Mer
Supir saya mendapat seekor merpati. Burung itu diberi nama Mer. Ia meminta izin untuk menempatkan Mer di kebun samping rumah. Saya tidak suka memelihara hewan dengan mengurungnya, itulah yang menyebabkan selama ini saya tidak memelihara burung. Mereka kan harus berada di kandang. Sang supir tahu ini. Ia mengatakan bahwa Mer akan dibuatkan kandang tetapi Mer bisa bebas terbang dan kembali ke sarang sesuai dengan keinginannya. Saya setuju, saya pernah melihat sekelompok merpati putih bermain di halaman sebuah gedung. Senang juga memandangi burung yang bisa didekati tapi tak bisa ditangkap itu bermain di sekitar kita.
“Supaya Mer betah di sini, dia harus diberi pasangan,” ujar sang supir. Terkesan seperti permintaan izin lanjutan untuk menambah jumlah merpati di rumah.
“Ya.” Saya setuju. Tampaknya memang demikian cara memelihara merpati. Saya tidak punya pengalaman dan pengetahuan dalam merawat burung dara, jadi saya serahkan semua padanya.
Tak lama, Mor hadir di kandang Mer. Ia merpati jantan. Alih-alih berpasangan, Mer malah menyerang Mor. Mereka saling patuk sehingga harus dipisahkan. Setelah beberapa hari hidup bersisian, mereka kembali disatukan. Kali ini Mor yang menyerang Mer. Mereka kembali bertarung dan terpaksa dipisahkan untuk kedua kalinya. Beberapa waktu kemudian Mer mengeluarkan bunyi yang sama seperti Mor.
“Jangan-jangan Mer jantan,” celetuk sang supir.
“Lha… kok bisa jantan kamu kasih pasangan jantan juga?” tanya saya.
“Saya kan nggak tahu Mer jantan atau betina. Saya tanya teman yang suka burung dara, katanya Mer betina. Jadi saya beli yang jantan.”
Sahabat yang mendengar cerita ini tertawa. Ia sedang dirawat di rumah sakit. Saya menceritakan kisah Mer padanya dalam percakapan kami melalui ponsel.
Saya tidak bisa datang menjenguk, jadi saya menelepon sang sahabat. Saat mendengar nada suaranya kurang ceria, saya menceritakan kisah Mer. Cerita yang tidak terlalu penting sebenarnya. Secara logika ia tidak perlu tahu kalau sekarang ada dua ekor merpati jantan di rumah saya. Namun cerita ini membuatnya tertawa. Itu intinya.
Tertawa membuat seseorang merasa relaks dan merangsang sekresi hormon yang menimbulkan rasa bahagia. Orang yang sedang sakit memerlukan ini karena biasanya seseorang yang tengah dirawat karena sakit akan merasa sedih atau kurang bersemangat. Mereka perlu dibawa sesaat keluar dari situasi yang sedang dialami, sejenak melupakan sakitnya.
Mendengarkan cerita-cerita ringan bisa mendorong seseorang membayangkan di dalam pikirannya kejadian yang sedang dikisahkan. Hal ini dapat membawa mereka ke dalam situasi tersebut dan sejenak melupakan lara yang ada. Secara psikologis, hal ini akan mendukung kesehatan mental yang berujung pada kesembuhan fisiknya, in syaa Allah. Cepat sembuh, sahabat. Nantikan lanjutan cerita Mer yaa.. 🙂
Mutiara, 28 Januari 2023
Dian L Izwar
“Hak muslim atas muslim lainnya ada enam perkara”. Ada yang bertanya: “Apa saja enam perkara tersebut wahai Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau menjawab: “Apabila engkau berjumpa dengannya engkau memberi salam, jika engkau diundang maka memenuhi undangannya, bila engkau dimintai nasehat engkau menasehatinya, jika dirinya bersin lalu mengucapkan ‘al-hamdulillah’ engkau mendo’akannya, dan bila sakit engkau menjenguknya, dan apabila dirinya meninggal engkau mengiringi jenazahnya“.
HR. Bukhari & Muslim

Suka ceritanya… Keren An…. Mencintai teman dengan membawa teman dalam doa kita… Tdk sanggup rasanya mendengar atau melihat teman sakit….
Iya, Ri.. semoga teman-teman selalu dalam keadaan sehat dan bahagia ya.