Keistimewaan Shahih Bukhari
Pendahuluan
Al-Hafizh Abu al-Hajjaj al-Mizzi seorang ulama hadis terkemuka menyatakan bahwa Shahih Bukhari adalah kitab paling penting dalam kitab-kitab hadis. Mengapa demikian? Tulisan ini bertujuan untuk meninjau perjalanan Imam Bukhari dalam menyusun kitab hadisnya beserta metodologi yang digunakan dalam penyusunannya. Pemahaman mengenai metodologi dan proses penyusunan ini diharapkan dapat menjelaskan mengapa kitab Sahih Bukhari mendapat kedudukan penting dalam Islam serta meningkatkan keinginan masyarakat untuk menggunakan kitab ini sebagai rujukan hadis dalam kehidupan sehari-hari.
Riwayat Hidup Imam Bukhari
Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah al-Ja’fi bin Bardzibah lahir tahun 194 H/810 M, sebutan Al-Bukhari merujuk pada kota Bukhara tempat ia dilahirkan. Ayahnya yang pernah berguru pada Imam Malik meninggal saat Imam Bukhari masih kecil tapi meninggalkan sebuah perpustakaan pribadi bagi putranya. Dalam asuhan ibunya, Imam Bukhari belajar menghafal Al-Qur’an sedari kecil.
Imam Bukhari mulai belajar hadis sebelum berumur 10 tahun. Menjelang usia 16 tahun beliau sudah hafal semua sanad dan matan hadis dalam kitab karangan Ibnu al-Mubarak dan al-Waqi’. Di samping menghafal kitab, Imam Bukhari juga mempelajari biografi semua rawi pada satu sanad hadis secara lengkap.
Imam Bukhari berhaji pada usia 16 tahun, kemudian menetap di Mekah untuk belajar hadis. Kitab Qadlaya Al-Sahabah wa Al-Tabiin ditulisnya 2 tahun kemudian. Pada usia 18 tahun, Imam Bukhari pindah ke Madinah dan menulis At-Tarikh al Kabir yang berisi lebih dari 1000 biografi ulama.
Selanjutnya Imam Bukhari melakukan perjalanan ke berbagai kota seperti Syam, Baghdad, Wasit, Basrah, Bukhara, Kufah, Mesir, Harah, Naisabur, Qarasibah, ‘Asqalan, Himsh, dan Khurasan untuk belajar hadis. Beberapa kota bahkan dikunjunginya berkali-kali. Ada 1080 guru hadis yang ditemui dalam masa belajar ini, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal. Kepakarannya di bidang hadis membuat Imam Bukhari mendapat gelar Imam Muhaddisin, yang berarti pemimpin para ahli hadis.
Imam Bukhari wafat pada usia 62 tahun di Khartank dalam perjalanan memenuhi undangan untuk tinggal di Samartand setelah sebelumnya menetap dan mengajar di Bukhara.
Keistimewaan Pribadi Imam Bukhari
Imam Bukhari senang belajar dan mempunyai kemampuan mengingat yang sangat kuat. Beliau mengumpukan 600.000 hadis dan menghafal 100.000 hadis sahih serta 200.000 yang tidak sahih. Beliau pernah diuji oleh 10 ulama hadis di Bagdad dengan 100 hadis yang sanad dan rawinya sengaja diacak. Imam Bukhari mengundang decak kagum dengan membetulkan setiap hadis tanpa satu pun kesalahan dalam letak matan dan rawinya.
Imam Bukhari adalah seorang fakih dan ahli ibadah. Selama Ramadan, beliau khatam Al-Qur’an setiap 3 malam dalam shalat di malam hari dan 1 kali sehari di luar shalat di siang harinya. Imam Bukhari juga mempunyai kebiasaan shalat sebelum menulis kitab. Beliau shalat 2 rakaat setiap kali menulis sebuah biografi dalam At-Tarikh Al Kabir. Sementara pada saat menulis Shahih Bukhari, beliau mandi dan shalat 2 rakaat sebelum menuliskan setiap hadis di dalam kitab tersebut.
Riwayat Penyusunan & Metodologi Sahih Bukhari
Kitab hadis Imam Bukhari berjudul al-Jâmi’ al-Musnad as-Shahîh al-Mukhtasar min Umûri Rasûlillah Shallalâhu Alaihi Wasallam wa Sunanihi wa Ayyâmihi. Dari namanya, tergambar bahwa kitab ini adalah sebuah kumpulan lengkap hadis sahih yang sanadnya tersambung. Kitab yang berisi 7008 nomor hadis ini disusun atas dorongan gurunya untuk menulis buku mengenai hadis sahih karena pada masa itu catatan hadis masih tercampur antara yang sahih, hasan dan daif. Kitab ini terdiri dari hadis-hadis sahih yang dipilih melalui proses seleksi ketat dari 600.000 hadis selama 16 tahun.
Proses pengumpulan hingga penulisan kitab hadis Imam Bukhari membutuhkan waktu cukup lama. Selama masa tersebut Imam Bukhari berguru pada berbagai ulama hadis di banyak kota dan menyeleksi hadis-hadis yang beliau pelajari untuk mendapatkan hadis yang sahih dengan cara:
- Menelusuri satu per satu jalur perpindahkan hadis antar rawi hingga sampai pada Imam Bukhari (ittisal al-sanad).
