Ratu & Permaisuri

Wanita muda di hadapan saya berlinang air mata.  Sedih dan kecewa membayang di wajahnya.

“Dia nggak adil, Bu,” ujarnya dengan mata basah.

Saya mendengarkan, membiarkan anak sungai jernih mengalir di kedua pipinya.  Semoga setiap bulir yang jatuh dapat membasuh lara, sekaligus menumbuhkan secercah harapan di hati yang sedang terluka.

“Dia selalu menomorsatukan ibunya,” ungkapnya di sela isak.

“Pernah kita lagi jalan.  Dia sudah janji mau jalan sama saya.  Tiba-tiba ibunya telepon.  Dia langsung putar balik, jemput ibunya dan ajak jalan bareng.  Padahal dia kan sudah janji mau jalan sama saya.  Jalan sama istrinya!”

Relasi antara menantu dan mertua terkadang tak selalu mulus.  Adakalanya timbul rasa cemburu karena pria yang dicintai lebih memprioritaskan ibunda dibandingkan wanita yang telah dipilihnya untuk  menjadi istri.  Hal ini kerap menimbulkan ketidaknyaman dalam rumah tangga.  Bukan saja bagi sang istri tetapi juga bagi suami.

“Pada saat menikah, seorang wanita sering dikatakan sebagai ratu rumah tangga, benar?” tanya saya.

“Benar.”

“Kalau istri jadi ratu, suaminya jadi apa?”

“Raja,” jawabnya pasti.

“Apakah ada sebuah kerajaan yang memiliki raja dan ratu sekaligus?”

Perempuan di hadapan saya terdiam. 

“Saat Ratu Elizabeth II memerintah Inggris, apakah suaminya juga menjadi raja?” tanya saya membantunya menemukan jawaban.

“Nggak.”

“Jadi pendamping raja bukan ratu tetapi…?”

“Permaisuri.”

“Betul.  Apakah kekuasaan permaisuri sama dengan raja?”

“Permaisuri di bawah raja.”

“Kalau begitu siapa yang bisa memerintah raja?”

“Ibu Suri?” jawabnya pelan.

Saya mengangguk.

Dalam sebuah kerajaan, keputusan akhir ditentukan oleh raja.  Permaisuri tentu saja boleh mengajukan usul atau pendapat.  Namun tetap raja yang menentukan langkah apa yang akan diambil. 

Di sisi lain, ibu suri sebagai wanita yang melahirkan raja selalu mempunyai hak atas anaknya.  Hak seorang ibu terhadap putranya tidak berubah meski bayi mungilnya kini telah menjadi orang yang paling berkuasa.  Ibu tetap berhak atas anak laki-lakinya sampai kapan pun, terlepas dari peran yang sedang dijalankan oleh sang anak. 

Memahami peran masing-masing dalam konteks rumah tangga akan membantu suami dan istri menyesuaikan harapan terhadap pasangannya.  Menyadari posisi istri sebagai permaisuri akan membuat seorang wanita memahami mengapa suaminya segera datang saat sang ibu memanggil.  Ibu suri adalah wanita pertama yang dicintai raja dan akan selalu ada di hatinya.  Mengapa kita tidak membantunya menyenangkan sang ibu?  Sebagai istri, tentunya kita tak ingin mencipta gundah di hati suami tercinta karena harus memilih antara dua wanita yang disayanginya. 

“Percaya deh, nanti dia akan tambah sayang sama istrinya,” ujar saya menggoda.

Selintas senyum lewat di wajah yang sedari tadi sendu.

“Dicoba ya.  Jangan bersaing sama mertua, tapi dampingi suami untuk berbakti pada ibunya.”

Ia mengangguk.  “Saya coba, Bu.”

“Alhamdulillah, semoga Allah mudahkan.”

Sore itu saya diingatkan lagi tentang peran istri dan bakti anak pada ibunya.  Semoga kita dapat menata hati, menaati suami dan mendampingi beliau dalam menjaga pintu surga yang ada di dunia.  Wallahu a’lam.

Mutiara, 11 Juli 2024
Dian L Izwar


“Orang tua adalah pintu surga yang paling baik. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.”
(HR. Tirmidzi).


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *