Emosi Ibu
“Selama hamil anak pertama ini, saya sering sedih, Bu. Suami jarang pulang. Kami selalu ribut. Sembilan bulan kami berantem terus. Apa ada pengaruhnya ke anak saya ya, Bu? Sekarang dia jadi suka melamun dan mudah marah.”
Dinding ruang konseling menjadi saksi lara sang ibu. Sebuah situasi yang tak dapat ia elakkan saat hamil membawanya ke ruang konseling bersama sang buah hati. Ini bukan kasus pertama di ruang praktik saya.
Penelitian menunjukkan adanya pengaruh emosi ibu selama kehamilan pada perkembangan emosi janin yang dikandungnya. Kecemasan, kesedihan, atau kemarahan ibu selama mengandung berhubungan dengan kecemasan dan impulsivitas anak pada masa perkembangannya. Terlebih bila emosi ini dirasakan oleh ibu dalam waktu yang cukup lama pada saat mengandung.
Demikian pula, bila ibu menjalani kehamilannya dengan tenang, optimis, dan penuh rasa syukur maka emosi-emosi positif ini juga akan mempengaruhi janin yang dikandungnya. Sang bayi akan berkembang menjadi pribadi yang lebih mudah mengelola emosi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga emosi ibu agar tetap positif selama masa mengandung.
Saya teringat pada kebiasaan mengidam pada budaya kita. Seorang suami sangat diharapkan memenuhi permintaan istrinya yang sedang hamil, meski terkadang yang diminta adalah hal-hal remeh atau aneh. Saya rasa tujuannya adalah untuk menyenangkan hati sang istri, membuat istri yang tengah mengandung merasa diperhatikan, didengar dan didukung. Ini merupakan 3 kebutuhan emosional dasar seseorang yang sedang beradaptasi dengan perubahan. Kita tahu bahwa kehamilan membawa perubahan hormonal yang besar pada diri seorang wanita. Hal ini juga diikuti dengan perubahan peran menjadi seorang ibu dengan seluruh tanggung jawabnya. Perubahan-perubahan ini berpotensi membawa ketidakstabilan emosi. Nenek moyang kita telah “menjaga” emosi ibu dengan memanjakan sang ibu hamil melalui budaya mengidam. Ma syaa Allah.
Di samping itu juga dikenal kebiasaan masyarakat yang mendorong ibu hamil membaca surat Maryam atau surat Yusuf selama mengandung. Untuk memotivasi, terkadang disampaikan bahwa hal ini nanti akan mempermudah persalinan atau membuat sang bayi menjadi tampan dan saleh seperti nabi Yusuf. Sang Ayah pun dianjurkan untuk membacakan Al-Qur’an pada janin yang masih berada di perut ibunya. Dari kacamata psikologi, saya melihat kebiasaan ini bertujuan untuk mendekatkan ibu dengan Al-Qur’an dan membuat ibu senantiasa mengingat Allah melalui lantunan ayat suci. Bukankah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang? Ma syaa Allah. Kebiasaan ini pada hakikatnya juga mengupayakan ketenangan hati yang berdampak pada kestabilan emosi ibu selama mengandung.
Pada sebuah seminar mengenai mengelola emosi pada ibu hamil di Jakarta beberapa waktu lalu, tergambar bahwa perlakuan “istimewa” pada saat hamil membuat seorang ibu merasa lebih nyaman dengan kehamilannya. Sebaliknya proses kehamilan dapat terasa sangat berat saat ibu hamil kurang mendapat dukungan dari pasangan atau keluarga dekat. Di sini peran kita diperlukan. Memberi dukungan positif pada ibu hamil adalah investasi bagi terciptanya penerus bangsa yang cerdas secara emosi.
Dalam semangat Hari Ibu yang diperingati pada tanggal 22 Desember kemarin, marilah kita bersama-sama memberikan dukungan positif pada semua ibu hamil yang kita temui. Memberi senyuman, sapaan hangat, doa selamat, dan mengupayakan kemudahan saat bertemu di jalan atau kendaraan umum adalah hal kecil yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Sampaikan rasa bahagia dan terima kasih kita pada setiap ibu yang sedang mengandung calon penerus bangsa. Saat sang ibu bahagia, in syaa Allah janinnya pun akan merasakan hal yang sama. Kesehatan mental bangsa berawal dari kesehatan mental ibu semasa mengandung sang penerus generasi. Bismillah. Mari berpartisipasi dalam mendukung kesejahteraan emosi ibu hamil sejak dini. Salam sehat mental untuk seluruh ibu di bumi Pertiwi.
Mutiara, 23 Desember 2025
Dian L Izwar.
“Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.
(QS. Lukman: 14)