Pada tahap ini Imam Bukhari menambahkan syarat bahwa murid harus bertemu langsung dengan gurunya. Syarat inilah yang membuat Shahih Bukhari menjadi lebih ketat dalam menetapkan hadis sahih. Tidak semua ulama hadis menetapkan syarat bertemu langsung dalam mengevaluasi sanad hadis.
- Meneliti biografi rawi dan memastikan setiap rawi memenuhi syarat hadis sahih dari sisi:
- Al-‘adalah, yaitu muslim yang balig, jujur, berakhlak terpuji dan menjaga kehormatan diri. Di samping moralitas, kredibilitas dan reputasi yang tinggi, Imam Bukhari menetapkan lamanya waktu belajar bersama guru sebagai syarat diterimanya rawi.
- Al–dhabt, yaitu mempunyai hafalan yang kuat dan cermat atau memiliki catatan yang baik.
- Adam al-syudzudz, yaitu tidak ada pertentangan dengan riwayat yang lebih kuat.
- Adam al-ʿillah, yaitu tidak ada cacat tersembunyi yang bisa merusak tersambungnya sanad atau matan dari hadis tersebut.
- Memastikan tidak terdapat kejanggalan atau cacat pada matan hadis.
Metode yang sangat teliti dalam menganalisa kehidupan setiap rawi dan ketersambungan sanad yang ditandai dengan pertemuan langsung membuat para ulama yakin tidak ada hadis lemah yang masuk di dalam Shahih Bukhari. Metode Imam Bukhari ini memberi sumbangan besar dalam verifikasi hadis dan berperan penting dalam sistem klasifikasi hadis.
Pandangan Ulama terhadap Sahih Bukhari
Kitab Shahih Bukhari diakui oleh para ulama sepanjang masa sebagai kumpulan hadis sahih. At-Tirmidzi mengatakan tidak ada yang mengetahui cacat tersembunyi dalam sebuah hadis lebih baik dari Imam Bukhari. Menurut Ibnu Khuzaimah tidak ada orang yang lebih banyak hafal hadis dari Imam Bukhari. Sementara Al-Hafizh adz-Dzhabi mengatakan Shahih Bukhari adalah kitab yang agung setelah kitab Allah. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani memuji niat baik Imam Bukhari dalam mengumpulkan hadis sehingga semua menerima Shahihnya, baik orang yang menyelisihinya mau pun yang menyetujuinya. Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan bahwa para ulama sepakat untuk menerima Shahih Bukhari dan semua yang ada di dalamnya, demikian pula umat Islam. Shahih Bukhari merupakan kitab hadis pertama yang hanya berisi hadis sahih sekaligus memuat semua hal tentang pembahasan agama. Para ulama menganggap Shahih Bukhari merupakan kitab hadis terbaik dari sisi kesahihan hadis dan kelengkapan isinya.
Kesimpulan
Shahih Bukhari adalah karya yang lahir dari pribadi cemerlang dan ahli ibadah sebagai wujud kecintaan untuk menjaga kemurnian hadis Rasulullah. Proses panjang dalam pengumpulan hadis disertai analisis mendalam, ketelitian yang tinggi dan ketatnya syarat penetapan sebuah hadis sahih menjadikan Shahih Bukhari sebuah kitab terbaik yang diakui dan terus menjadi pedoman bagi para ulama sesudahnya.
Dian L. Izwar
BMAIS IOU – FALL 2025
Catatan:
Artikel ini merupakan salah satu tugas dalam mata kuliah Hadis pada program Bridging Master of Islamic Study di International Open University.
Daftar Pustaka
- Amelia, F., Azmi, M. U., Mushaffa, A., Islam, M. T., & Ikmah, A. D. (2025). Kodifikasi Hadis Imam Bukhari: Pendekatan historis terhadap metode penyusunan dan kontribusi dalam ulumul hadis. JERKIN Journal, 4(2), 9677–9689. https://jerkin.org/index.php/jerkin/article/view/3273
- Luthfi, H. (2020). Biografi Imam Bukhari. Jakarta: Rumah Fiqih Publishing. Diambil dari Biografi Imam Bukhari (w. 256 H) – Hanif Luthfi, Lc., MA | Buku PDF Rumah Fiqih
- Muchtar, E. H. (2023). Analisis deskriptif Kitab Shahih al-Bukhari. Jurnal Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Asy-Syukriyyah, 5(1), 35–50. https://jurnal.asy-syukriyyah.ac.id/index.php/JIQTA/article/download/187/137
- Muhsin. (2021). Kajian Tafsir dalam Kitab Sahih Bukhari. Jurnal Garuda Kemdikbud. http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1290116&val=14327&title=KAJIAN%20TAFSIR%20DALAM%20KITAB%20SAHIH%20BUKHARI
- Tohari, C. (2024). Otoritas Sahih Bukhari sebagai Kitab Hadis Rujukan dalam Hukum Islam. Istinbath: Jurnal Hukum Islam. Universitas Muhammadiyah Surabaya. https://e-journal.metrouniv.ac.id/istinbath/article/download/3171/2515/15039
