Kampung Saya di Lockdown
Ini kisah tentang seorang Bapak yang saya kenal baik. Usianya sekitar 50 tahun. Yang ingin saya ceritakan adalah keraguannya mengenai pandemi. Ia ragu apakah virus corona itu benar-benar ada seperti yang ia dengar di berita-berita. Bapak ini tidak tamat sekolah dasar namun ia senang berselancar di dunia maya, menonton you tube. Ia mengaku banyak belajar dari you tube.
“Nggak ada orang mati di jalan kayak yang diberitain itu,” katanya suatu waktu. Dalam bayangannya, virus akan menyebabkan orang-orang yang sedang beraktivitas di jalan tiba-tiba tumbang dan meninggal.
Saat saya mengatakan bahwa ada orang yang saya kenal, yaitu dosen saya – seorang profesor – meninggal setelah terinfeksi covid-19 ia berkesimpulan bahwa itu adalah sakit orang tua.
“Dulu di kampung saya juga ada musim orang tua-tua pada sakit. Mulanya di kampung sini, setelah itu pindah ke kampung lain. Orang tua-tua aja yang pada sakit trus meninggal. Ini sama kali kayak yang di kampung saya itu,” demikian ia berpendapat.
Saya katakan bahwa virus corona yang sekarang ada di Jakarta ini bisa menginfeksi siapa saja, tidak pandang usia. Ia tetap ragu. Apalagi anak remajanya sama sekali tidak percaya ada pandemi. Anak itu santai saja, enggan menggunakan masker. Hanya kalau bertemu saya ia memakai maskernya karena disuruh si Bapak. Anak dan Bapak ini memang telah berada di Jakarta sejak awal pandemi, mereka bekerja di ibu kota ini.
Delapan belas hari yang lalu, Bapak dan anak ini pulang ke kampung halamannya. Adik laki-laki yang persis berada di bawah si Bapak mau mantu. Hampir seluruh keluarga pulang, termasuk adik laki-laki terkecil si Bapak yang juga bekerja di Jakarta. Mereka semua berkumpul di kampung. Sepekan si Bapak berada di kampungnya sebelum melanjutkan liburan ke kampung istrinya.
Kemarin saat bertemu saya, si Bapak bercerita bahwa kampungnya di lockdown.
“Lockdown?” tanya saya.
“Iya, satu kampung nggak boleh keluar. Gak boleh kemana-mana. Ini saya baru di-WA sama adik saya,” ujarnya.
“Gimana ceritanya?” Saya penasaran.
“Adik perempuan saya sakit, dia ke puskesmas. Sampai di puskesmas dites ternyata positif. Jadi semua orang ditanyain, karena semuanya pada datang waktu pesta jadi satu kampung sekarang nggak boleh kemana-mana.” Demikian ia bercerita.
“Waktu kemarin di kampung nggak pakai masker?” Saya bertanya. Pertanyaan yang sebenarnya saya sudah yakin jawabannya adalah tidak. Di Jakarta ia mengenakan masker karena tidak enak sama saya, manalah mungkin ia akan memakai masker di kampungnya.
“Nggaklah. Orang di sana santai-santai aja kok. Saya tanya sama adik saya, memangnya boleh bikin hajatan sama Pak Lurah? Dia bilang lurahnya lagi pergi. Jadi ya, udah. Orang-orang nggak pakai masker, saya juga nggak pakai. Katanya di sana nggak ada virus jadi kan aman.”
Saya mendengarkan ceritanya sambil membayangkan suasana hajatan di kampung itu. Aman tanpa khawatir bahaya pandemi dan tak perlu menerapkan protokol kesehatan seperti di Jakarta. Alangkah nyamannya.
“Adikmu yang kerja di Jakarta juga nggak pakai masker waktu di kampung?” selidik saya.
“Nggak. Di kampung orang nggak kayak di sini. Santai aja kayak biasa, ngobrol, makan, biasa aja. Dia memang agak sakit waktu hajatan itu tapi nggak dibawa ke puskesmas. Saya juga nggak enak badan waktu itu tapi kayaknya pas ada angin dingin, gitu. Badan kan jadi nggak enak kalau cuaca kayak gitu. Saya bawa tidur aja. Pas di kampung istri, saya banyak tidur. Habis itu segeran badannya, nggak sakit.”
“Jakarta kan zona merah. Banyak kasus covid-nya. Harusnya kamu, adikmu dan anakmu pakai masker.” Sesal saya. Setidaknya kalau esok lusa ia akan ke kampungnya lagi, ia ingat untuk menjalankan protokol kesehatan.
“Kata orang puskesmasnya, orang-orang di kampung sakit karena kemarin pas hajatan banyak orang Jakarta yang datang. Mungkin adik saya itu ya.”
“Bisa jadi. Tapi orang lain bisa aja bawa virus tapi nggak sakit.”
“Kok bisa?”
“Bisa, namanya OTG. Orang Tanpa Gejala. Sebenarnya dia kena virus tapi karena badannya kuat, dia nggak sakit. Nah, pas ketemu orang lain dia bisa nularin virusnya dan bikin orang lain jadi sakit.” Saya berusaha menjelaskan sesederhana mungkin agar ia mengerti.
“Bisa gitu ya?” Ia tampak berpikir.
“Iya, makanya kita perlu pakai masker dan sering cuci tangan. Juga nggak ngumpul-ngumpul dulu. Kalau nggak sengaja kita bawa virus trus nularin orang lain kan kasihan.”
“Iya, kasihan adik perempuan saya di kampung jadi sakit. Tapi saya jadinya tahu kalau covid itu beneran ada,” ujarnya menutup pembicaraan kami.
Saya menarik nafas. Sebuah harga yang terlalu mahal untuk membuktikan sesuatu. Semoga ia mengambil pelajaran dari kejadian itu. Wallahu a’lam.
Mutiara, 30 Desember 2020
Dian L Izwar
“Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah untuk menguji hamba-hambaNya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.”
(HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid)
