Jangan Belikan Anak Anda Mainan

Jangan belikan anak Anda mainan.  Ya, saya serius.  Jika anda sayang pada anak-anak Anda, jangan belikan mereka mainan.  Lalu mereka akan main apa? Mungkin pertanyaan ini yang muncul dalam diri Anda saat membaca tulisan ini.  Jawabnya: biarkan mereka menciptakan mainannya sendiri.

Coba Anda ingat-ingat lagi saat anak-anak kita masih bayi.  Mereka menciptakan mainannya sendiri.  Mereka bermain dengan tangannya, kakinya, selimutnya bahkan kita pun mereka jadikan mainan.  Mereka menciptakan keasyikannya sendiri.  Mereka mengamati benda-benda yang ada disekitarnya dan menciptakan sebuah permainan dengan menggunakan benda-benda itu.  Mereka akan melakukan berbagai hal sehingga benda yang bagi kita biasa-biasa saja menjadi menarik bagi mereka.

Anda tentunya masih ingat saat Anda tertawa spontan melihat aksi mereka berputar-putar dengan keranjang cucian di kepala atau mengambil peralatan make up Anda dan berubah menjadi gadis kecil berwarna biru keemasan.  Juga saat mereka mengambil kacamata Anda dan memakainya secara terbalik, juga saat mereka mengulang-ulang mencoret dinding kamar mereka dengan apa saja yang bisa menimbulkan goresan.  Mereka asyik dengan kegiatan ini, mereka menciptakan permainan dari hal-hal yang mereka temukan di sekitar mereka. 

Para ibu biasanya akrab dengan kalimat:   “Waspadalah jika buah hati Anda diam tak bersuara dalam jangka waktu yang lama.” Kenapa? Karena biasanya mereka sedang asyik melakukan sesuatu yang menyenangkan bagi mereka tapi belum tentu “menyenangkan” bagi kita.  Gadis kecil saya pernah asyik tak bersuara beberapa lama dan pada saat saya dekati ia sedang asyik menuang air ke atas sofa.  Mengisi gelas dengan air dari dispenser dan menuangnya di atas sofa, ia heran karena air itu “hilang”. Ia kemudian mengambil air lagi dan menuang lagi dan airnya hilang lagi.  Dia asyik sekali.  Dia menemukan sendiri permainan air menghilang ini.  Dia akan mencobanya, lagi dan lagi.

Jika kita sebagai orang tua mendukung mereka untuk terus bereksplorasi dan bereksperimen dengan lingkungan yang ada di sekitarnya, in syaa Allah anak akan terus mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas mereka.  Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, dan tidak mudah merasa bosan.  Mereka dapat secara aktif mencari cara untuk menemukan aktivitas yang mengasyikkan bagi mereka.  Mereka dapat mengisi waktu mereka sendiri.  Ini adalah buah dari kesabaran kita sebagai orang tua saat mendukung mereka menjelajah, mencoba dan memuaskan rasa ingin tahu mereka. 

Sayangnya kita terkadang tidak sabar. Kita tidak sabar untuk “mengeringkan sofa” yang mereka basahi.  Kita tidak sabar melihat dinding kamar yang penuh coretan.  Kita tidak rela alat make up kita mereka habiskan.  Kita tidak mau repot atau mungkin kita terlalu sayang pada anak-anak kita sehingga kita membelikan mereka mainan agar mereka asyik dengan mainan.  Apa yang salah dengan mainan?  Ini mainan edukatif lho, merangsang anak untuk bisa A, B, C sampai Z.  Apa yang salah dengan membelikan mereka mainan? 

Pada saat kita membelikan anak-anak mainan, mereka mengenal satu bentuk baru dalam aktivitas bermain yaitu langsung memainkan mainan yang diberikan pada mereka.  Meskipun mainan tersebut merangsang banyak hal yang baik bagi tumbuh kembang mereka, mereka hanya memainkannya saja.  Mereka tidak lagi menciptakan mainan.  Kita telah mengambil satu keterampilan penting dari anak-anak kita saat membelikan mereka mainan, yaitu keterampilan untuk menciptakan mainan.  Bertambah banyak mainan yang kita belikan, bertambah tumpul pula keinginan mereka untuk membuat mainan sendiri.  Lama-lama, keterampilan ini hilang.  Inilah yang menyebabkan banyak ibu kehabisan akal untuk mencari aktivitas untuk anak-anak mereka yang terpaksa harus di rumah di masa pandemi ini.  Seorang teman menulis di sebuah media sosial, “Duh, mati gaya nih.  Anak-anak tambah lama belajar di rumah.  Gimana ya, biar mereka nggak bosan?” Teman yang lain menulis, “Ada ide buat bikin anak betah di rumah dan nggak kebanyakan aktivitas screen time?”  Anak-anak ini sudah terbiasa diberi mainan sehingga mereka tidak mau lagi dan atau tidak mampu lagi mencari cara untuk mengisi waktu mereka secara mandiri.  Mereka terbiasa tinggal menelan makanan yang disuapkan ke mulut mereka.  Kita perlu melatih anak-anak kita untuk memasak, bukan hanya sekedar makan apalagi hanya tinggal menelan.  Bagaimana caranya?  Ajak mereka membuat mainan. 

