Love Your Work
Saya sedang memandang bunga mangga saat sebuah suara ramah menyapa, “Sampahnya sudah dikeluarkan, Bu?”
Saya menoleh.
Seorang pemuda berseragam oranye tengah melintasi jalan di depan rumah.
“Sudah, Mas.” Jawab saya seraya tersenyum, membalas senyumnya yang cerah.
“Mobilnya sudah bagus lagi ya?” Saya membuka percakapan.
“Iya, Bu. Sekarang sudah bisa diangkut rutin lagi sampahnya.”
“Alhamdulillah.”
“Mari, Bu…” Ia berlalu sambil menghela kotak plastik besar yang ia fungsikan sebagai tempat sampah sementara. Limbah rumah tangga yang telah terkumpul kemudian dimasukkan ke dalam mobil pengolah sampah yang parkir tidak jauh dari rumah.
Senyum ramah dan nada riang pada suara pemuda itu menarik perhatian saya. Ini bukan kali pertama saya berinteraksi dengannya. Tatkala melihat saya di halaman, ia kerap menyapa lebih dahulu. Sapaannya khas disertai senyum cerah. Terkesan ia sedang senang. Semangatnya terpancar, membuat senang orang yang memandang. Seakan ia sangat menikmati pekerjaannya. Pemuda ini mengingatkan saya untuk mengeluarkan sampah dari dalam rumah agar bisa diambilnya. Ia mau menunggu apabila masih ada sampah yang belum saya keluarkan saat ia tiba. Diantara beberapa petugas yang bekerja mengangkut sampah dari rumah warga, hanya ia yang mempunyai sikap demikian. Yang lain jarang duluan menyapa. Juga tak ada himbauan untuk segera mengeluarkan sampah.
Mengapa petugas yang satu itu berbeda? Saya tidak tahu pasti. Hanya sikapnya mengingatkan saya akan sebuah puisi tentang pekerjaan yang berjudul Love Your Work. Puisi karya H. L. Neri itu kurang lebih berbunyi seperti ini:
“Apabila kita tidak menyukai pekerjaan yang kita lakukan maka kita akan membutuhkan energi tiga kali lipat untuk bekerja. Yang pertama untuk memaksa diri bekerja, kemudian menolak paksaan tersebut dan akhirnya tetap bekerja dengan terpaksa. Sementara apabila kita menyukainya, keinginan untuk mengerjakan pekerjaan itu seperti angin yang mendorong kapal sehingga bahan bakar yang dibutuhkan untuk berlayar menjadi lebih sedikit. Saat kita mencintai sebuah pekerjaan maka kita tidak akan lagi pernah merasa bekerja, yang ada hanyalah rasa senang yang timbul dari interaksi kita dengan pekerjaan tersebut.”
Saya menduga, pemuda itu menyenangi pekerjaannya. Mungkin itu bukan pekerjaan yang diimpikan oleh banyak orang, tetapi sepertinya ia mensyukuri pekerjaan tersebut. Saya katakan mensyukuri karena ia tidak hanya sekedar terkesan senang saat melakukannya, tetapi juga berupaya menuntaskan pekerjaannya dengan baik. Dengan mengingatkan saya untuk mengeluarkan sampah dari rumah, ia seolah memastikan bahwa semua sampah yang ada telah terangkut. Petugas muda itu seperti menjalankan hadis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang mengatakan bahwa apabila seseorang bekerja, maka hendaklah ia mengerjakan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya. Bisa jadi ini juga yang membuatnya tampak riang dalam bekerja, keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik bagaikan angin yang mendorong kapal saat berlayar. Wallahu a’lam. Saya hanya bisa menduga, yang jelas saya terpesona akan sikap kerjanya. Ma syaa Allah. Tabarakallah.
Mutiara, 15 September 2023
Dian L Izwar
“Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, dia menyempurnakan pekerjaannya (itqan).“
HR. Thabrani
