Gaji Besar
“Ada di rumah, Bu?” seorang sahabat mengirim pesan. Ia ingin berdiskusi mengenai pekerjaannya.
“Saya ditawari pekerjaan,” ujarnya membuka percakapan.
“Lalu?”
“Saya bingung. Mau diambil atau nggak. Gajinya gede tapi tempat kerjanya di luar daerah. Jauh dari rumah.” Ia mulai bercerita. Tawaran gaji besar dari pekerjaan baru ini sangat menggiurkan. Namun hatinya belum 100% mantap untuk melangkah.
Sang sahabat telah memiliki pekerjaan tetap. Ia mulai menyukai pekerjaannya. Lingkungan kerjanya menyenangkan dan atasannya baik. Tempat kerjanya tidak begitu jauh dari kota tempat ibunya tinggal. Ia merasa nyaman karena apabila ada sesuatu yang mengharuskannya pulang, sarana transportasi tersedia dengan mudah. Gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari meski terkadang pas saja karena ia juga menanggung biaya hidup orang tuanya.
“Gajinya gede…” ulangnya. Tampaknya ini merupakan satu-satunya alasan kuat untuknya berpindah kerja. “…tapi saya nggak tahu apa nanti saya betah di sana. Kerjanya juga lebih berat dari kerjaan yang sekarang,” keraguan terdengar dalam nada suaranya. Kami pun berbincang seputar tawaran kerja ini.
Bagaimana kiat memilih sebuah pekerjaan? Apa yang harus dipertimbangkan?
Semuanya kembali pada nilai pribadi masing-masing. Apa yang dianggap penting dalam hidup menentukan pilihan yang akan diambil. Setiap orang memiliki nilai utama yang menjadi pedoman hidupnya. Ada yang mengutamakan keluarga. Orang tua, anak, pasangan, saudara akan menempati posisi prioritas. Ada yang mementingkan karier. Peluang untuk mengembangkan karier akan menjadi dasar pertimbangan dalam memilih pekerjaan. Kesuksesan, kekayaan, ketenaran, kemandirian, ketenangan, keimanan, hubungan baik, kebebasan, kenyamanan dan banyak lagi nilai-nilai yang dapat menjadi tujuan seseorang dalam hidup. Dengan mengenali nilai pribadinya, seseorang tidak akan sulit untuk mengambil keputusan saat berada di persimpangan.
Kembali pada kasus sang sahabat, jika nilai yang penting baginya adalah keluarga, maka mempertahankan perkerjaan saat ini adalah pilihan. Sebaliknya apabila ia tengah mengutamakan kekayaan, tentunya pekerjaan baru yang akan dipilih dengan segala konsekuensinya. Gaji besar akan memenuhi tujuan ini.
Bicara mengenai gaji, saya teringat pesan Ibu saat mulai menapaki dunia kerja. “Niatkan bekerja untuk mengamalkan ilmu, membantu sesama, menjemput rezeki di jalan Allah.” Menjemput rezekinya berada di posisi terakhir. Hal ini sejalan dengan nilai yang ada dalam keluarga kami. Hidup tidak hanya berhenti di dunia, sehingga apa pun yang kita lakukan hendaknya diniatkan untuk kebaikan di kehidupan abadi nanti. Ini menjadi pegangan saya selama berkerja. Mengamalkan ilmu dan membantu sesama, semoga Allah rida dan menerimanya sebagai amal saleh.
Walau bagaimana pun, sangatlah wajar apabila gaji menjadi bahan pertimbangan saat seseorang memilih pekerjaan. Namun jika ini menjadi tujuan bekerja, maka yang didapatkan hanyalah gaji saja. Sementara apabila bekerja diniatkan sebagai ibadah, maka in syaa Allah kebaikan di akhirat juga bisa diperoleh. Dunia pun biasanya akan mengikuti.
Sejauh pengamatan saya, pada saat seseorang bekerja dengan niat ibadah, maka kualitas kerjanya akan baik. Ia tidak asal bekerja. Konsekuensi dari kualitas kerja yang baik ini adalah imbalan yang juga baik. Mungkin tidak serta merta dalam bentuk kenaikan gaji, bisa jadi berupa rekomendasi dari orang-orang yang merasa terbantu. Rasa terima kasih dan doa mereka membuka kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik. Dalam konteks ini, gaji hanyalah konsekuensi dari hasil kerja, bukan tujuan dari bekerja.
Saya belum tahu keputusan yang akan diambil oleh sang sahabat. Dengan mengembalikan keuntungan dan kerugian dari sebuah pekerjaan pada nilai yang menjadi pedoman utama, in syaa Allah kita akan lebih mudah dalam memilih dan menentukan prioritas. Tentunya juga dengan meminta pertolonganNya.
“Salat istikharah dulu,” ujar saya padanya siang tadi. Semoga Allah membimbingnya menuju pilihan terbaik.
Mutiara, 8 September 2023
Dian L Izwar
”Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya. Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
Siapa yang menghendaki balasan di akhirat, akan Kami tambahkan balasan itu baginya. Siapa yang menghendaki balasan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (balasan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian sedikit pun di akhirat.”
Q.S. Asy-Syura: 19-20