Jangan belikan mainan tapi lihatlah apa yang ada di sekeliling Anda dan ajak anak bersama-sama membuat mainan dari benda-benda yang ada.   Anda bisa mengajak mereka membuat berbagai bentuk dari kertas, misalnya boneka lengkap dengan rumahnya, wayang-wayang kecil, aneka gambar binatang, beragam bentuk mobil atau apa saja yang mereka inginkan.  Anda juga bisa mencari gambar-gambar di majalah, mengguntingnya dan menempelkannya di kertas karton yang cukup tebal.  Libatkan mereka dalam proses pembuatannya sehingga mereka mempunyai pengalaman membuat dan melihat Anda membuat sesuatu yang bisa dijadikan mainan.  Gadis kecil saya akan asyik sekali saat saya mengajaknya menggunting-gunting kertas.  Saking asyiknya ia menggunting majalah koleksi yang memuat artikel yang saya tulis.  Saya marah? Tidak.  Itu adalah bagian dari kesabaran dalam menemani anak-anak kita.  Prinsip saya: Anak jauh lebih berharga dari benda apa pun yang dijadikannya mainan. 

Cara lain untuk mengasah kreativitas anak adalah dengan melibatkan mereka dalam aktivitas kita sehari-hari dan menciptakan rasa senang dari aktivitas tersebut.  Saya mengajak gadis kecil saya ke dapur sejak ia bayi.  Sekarang usianya 4,5 tahun.  Jika saya ke dapur, ia akan ikut ke dapur.  Ia akan “merapikan” laci-laci dapur saya.  Dia akan asyik dengan aktivitas itu selama saya memasak.  Ada konsekuensinya?  Tentu.  Sendok saya akan berpindah tempat.  Panci saya akan berada diluar karena tidak muat lagi di dalam laci setelah “disusun” ulang olehnya.  Namun ia bahagia, saya juga.  Saat ini dia sudah mulai ikut “memasak”.  Dia menemukan wajan kecil dan ringan yang langsung dinamainya “wajan Kakak” dan dia memasak pura-pura di wajan itu.  Dia juga menemukan bagian dari dandang yang berkaki dan dijadikannya kompor. “Bunda masak di sana, Kakak masak di sini,” ujarnya.  Dia menentukan sendiri area memasaknya dan menciptakan kompor dan wajannya sendiri.  Dia bisa berimajinasi memasak berbagai hal dan bahkan kadang-kadang ia bilang masakannya gosong 😊.

Di samping memasak,  saya juga mengajaknya mencuci pakaian, menjemur, melipat jemuran dan menyetrika.  Saya mengenalkan dan melibatkannya  pada semua aktivitas saya di rumah.  Dia senang dengan semua aktivitas ini.  Kami berlomba melipat baju.  Dia senang, saya terbantu.  Gadis kecil saya juga suka menyapu dan mengepel.  Kalau saya sudah memegang sapu, ia akan memintanya.  Yah, saya tinggal mengambil kain pel. 

Kami juga suka menggambar bersama, awalnya ia meminta saya menggambar semua hal yang terpikir olehnya.  Sekarang ia yang menggambar semua hal yang terlihat olehnya.  “Ini AC, Bunda.  Ini gorden, ini lantai.”  Ia akan asyik dengan buku dan pensilnya.  Pada saat saya bekerja di laptop, ia juga akan mengetik di keyboard komputer yang memang saya berikan untuknya.  Keyboard itu sudah tidak bisa dipakai lagi.  Ia akan mencari karton yang ada tulisannya dan meletakkan keyboard-nya di depan tulisan itu lalu mulai mengetik.  Saya asyik dengan laptop saya, ia asyik juga.   

Intinya, ajaklah anak-anak kita menciptakan sesuatu dari dirinya atau mengolah hal-hal yang ada di sekitarnya menjadi sesuatu yang menarik baginya.  Butuh waktu? Iya.  Butuh kesabaran? Iya.  Namun hasilnya akan luar biasa. 

Sebagai orang tua, kita tentu ingin membahagiakan anak-anak kita.  Melihat mereka bahagia, kita merasa lebih bahagia.  Mari berikan mereka bekal untuk dapat mencipta bahagianya sendiri.

Mutiara, 8 Juli 2020

Dian L Izwar


“Sungguh di dalam surga itu ada rumah yang disebut rumah kebahagiaan yang tidak dimasuki kecuali orang yang membahagiakan anak-anak kecil.”

HR. Abu Ya’la dari Aisyah ra.


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *