yang memang suka kasih pinjaman, pakai bunga.”

“Lho, Mbak?  Itu kan riba.  Nggak boleh!”  Saya spontan berkomentar.

“Iya.  Tapi aku nggak enak sama ibu tempat aku kerja kalau mau nambah minjam lagi.”

“Riba itu dosa lho, Mbak.  Bunganya juga pasti besar.”

“Dua ratus ribu.”

“Bunganya Rp. 200.000?  Memang Mbak pinjam berapa?”

“Lima ratus ribu.”

“Subhanallah.”

“Mau gimana lagi.  Aku kan nggak enak kalau nggak bayar kontrakan.  Tapi pas aku cerita sama ibu yang punya kontrakan dia bilang, ‘Nggak apa-apa, kalau bayar seadanya dulu.  Sisanya nanti.’  Tapi kan aku dah terlanjur minjam.”

Setelah mendengarkan cerita ini, sebuah frasa terngiang di telinga saya.  Sang sahabat berulang kali menggunakan kata ‘nggak enak‘ sebagai alasan.  Ia meminjam uang karena nggak enak belum melunasi sewa kontrakan.  Ibu yang baik hati telah memperbolehkan ia menunggak. 

Ia memilih riba karena nggak enak untuk meminjam lagi.  Ia telah diberikan pinjaman sekali, dan merasa segan untuk meminta tambahan pinjaman.  Memang nggak enak sih, punya perasaan nggak enak itu.  Jadi wajar jika sang sahabat berupaya semampu yang ia bisa agar terhindar dari rasa nggak enak.

Secara naluri, kita akan berusaha menghindari munculnya rasa nggak enak saat berinteraksi dengan orang lain.  Sikap segan sering berkaitan dengan rasa nggak enak.  Terutama pada orang-orang baik yang telah membantu kita.  Rasanya tidak nyaman jika kita tak dapat membalas jasa mereka, apalagi sampai membuat mereka ‘repot’ karena kita.  Ini adalah sifat baik yang tertanam dalam diri manusia.  Namun seperti semua hal, sifat baik ini akan berakibat kurang baik apabila dilakukan berlebihan.

Sahabat lain bercerita ia sampai meminjam uang melalui aplikasi online untuk seseorang karena orang itu pernah berbuat baik padanya.  Ia merasa nggak enak menolak saat diminta untuk memberi pinjaman meski ia sendiri sedang tidak punya uang.  Sekuat itu rasa nggak enak mendorong seseorang untuk bertindak.  Bahkan dalam kasus dua sahabat ini, mereka rela memilih riba yang mereka tahu sebenarnya tidak boleh.  Di sinilah kita perlu berhati-hati, jangan sampai nggak enak pada manusia membuat kita melanggar batas.  Bukankah kita seharusnya lebih “nggak enak” pada Allah?  Wallahu a’lam.

Mutiara, 3 Juni 2023
Dian L Izwar


Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka, bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal sehat agar kamu beruntung.”

 QS. Al Ma’idah: 100


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *