Kelelawar dan Pisang Matang

“Pisangnya sudah ada yang kuning, Bu.  Mau ditebang?” tanya tukang kebun saya dua hari yang lalu.

Saya segera menuju kebun belakang bersamanya.  Betul, dari kejauhan tampak ada buah yang telah menguning di antara deretan pisang kepok berwarna hijau di tandannya.  Buah yang menguning itu berada di deretan sisir pertama.

“Ya, boleh.  Ini beneran sudah tua,” ujar saya.

Ia tertawa.  Mungkin ingat pengalaman sebelumnya saat ia mengatakan pisang sudah matang.  Sepenuhnya percaya, saya mengiyakan sarannya untuk memanen pisang itu tanpa melihatnya terlebih dahulu.   Setelah ditebang, pisangnya ternyata belum tua.  Satu buah pisang di bagian bawah yang disangkanya telah matang menguning karena terkena penyakit.  Belajar dari pengalaman, saya mengecek dulu laporannya tentang pisang matang hari ini.

“Ditebang sekarang aja ya, Bu?  Sayang kalau nanti dimakan kelelawar,” tegasnya.  Ia juga belajar dari pengalaman.  Pernah kami membiarkan buah pisang yang telah menguning tetap di pohon, keesokan harinya pisang-pisang yang ranum itu hanya tinggal sisa-sisa gigitan kelelawar.

Saya mundur beberapa langkah ketika ia mulai menebang batang pisang.  Beberapa saat kemudian setandan pisang kepok merunduk, tergantung sekitar satu meter dari tanah.  Daun-daunnya menutupi tandan pisang tersebut. 

“Nah, kalau di bawah kayak gini udah aman.  Kelelawar nggak berani makan kalau rendah gini,” ia bicara sambil memangkas daun-daun pisang yang menjuntai ke tanah.  Saya mengamati dari jauh.

“Biarin aja dulu atau mau dipotong per sisir, Bu?” ia bertanya.

Saya berjalan mendekat, tampak dua buah pisang berwarna kuning.  Yang lain masih berwarna hijau segar.  Baru dua buah pisang yang matang, saya lebih suka menikmati buah yang matang di pohon.  Rasanya lebih manis. 

“Biarin dulu di tandannya, besok aja dipotong sisir yang pertama, biasanya sudah nambah banyak yang kuning,” jawab saya.

———————–

Seharian kemarin saya tidak ingat pada pisang tersebut sampai suami saya bertanya menjelang magrib, “Mana pisangnya? Katanya kemarin sudah ada yang matang?”

Saya berjalan ke kebun.  Pisang itu masih tergantung cantik di tandannya.  Tampaknya tukang kebun pun lupa mengurusinya.  Saya berusaha mengambil beberapa buah pisang yang telah menguning namun ada tumpukan kayu di sekitar rumpun pisang yang menyulitkan saya untuk meraih buah pisang itu.  Hari pun telah mulai gelap.  Saya pikir besok saja saya ingatkan tukang kebun untuk mengambilnya.

————————

Pagi ini sesisir pisang kepok terletak di atas ayunan saat saya membuka pintu belakang.  Tukang kebun telah memanen pisang tersebut pagi sekali sebelum mengerjakan pekerjaan yang lain.  Ups, tunggu dulu.. pisang itu tidak utuh.  Dua buah pisang yang paling pinggir tinggal sebagian, seperti habis dimakan binatang.  Itu adalah dua buah pisang yang matang duluan, yang dilihat oleh tukang kebun saya dan ingin diselamatkannya dari kelelawar.  Tadi malam saya melihat kedua pisang itu masih utuh, saya ingin mengambilnya namun tak jadi.  Pagi ini, kedua buah pisang itu hanya tinggal sisa-sisa bekas gigitan binatang.  Hanya dua buah pisang yang pertama menguning saja yang dimakan, buah pisang lain yang juga telah ranum masih utuh tak terganggu sama sekali. 

Saya merenung, tukang kebun saya berusaha untuk melindungi kedua buah pisang yang ranum pertama itu sejak ia melihatnya.  “Sayang kalau nanti dimakan kelelawar,” katanya.  Entah bagaimana, kami bisa melupakan pisang tersebut kemarin siang sehingga tak jadi memanennya walau telah menebang pohonnya.  Saat saya ingat dan ingin mengambilnya, saya tak dapat meraihnya sehingga saya membiarkannya tetap di pohon kemarin malam.  Saya merasa bahwa kedua buah pisang itu memang bukan rezeki kami melainkan rezeki kelelawar atau binatang lain yang telah memakannya. 

Seberapapun usaha yang kita lakukan, jika itu bukan milik kita maka ia tidak akan menjadi milik kita.  Mungkin ini yang dinamakan takdir.  Allah yang Maha Tahu pasti mempunyai rencana yang lebih baik.  Kita hanya perlu menjalaninya dengan keyakinan bahwa ini adalah yang terbaik dari yang Maha Berkehendak.  Masih ada banyak pisang lain yang dapat kita nikmati, in syaa Allah. 

Mutiara, 10 Oktober 2020

Dian L Izwar


“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” 

(QS. Al Hadiid: 22-23)


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *