Diuji

“Bunda, Palestina diuji Allah.  Kita juga diuji,” suara bening gadis kecil kami membuat saya menoleh padanya di tengah pembicaraan santai bersama keluarga kemarin sore.

“Diuji?”

“Iya, kita nggak boleh lagi pakai benda-benda ini.”  Ia menunjukkan daftar beberapa produk yang biasa hadir di rumah kami.  Dia baru saja menulis ulang daftar itu di buku catatan hariannya.  Beberapa diantaranya adalah kudapan yang biasa ia konsumsi.  Murid kelas 2 sekolah dasar ini rela tidak lagi membeli produk-produk tersebut demi membela rakyat Palestina. 

Saya merenung.  Kalimat singkat bidadari kecil kami seakan menyimpulkan apa yang sedang terjadi selama hampir 2 bulan terakhir di Palestina.  Serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 telah meluluhlantakkan Gaza.  Roket menghantam bangunan perumahan padat penghuni.  Di tengah kerusakan yang parah, otoritas Israel menghentikan pasokan listrik, bahan bakar, air dan makanan. 

Apa yang terjadi di Gaza sungguh di luar nalar.  Sebuah otoritas memperlakukan manusia tanpa mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan.  Mereka menyebutnya perang.  Namun aturan perang dilanggar habis-habisan.  Wilayah Gaza diblokade hingga tak dapat menerima bantuan dari luar.  Anak-anak dan wanita diserang, ditawan.  Rumah sakit menjadi sasaran rudal.  Pemukiman warga sipil dihujani roket siang malam.  Seorang gadis Palestina menggambarkan apa yang ia rasakan dalam sebuah puisi.

Write My Name
oleh: Zayna Azam

Write my name on my leg, Mama
Use the black permanent marker
With the ink that doesn’t bleed if it gets wet
The one that doesn’t melt if it’s exposed to heat

Write my name on my leg, Mama

Make the lines thick and clear
Add your special flourishes
So I can take comfort in seeing my mama’s handwriting
When I go to sleep

Write my name on my leg, Mama
And on the legs of my sisters and brothers
This way we will belong together
This way we will be known as your children

Write my name on my leg, Mama
And please write your name and Baba’s name on your legs, too
So we will be remembered as a family

Write my name on my leg, Mama
When the bomb hits our house
When the walls crush our skulls and bones
Our leg will tell our story
How there was nowhere for us to run

Saat menerima kiriman puisi ini dalam bentuk video, air mata saya mengalir begitu saja.  Ujian bagi rakyat Palestina tergambar jelas, terpampang di depan mata.  Bagaimana dengan kita?

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).”  Pesan Rasulullah salallahu ’alaihi wassalam yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim ini adalah ujian pertama.  Sudah lembutkah hati kita?  Pedulikah kita akan apa yang tengah berlangsung di Palestina?

Beberapa sahabat sangat terpengaruh hingga benar-benar tak bisa tidur dan gelisah.  Kesehatan mentalnya terganggu.  Hatinya teriris membayangkan apa yang terjadi pada anak-anak Palestina.  Ini adalah ujian kedua.  Turut merasakan kedukaan dan menitikkan air mata melihat penderitaan adalah wajar.  Namun kesehatan mental harus senantiasa terjaga.  Kita perlu menata hati agar tetap dapat melihat dengan obyektif dan berpikir jernih.  Bedakan antara empati dan simpati.  Bagaimana kita dapat membantu jika kita sendiri sedang tidak baik-baik saja? 

Ujian ketiga adalah bagaimana kita membantu.  Apa yang bisa kita lakukan di tengah dunia yang hanya “diam” menyaksikan.  Sebagian masyarakat turun ke jalan, mengusulkan gencatan senjata.  Sebagian lain berjihad di media sosial, menyuarakan keprihatinan dan berbagi informasi.  Ada juga yang berdonasi, menyalurkan tali kasih melalui lembaga-lembaga terpercaya.  Ma syaa Allah, setiap orang membantu dengan apa yang ia bisa.  Sudahkah kita menjadi bagian dari mereka?

MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa salah satu bentuk dukungan yang dapat kita berikan pada Palestina adalah dengan menghindari transaksi dan penggunaan produk-produk yang berhubungan dengan Israel dan mendukung zionisme dan penjajahan.  Sudahkah kita lakukan?  Relakah kita bersusah-susah mencari produk pengganti?  Maukah kita meninggalkan kenyamanan yang selama ini hadir bersama produk-produk tersebut?

Di atas semua itu, satu hal yang dapat dilakukan semua orang adalah doa.  Kita dapat memohon pada Yang Maha Kuasa untuk melindungi saudara-saudara kita di Palestina.  Percaya bahwa pertolonganNya dekat.  Yakin bahwa apa yang kita sampaikan dalam setiap doa akan dijawabNya.  Ujian keempat adalah seberapa yakin kita akan pertolongan Allah?  Seberapa dekat kita padaNya?  Seberapa jauh kita melibatkan Allah dalam setiap langkah hidup kita?

Apa pun yang kita lakukan, Sahabat, semoga kita mampu melewati semua ujian ini dengan amal yang baik.  Semoga Allah subhanahuwata’ala mencatatnya sebagai amal saleh yang mengantarkan kita pada kehidupan terbaik kelak di hari kita kembali padaNya.  Aamiin.

Mutiara, 26 November 2023
Dian L Izwar


Maha Berkah Zat yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
(QS: Al-Mulk: 1-2)


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *