Bila Dikritik Anak

Saat berbagi tips mengenai “Dampingi Remaja Hadapi Tantangan” di Gedung Balaikota Depok pada hari Selasa yang lalu, ada beberapa pertanyaan peserta yang menurut saya menarik.

“Kalau kita dikritik oleh anak, kita harus bagaimana, Bu?”  Demikian seorang ibu bertanya.

“Kalau dikritik, bagian mana dari diri kita yang terganggu?”

“Hati, Bu,” jawabnya.

“Ya.  Hati kita menjadi tidak nyaman karena ego kita terusik.  Benar?”

Sebagian besar peserta yang terdiri dari para ibu yang mempunyai anak remaja itu mengangguk.

Sebagai orang tua, kita cenderung memposisikan diri di atas anak.  Ayah dan ibu lebih tahu dalam segala hal.  Posisi yang tinggi ini membuat kita jadi anti kritik.  Mendapatkan kritik seolah menyatakan bahwa kita salah atau tidak mampu.  Perasaan disalahkan dan tidak mampu ini tidak sejalan dengan posisi superior orang tua.  Keakuan dirinya menjadi terganggu.  Inilah yang kerap menimbulkan rasa tidak nyaman di hati ayah dan ibu saat menerima kritik dari anak.

Pada saat anak-anak kecil, memang benar orang tua lebih tahu dalam banyak hal karena pengalaman dan pengetahuan anak masih terbatas.  Namun seiring dengan perkembangan kemampuan kognitifnya, perbendaharaan pengetahuan anak pun bertambah.  Pada saat mulai sekolah, anak berinteraksi tidak hanya dengan keluarga di rumah tetapi juga dengan teman-teman dan guru.  Mereka belajar banyak hal, termasuk sesuatu yang mungkin tidak dipelajari atau dialami oleh orang tua.  Dengan demikian, bisa saja dalam hal tertentu pengetahuan anak lebih luas dibanding orang tuanya.

Menjadi orang tua dari seorang remaja membutuhkan kelenturan peran.  Saat mendampingi remaja, adakalanya orang tua dibutuhkan untuk menjadi sahabat.  Peran sebagai sahabat membuat posisi orang tua dan remaja menjadi setara.  Dalam kesetaraan ini, remaja akan lebih mudah berbagi cerita serta masalah mereka dengan orang tua dan juga menjadi lebih mudah untuk mengkritik orang tuanya. 

Di sisi lain, orang tua yang berperan sebagai sahabat remaja secara sadar telah menurunkan posisinya menjadi setara.  Pada posisi setara ini, mendapatkan kritik bukanlah sebuah hal besar.  Sesama sahabat biasa saling memberi masukan, tidak ada yang tersinggung karena semua pihak sadar bahwa ini adalah demi kebaikan bersama.  Kritik antar sahabat dapat disikapi secara santai.

“Jika kita dikritik oleh anak, itu tandanya mereka merasa bisa menyampaikan pendapatnya pada kita.  Pada saat mereka berpendapat inilah kita bisa memahami apa yang sedang terjadi pada diri remaja.  Ada lho anak yang tidak bicara apa-apa pada orang tuanya karena merasa takut.  Akibatnya, orang tua tidak tahu apa yang dialami atau sedang dirasakan oleh si remaja.  Bagaimana kita bisa mendampingi mereka dengan optimal bila kita tidak tahu apa yang mereka rasakan?”

Sekali lagi sebagian besar peserta yang hadir mengangguk.

Dengan demikian, apabila mendapat kritik dari anak maka ungkapan pertama dari orang tua selayaknya adalah alhamdulillah.  Kita perlu bersyukur pada yang Maha Kuasa karena telah menggerakkan hati sang anak untuk berkomunikasi dengan orang tuanya.

“Kita perlu nggak minta maaf sama anak?” seorang peserta lain bertanya.

“Kalau kita salah, tentu kita perlu minta maaf.  Hal ini akan menjadi teladan bagi anak.  Minta maaf adalah bentuk dari kebesaran jiwa, bukan sebuah kelemahan.  Sebagai orang tua tentunya kita tidak sempuna.  Manusia adalah tempatnya salah.  Mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah bagian dari pendidikan karakter yang baik.”

Sikap setuju terpancar dari bahasa tubuh puluhan ibu yang hadir.  Alhamdulillah.

Jadi, dalam menyikapi kritik dari anak ada 4 poin yang dapat dilakukan orang tua, yaitu:

  1. Jika isi kritik anak benar, kita perlu menerimanya dan berterima kasih karena anak sudah mengingatkan kita mengenai hal itu.
  2. Bila melakukan kesalahan, kita mengakuinya dan minta maaf pada anak.
  3. Jika anak mengkritik sesuatu yang tidak benar. Jelaskan sudut pandang kita sehingga anak memahami apa yang kita lakukan.  Tentunya tidak dengan nada marah.  Ingatlah bahwa kritik adalah salah satu jembatan komunikasi kita dengan anak.  Tersenyum sebelum memberi penjelasan pada anak akan membuat nada bicara kita lebih tenang.
  4. Jika kita tidak paham apa yang sebenarnya sedang dikritik anak, minta anak untuk menjelaskan lebih jauh maksudnya. Hal ini lebih baik daripada menerka-nerka isi kritik anak.

Alhamdulillah, semoga pertanyaan-pertanyaan peserta pada seminar yang diadakan dalam rangka peringatan hari anak nasional ini makin memperkaya wawasan kita mengenai pengasuhan anak, terutama saat mereka memasuki usia remaja.  Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa membimbing kita menjadi orang tua terbaik bagi para penerus generasi. 

Mutiara, 31 Juli 2024
Dian L Izwar


“Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka.”
HR Ibnu Majah


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *