Salah Mangga
Seusai berakivitas, saya dan suami berniat untuk makan siang bersama. Kami mendatangi sebuah cafe yang baru dibuka. Seorang pramusaji dengan sigap menyambut dan mencarikan tempat duduk. Daftar menu telah tersedia di meja.
Sang pramusaji berdiri di sisi meja dengan sikap sempurna. Ekspresi wajahnya serius saat menjawab pertanyaan kami seputar menu yang ada. Gadis belia itu terkesan tegang menghadapi para tamu, ditambah dengan cara pesan serba elektronik yang belum dimengerti oleh semua orang dan sempat error pula. Tampaknya bukan hanya cafenya yang baru, tetapi pramusajinya pun adalah remaja yang baru memasuki dunia kerja. Serius sekali raut wajahnya ketika melayani kami.
“Salah Mangga itu apa?” Tanya saya saat hendak memesan minuman.
“Pineapple diblender dengan minuman probiotik (ia menyebut sebuah merek) lalu diberi potongan mangga,” jelasnya
“Jus nenas?”
“Iya, Bu.”
“Makanya namanya salah ya, karena bukan jus mangga?”
Gadis itu tersenyum, kemudian berlalu mengurus pesanan kami.
Selang beberapa waktu, seorang pramusaji lain datang membawa nampan berisi gelas.
“Salah Mangga?” tanyanya dengan ekspresi serius, tak jauh berbeda dengan rekannya tadi.
Saya mengangguk.
Saat ia meletakkan gelas di meja, saya menggodanya, “Yang benar ada, Mbak?”
Dia tersenyum lebar.
Saya juga. Senang melihat dua gadis muda dengan raut wajah serius bisa tersenyum siang ini. Semoga hari mereka bertambah cerah.
Senyum adalah cara paling mudah untuk mengubah suasana hati. Pada saat kita senang, kita akan tersenyum. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Pada saat kita tersenyum, kita akan merasa senang. Mengapa? Karena pada saat kita tersenyum, otak akan mendorong produksi hormon-hormon bahagia. Kadar dopamin, endorfin dan serotonin dalam tubuh akan meningkat. Dampak peningkatan ketiga hormon ini adalah berkurangnya rasa sakit, menurunnya stres dan kecemasan serta menimbulkan rasa senang.
Kabar baiknya, otak tidak membedakan senyum alami yang muncul akibat rasa senang atau senyum yang sengaja kita buat. Saat seseorang menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum – meskipun terpaksa, otak akan meresponnya sebagai sebuah senyuman. Jadi pada saat Anda terlalu serius, tersenyumlah. Santailah sejenak. Percayalah, dunia akan terasa lebih indah. Bahkan pada saat Anda sedang tidak ingin tersenyum, paksakan saja. Justru pada saat sedang tidak ingin itulah sebenarnya tubuh Anda membutuhkan sebuah senyuman. Senyum akan membuat tubuh rileks sejenak. Kalau bisa, ajak orang di sekitar Anda untuk tersenyum. Berikan senyum terbaik Anda untuk mereka dan nikmati suasana hati yang lebih baik. In syaa Allah.
Cempaka Putih, 13 September 2023
Dian L Izwar
“Senyummu di hadapan saudaramu adalah (bernilai) sedekah bagimu.”
HR. Tirmidzi
