Mau Berapa, Monyet?
Beberapa hari yang lalu saya dan suami bersiap hendak shalat. Gadis kecil kami memilih untuk beraktivitas di ‘meja kerja’nya. Ia duduk di bangku kecil dan sibuk mengetik pada sebuah keyboard yang terletak di atas meja kecil di depannya. Di depan sebelah kanan keyboard tersebut ada dua buah buku cerita miliknya yang disusun rapi. Di depan sebelah kiri ada tumpukan bon belanja dan dompet kecil. Persis di depan keyboard ada ponsel lama saya yang sudah tidak ada kartunya. Ia sendiri yang menyusun meja kerjanya itu.
Sebelum mulai shalat, saya pamit padanya. “Bunda shalat, ya. Kakak ikut?” Kadang-kadang ia akan bergegas mengambil mukena dan sajadah kecilnya begitu mendengar kalimat ini, namun kali ini tidak. Ia memang sedang ‘sibuk’ dengan meja kerjanya sedari tadi.
“Kakak mau kerja aja,” ujarnya tanpa menoleh.
Saya dan suami pun shalat. Pada rakaat terakhir saya mendengar sebuah kalimat yang tidak biasa, “Mau berapa, Monyet?”
Sekuat tenaga saya berusaha memusatkan perhatian pada bacaan shalat.
Beberapa saat sebelum salam kalimat itu kembali terdengar, “Apa, Monyet?”
Saya terkesiap. Bagaimana gadis kecil saya bisa menggunakan bahasa seperti itu? Dari mana ia belajar? Di mana ia mendengar orang berbicara demikian?
Saya mendekat. Penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
“Monyet?” tanya saya.
Gadis kecil saya menoleh, “Iya, Bunda. Ini restoran monyet. Jadi yang beli monyet semua,” ujarnya dengan nada santai. Saya dan suami tidak dapat menahan tawa.
“Jadi dari tadi yang beli monyet?” tanya saya sambil tertawa.
“Iya. Tuh, lihat monyet semua, kan? Itu yang di samping Bunda juga monyet,” ujarnya ikut tertawa.
Saya memberinya kecupan ringan dan melangkah keluar kamar lalu tertawa terpingkal-pingkal. Suami saya pun tertawa sama lepasnya. Kami menertawakan diri kami sendiri. Sama sekali tidak ada dalam bayangan saya kalau itu adalah restoran monyet. Sebuah imajinasi yang luar biasa.
Kadang sebagai orang tua kita terpaku pada pikiran dan persepsi kita. Sementara anak mempunyai pikiran dan imajinasinya sendiri. Tak selayaknya kita menilai sebuah ucapan atau perbuatan anak dengan parameter orang dewasa. Kita perlu masuk ke dunia anak dan menyelam bersama mereka untuk mengetahui maksud dari ucapan atau perbuatan mereka yang mungkin tampak aneh atau tidak pantas dalam kaca mata dewasa kita. Kita perlu mencari tahu apa yang sebenarnya mereka maksudkan dengan kata-kata yang menurut kita kurang tepat. Wajar kan, menyapa pelanggan dengan panggilan monyet kalau pelanggan itu seekor monyet.. 😉
Mutiara, 2 Agustus 2020
Dian L Izwar
Maklumi dunia (kebutuhan) anak kecil.
HR. Bukhari & Muslim
