Tulis Nama Bunda

Malam itu gadis kecil saya sedang senang menulis.  Ia telah paham bentuk-bentuk huruf dan menulisnya berulang-ulang.  Tampaknya ia bosan menulis satu huruf saja sehingga ia meminta saya mendiktekan namanya, kata pertama yang kami ajarkan padanya.  Huruf yang pertama dikenalnya juga merupakan huruf-huruf penyusun nama indahnya. 

Saya mendiktekan huruf-huruf itu dan dia menuliskannya dengan benar.  Ketika saya meminta ia membaca tulisannya, gadis kecil yang belum genap berusia 5 tahun ini mengucapkan namanya dengan lantang.

“Pintar,” puji saya. 

Ia merespon dengan mata berbinar.  Seperti biasa, ia ingin menulis lagi.

“Sekarang tulis nama Bunda,” ujarnya.

Seperti tadi, saya mendiktekan dan dia menuliskannya. 

D – I – A – N.  Dia menulisnya dengan benar. 

“Betul.  Kakak sudah pintar menulis nama,” ujar saya.  Ia tampak senang. 

“Bacanya apa, Kak?” tanya saya kemudian.

“Bunda.”  Gadis kecil saya menjawab sambil tersenyum.

Saya memberi kecupan di keningnya.  Dia tampak senang.  Lalu kami menulis lagi.

Jelas bahwa kata yang ditulisnya ‘dian’ dan dia membacanya ‘bunda’.  Siapa yang salah?  Salah Bunda!  Anak baru bisa mengeja kok disuruh membaca. 🙂

Gadis kecil saya belum bisa memaknai deretan huruf.  Pada saat saya memintanya untuk membaca, ia berusaha menyelesaikan masalah itu dengan menggunakan pengetahuan yang ada padanya.  Ia ingat bahwa tadi ia meminta untuk menuliskan nama bunda.  Dia mempersepsi saya mendiktekan B-U-N-D-A sehingga ia menjawab “bunda” pada saat saya memintanya membaca kata yang dia tulis. 

Saya mempersepsi “nama Bunda” adalah nama saya, yaitu Dian.  Sementara dalam persepsinya “nama Bunda” adalah Bunda.  Jadi siapa yang benar? 🙂

Kadang-kadang sebagai orang tua kita mempunyai persepsi yang berbeda dengan anak-anak.  Kita berpikir dari sudut pandang dewasa, melihat dari kaca mata tua kita.  Padahal anak-anak mempunyai persepsinya sendiri.  Pengetahuan mereka masih terbatas, pengalamannya belum banyak.  Pada saat dihadapkan pada masalah, mereka akan menggunakan pengetahuannya yang terbatas ini untuk menyesaikan persoalan yang ada.

Saya ingat waktu bidadari saya masih berusia sekitar 18 bulan.  Saat saya menuang air panas untuk mandinya, ia mendekat ke arah ember.  Melihat gelagat itu, saya berkata, “Tunggu, Kak.  Airnya masih panas.  Jangan pegang ya.”

Dia patuh, sama sekali tak memasukkan tangannya.  Yang dia lakukan adalah berdiri di pinggir dan meniup air yang ada di ember itu.  Ia tahu kalau sesuatu ditiup akan segera dingin.  Ia ingin segera mandi tapi airnya masih panas, jadi dia menyelesaikan masalahnya dengan meniup air di ember.  Dia belum punya pengalaman bahwa menambahkan air dingin ke dalam air panas akan menurunkan suhu air tersebut. 

Saya melihat adegan si Cantik meniup air di ember itu sebagai sesuatu yang lucu.  Namun tidak selalu kita dapat melihatnya seperti itu.  Kadang-kadang kita menjadi marah karena menyangka mereka melakukan sesuatu yang tidak benar (menurut kacamata kita), padahal mereka hanya berusaha menyelesaikan masalah dengan cara yang mereka ketahui. 

Beberapa anak mendapat kemarahan dari orang tuanya karena salah paham ini.  Mereka jadi bingung dan akhirnya berkembang menjadi pribadi yang pasif.  Tidak berani berinisiatif karena selalu salah di mata orang tua.  Padahal mereka merasa telah melakukan yang terbaik, sesuai dengan kemampuannya saat itu.

Agar tak salah bersikap, penting bagi kita untuk belajar melihat sebuah kejadian dengan cara berpikir mereka saat kita berinteraksi dengan anak-anak.  Berusaha memahami apa yang mereka rasakan dan mencari tahu apa tujuan dari sebuah perilaku yang mereka tampilkan.  Dengan melakukan ini, in syaa Allah kita akan lebih dekat dengan anak-anak dan dapat menjadi sahabat bagi sang penerus generasi.  Kita akan lebih memahami mereka sekaligus menjadi model mengenai cara berempati, sebuah keterampilan sosial yang sangat dibutuhkan dalam mengelola relasi dengan orang lain.  Wallahu a’lam.

Mutiara, 30 November 2020

Dian L Izwar


“Maklumi dunia (kebutuhan) anak kecil.”

(HR. Bukhari & Muslim)


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

4 thoughts on “Tulis Nama Bunda”

  • December 31, 2020 at 10:14
    Permalink

    Kadang-kadang kita menjadi marah karena menyangka mereka melakukan sesuatu yang tidak benar (menurut kacamata kita), padahal mereka hanya berusaha menyelesaikan masalah dengan cara yang mereka ketahui.

    Bikin airmata ngalir..
    Kmrn baru ngobrol sama adikku yg mudah marah kalau anaknya melakukan hal yg salah (salah dlm persepsi ibunya).

    Aku share tulisan Dian ya, semoga bisa membantu adikku mengubah persepsinya thd kelakuan anak sulungnya.

    Reply
    • January 1, 2021 at 15:23
      Permalink

      Iya, Buna..
      Silakan. Semoga bisa membantu.
      Dan terima kasih ya, Buna.. sudah mampir di dapurhati..

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *