Gadis Kecil dalam Kelambu
Gadis kecil saya menemukan sebuah kelambu bayi saat membantu saya membereskan kamar.
“Ini kelambu aku ya?” tanyanya ingin tahu.
“Bukan, kelambu Kakak warnanya biru. Kakak ingat?”
“O iya,” ujarnya sembari mengamati kelambu hijau di tangannya. Kelambu itu terlihat kecil dibandingkan dengan ukuran tubuhnya di usia 4,5 tahun ini.
“Aku masuk yaa..” ujarnya seraya membuka ritsleting kelambu. Tubuhnya kemudian meringkuk memenuhi kelambu kecil itu dengan posisi yang lucu sekali. Ekspresinya pun lucu, antara kesulitan memposisikan tubuhnya dan senang karena akhirnya bisa masuk. Melihat ekspresi itu saya refleks menjangkau ponsel. Saya harus cepat mengabadikan momen ini dengan kamera ponsel saya. Saya ingin berbagi peristiwa ini dengan ayahnya, kakeknya, neneknya, tantenya atau teman-teman dekat saya. Saya ingin mereka melihat betapa lucunya gadis kecil dalam kelambu itu. Sesuatu yang mungkin nanti tidak akan terulang lagi.
Secepat refleks saya menjangkau ponsel, secepat itu pula otak saya memerintahkan tangan saya untuk berhenti. Saya tak jadi menyentuh ponsel. Perhatian saya kembali sepenuhnya tertuju pada gadis kecil dalam kelambu di hadapan saya. Dia memanggil saya, dia ingin saya melihatnya berbaring dalam kelambu. Dia meminta saya memasang ristleting sampai semua tertutup rapat, lalu dia minta saya membukanya kembali. Dia menjulurkan kepalanya keluar pintu kelambu disertai tawa riang. Sesaat kemudian ia kembali masuk ke dalam kelambu dan meminta saya menutup lagi ritsletingnya. Kami tertawa bersama dalam proses buka tutup ristleting itu. Dia ingin saya bermain bersamanya.
Saya bersyukur telah memutuskan untuk hadir bersamanya saat itu. Saya benar-benar ada di sana menikmati waktu bermain kelambu dengannya tanpa ada hal lain yang menjadi perhatian saya. Pusat perhatian saya sepenuhnya adalah kebersamaan kami. Kami sangat menikmati momen itu, terutama saya. Tawa riangnya tadi siang masih terngiang, menciptakan rasa hangat di hati dan senyum di wajah saya.
Saat saya membuat tulisan ini, ia telah tidur di samping saya. Saya mengamatinya tertidur pulas, damai sekali rasanya. Semoga saya selalu ingat untuk bisa hadir seutuhnya saat berada bersamanya. Terkadang saya tergoda untuk merekam aktivitas-aktivitas yang dilakukannya. Proses merekam ini membuat saya “keluar” dari kebersamaan kami. Saya melihatnya dari balik lensa, saya tidak terlibat di dalam proses yang sedang terjadi. Keinginan untuk mengabadikan sebuah momen membuat saya tidak lagi bermain dengannya. Saya ada di sana, tapi saya tidak ada untuknya. Begitu melihat ada hal yang menarik, pikiran saya melayang mencari ponsel. Saya “meninggalkan” saat-saat menyenangkan di sini dan sekarang untuk mengejar sesuatu yang akan dinikmati nanti di masa yang akan datang. Bisa jadi masa yang akan datang itu tidak akan datang, kan?
Terkadang saya berdalih, saya merekam karena saya ingin berbagi dengan orang lain. Bukankah saya bisa bercerita? Mengapa saya harus menunjukkan foto atau video gadis kecil dalam kelambu? Saya kan bisa menceritakan saja kejadian itu. Dari pada mengirimkan foto atau video mengapa tidak saya ajak gadis kecil saya bercerita tentang permainan buka tutup kelambu kami pada ayahnya saat nanti mereka bertemu?
Kehadiran kita secara utuh saat berada bersama si buah hati akan berpengaruh besar dalam proses tumbuh kembangnya. Mereka akan merasa bahwa mereka penting. Mereka akan merasakan kasih sayang kita. Mereka akan mengingat bahwa kita selalu ada untuk mereka, in syaa Allah.
Mutiara, 20 Juli 2020
Dian L Izwar
“Orang yang tidak mengasihi tidak dikasihi.” HR. Bukhari.
