Debat

Setelah menonton acara debat cawapres pada hari Jumat, 22 Desember lalu, saya membuka kamus bahasa Indonesia.  Saya ingin mengklarifikasi pemahaman mengenai makna debat dan meredakan kegelisahan saat melihat cara peserta debat tampil di layar televisi pada hari Jumat itu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi daring, debat didefinisikan sebagai berikut:

debat/de·bat/ /débat/ n pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing

Saya lega setelah membaca definisi ini. Pemahaman saya sejalan dengan makna debat menurut KBBI.  Debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal. 

Debat merupakan upaya saling melengkapi pengetahuan dengan didukung oleh alasan-alasan logis mengenai pendapat yang disampaikan.  Debat memperkaya pemahaman para peserta mengenai hal yang tengah diulas.  Bisa saja apa yang selama ini kita anggap sebagai pendapat terbaik ternyata memiliki sisi lemah dan sangat mungkin pula kita menemukan pendapat yang lebih baik pada saat berdebat.

Debat adalah sebuah kegiatan santun yang memungkinkan para pelaku debat mengekspresikan pemikiran masing-masing.  Ide-ide ini tentu boleh tidak sama, sah saja jika berbeda.  Justru gagasan yang bervariasi inilah yang membuat sebuah perdebatan menjadi kaya.  Dalam konteks debat capres dan cawapres, siapa pun yang kelak terpilih untuk mengemban amanat dapat melaksanakan ide-ide terbaik hasil dari debat para calon presiden dan wakil presiden. 

Untuk dapat mencapai tujuan sebagai sebuah ajang pertukaran pendapat, semua peserta debat perlu mempunyai pemahaman yang sama mengenai pokok pembicaraan dalam diskusi.  Hal yang dimintai pendapat adalah sebuah topik dengan definisi yang telah dipahami bersama.  Pemahaman yang sama ini penting agar para pelaku debat dapat fokus mengelaborasi topik tersebut.

Berbantahan dalam debat adalah lumrah.  Namanya juga berdebat, setiap pihak diharapkan untuk mempertahankan pendapatnya dengan elok sekaligus kritis dalam menanggapi pendapat pihak lain.  Selama argumen yang disampaikan didukung oleh fakta dan logika yang benar, debat menjadi menarik.  Keindahan debat dapat dinikmati dari rangkaian buah pikir yang disampaikan secara santun, logis dan benar.  Ini merupakan etika debat.  Saya menunggu-nunggu hal ini dalam acara yang saya tonton Jumat kemarin.  Membayangkan para calon pemimpin negara mengemukakan pendapatnya secara elegan adalah harapan saya sebagai warga yang rindu sosok pemimpin cendekia.

Kembali pada debat cawapres, bisa jadi tujuan debat ini berbeda.  Jadi, saya mencari peraturan yang memuat aturan debat capres-cawapres.  Saya menemukannya dalam Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 1621 tahun 2023 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Kampanye Pemilihan Umum.  Dalam Pedoman Teknis ini disebutkan bahwa pelaksanaan Debat Pasangan Calon bertujuan untuk:

  1. menyebarluaskan profil, visi, misi, dan program para Pasangan Calon kepada Pemilih dan kepada masyarakat;
  2. memberikan informasi secara menyeluruh kepada Pemilih sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan pilihannya; dan
  3. menggali dan mengelaborasi lebih dalam dan luas atas setiap tema yang diangkat dalam Kampanye Pemilu debat Pasangan Calon

Wah, ternyata ada komponen kampanye dalam tujuan debat cawapres ini.  Wajar jika akan terasa sedikit nuansa persaingan.  Sah saja menonjolkan kelebihan dari gagasan masing-masing.  Namun etika debat tentu perlu tetap dipertahankan.  Tidak perlu merendahkan orang lain untuk tampil lebih unggul, bukan? 

Kepiawaian dalam diri seseorang akan bersinar dengan sendirinya melalui caranya bertindak, bersikap dan bertutur.  Publik akan menilai para calon pemimpin berdasarkan kualitas gagasan yang dikemukakan dan cara penyampaian gagasan tersebut.  Termasuk di dalamnya adalah bagaimana mengelola kesempatan, menyampaikan hal-hal yang fundamental dalam batasan waktu yang ada. 

Saya menanti acara debat capres berikutnya, berharap untuk dapat lebih mengenal para calon pemimpin bangsa sebelum menentukan pilihan.  Masih ada 3 kali kesempatan untuk menikmati acara ini di hari Minggu tanggal 7 Januari, 14 Januari dan 4 Februari 2024.  Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan Indonesia pemimpin terbaik yang akan membawa kesejahteraan bagi negeri ini.  Aamiin.

Mutiara, 28 Desember 2023
Dian L Izwar


Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.

(QS: Al-Hujurat: 12)


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *