Kalau Boleh Jujur…

Kemarin saya dan beberapa teman ngobrol-ngobrol santai mengenai bahasa.  Diskusi ini bermula dari keinginan salah seorang teman untuk belajar bahasa Belanda pada teman kami yang saat ini memang sedang menetap di negara kincir angin tersebut.  Dari pertanyaan mana yang lebih sulit belajar bahasa Inggris atau bahasa Belanda, pembicaraan melebar mendiskusikan berbagai bahasa dan dialek.  Termasuk bahasa Jepang – yang kebetulan sempat dipelajari oleh seorang teman – sampai pada dialek inang-inang di Tapanuli. 

Percakapan mengenai bahasa ini kemudian juga mengulas mengenai budaya.  Kami semua sepakat bahwa bahasa dan budaya saling berkaitan, erat sekali.  Setidaknya itulah kesimpulan dari diskusi santai kami.  Oya, kami bukan ahli budaya dan juga bukan ahli bahasa, kami hanya beberapa orang yang pernah mempelajari perilaku manusia pada saat kuliah dan sama-sama tertarik untuk belajar bahasa. 

Mengenai hubungan bahasa dan budaya, teman yang belajar bahasa Jepang mengatakan bahwa dalam bahasa Jepang tidak ada kata yang pas untuk mengatakan “Sorry, gue telat,” dalam arti datang terlambat karena alasan yang ringan-ringan seperti di Indonesia.  Mengapa? Karena terlambat bukan budaya mereka.  Jadi jika mereka datang terlambat tentulah karena alasan yang sangat kuat.  Dengan demikian, kalimat “Sorry ya, gue telat,” tidak akan diucapkan dengan mudah dalam percakapan sehari-hari.  Dalam konteks yang hampir serupa, teman yang belajar bahasa Belanda pernah menulis frasa “sweet moment” dalam bahasa Belanda.  Gurunya mengatakan sebenarnya tidak ada yang salah dengan frasa tersebut, hanya saja orang Belanda tidak akan pernah bicara seperti itu, kurang pas dengan budaya mereka.

Yang menarik adalah cerita seorang teman yang menguasai beberapa bahasa.  Orang yang dekat dengannya mengatakan bahwa ia tampak berbeda pada saat bicara menggunakan bahasa yang berbeda.  Padahal ia tidak secara sadar ingin tampil berbeda.  Ia malah ingin terlihat sama namun orang lain melihatnya berbeda.  Demikian pula ia mengamati bahwa seorang yang ia kenal baik juga tampak berbeda pada saat bicara dengan bahasa yang berbeda.  Pada saat dikonfirmasi, orang tersebut juga tidak merasa dengan sengaja berubah.  Ia menyimpulkan pada saat menggunakan bahasa tertentu, budaya dari bahasa tersebut secara tak sadar mempengaruhi kita sebagai penutur terutama apabila kita berhadapan dengan penutur asli.  Sampai di sini diskusi kami mengenai bahasa terhenti karena salah satu dari kami perlu memasak untuk menyambut tamu yang akan berkunjung.  

Setelah diskusi virtual mengenai bahasa kami selesai, saya beranjak ke ruang tengah dan mendapati sebuah stasiun televisi sedang menyiarkan wawancara dengan seorang public figure.  Mungkin karena baru saja berdiskusi mengenai bahasa, frasa di awal kalimat public figure itu menarik bagi saya.  Ia mengatakan, “Kalau boleh jujur, saya…bla..bla..bla..”  Saya tercenung sesaat.  Mengapa saya menangkap kesan bahwa penggunaan frasa ini menunjukkan bahwa saat ini jujur menjadi tidak boleh?  Mengapa kesannya jujur bukan merupakan hal yang biasa?   

Saya mengingat-ingat, penggunaan frasa yang bernada serupa sering juga saya dengar dalam percakapan sehari-hari.

“Jujur aja, gue suka ambil semua tawaran yang ditawarin ke gue.”

“Jujur, selama pandemi ini kalau aku kangen pengen ke kampus.”

“Sumpah, ini enak banget.  Lu mesti coba.” 

Bahkan untuk mengatakan sebuah makanan enak saja, seseorang menggunakan kata sumpah – yang  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhannya dan sebagainya).  

Saya kembali merenung.  Mengapa kita perlu bersumpah untuk mengatakan sebuah makanan enak?   Mengapa kita perlu minta izin untuk menyampaikan sebuah hal secara jujur?  Apakah ini mengisyaratkan bahwa dalam masyarakat kita kebohongan sudah merupakan hal yang lazim?  Fenomena apa yang tengah terjadi?  Mungkinkah hoax telah menjadi budaya?  Na’uudzubillahi min dzaalika.

Mutiara, 2 Agustus 2020

Dian L Izwar


Hendaklah kamu selalu jujur karena kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu akan membawa ke dalam surga.

HR. Bukhari & Muslim


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *