Islamic Perspective for Modern Psychology

Hari ini saya mendapat kesempatan belajar pada Prof. Nizar Al Ani dari International Institute of Islamic Thought.  Beliau menulis sebuah buku mengenai Perspektif Islam bagi Psikologi Modern.  Dalam uraian setebal 500 halaman tersebut Prof. Nizar mengulas mengenai konsep psikologi kontemporer, krisis dan realitas yang ada serta alternatif bagi psikologi.  Buku inilah yang beliau ajarkan pada kami dalam seminar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam di Aula Kampus UI Salemba selama 3 hari.

Di sesi awal, Prof Nizar menyampaikan perbedaan konsep ilmu (’ilm ~ science) dan pengetahuan (ma’rifa ~ knowledge).  Ini merupakan dasar untuk mengevaluasi perkembangan teori dalam psikologi. 

’Ilm adalah sesuatu yang tidak bisa diubah dan tidak bisa salah.  ’Ilm datang dari Allah subhanahu wata’ala.  Sementara ma’rifa merupakan hasil pemikiran manusia.  Ma’rifa bisa salah atau benar, bisa berubah dari waktu ke waktu, dari budaya yang satu ke budaya yang lain atau dari tokoh yang berbeda.  Dalam konteks ini, kita melihat bahwa teori psikologi senantiasa berubah dari waktu ke waktu.  Dengan demikian, apa yang disebut sebagai psikologi dewasa ini adalah ma’rifa, bukan ’ilm.

Selanjutnya Prof. Nizar menyampaikan tidak adanya kerangka teori yang sama dalam psikologi.  Belum ada satu rujukan yang dapat dijadikan referensi utama apabila terdapat perbedaan pendapat mengenai sesuatu.  Bila dua teori bertentangan, tidak ada dasar untuk menilai mana yang salah dan mana yang benar. Ini merupakan krisis utama dalam psikologi.  Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa ini adalah hal yang benar?  Sementara dalam perspektif Islam, kita bisa merujuk pada Alquran dan Sunnah bila terdapat perbedaan mengenai suatu hal.

Hal berikutnya adalah standar dan kriteria.  Kedua hal ini sering digunakan dalam psikologi.  Standar berasal dari dalam diri individu sementara kriteria ditetapkan dari luar.  Hal yang perlu mendapat perhatian adalah kriteria tidak dapat diterapkan pada semua individu.  Allah menciptakan manusia berbeda-beda.  Keunikan ini mempunyai tujuan.  Tidak mudah menciptakan standar dan kriteria dalam psikologi.  Kita perlu berhati-hati dalam menggunakan sebuah standar atau kriteria dalam budaya yang berbeda.

Prof. Nizar juga menyoroti sumber pengetahuan dalam psikologi sebagai hal yang perlu dipertimbangkan.  Ada 4 sumber pengetahuan yang didiskusikan hari ini. 

  1. Common sense, yang biasanya merujuk pada mayoritas. Jika mayoritas orang menganggap itu benar, maka hal itu menjadi benar.  Padahal bisa saja sebagian besar orang itu salah.  Kebenaran dalam Islam tidak memandang jumlah, meski hanya 1 orang yang mengatakan itu benar, ia tetap merupakan kebenaran.
  2. Experts, merupakan individu yang dianggap ahli dalam suatu bidang. Bagaimana pun ahlinya, mereka tetap manusia dengan berbagai perbedaan.  Konsekuensinya, mereka juga bisa menghasilkan konsep yang berbeda dari pemahamannya mengenai sesuatu.
  3. Statistical finding, yang sering digeneralisasikan pada populasi. Hal ini perlu disikapi dengan hati-hati karena proses yang terjadi dalam riset ilmiah masih berupa asumsi bukan kepastian.  Masih ada kemungkinan terjadinya kesalahan yang di dalam statistik dikenal sebagai chance error, yaitu adanya pengaruh dari variabel yang tidak diketahui terhadap hasil penelitian.  Bahkan dalam penelitian eksperimen uji acak terkendali (randomized controlled trial) kita tidak bisa memastikan bahwa sampel yang dipilih secara acak itu sama dengan populasi.  Kalau pun sama, kita juga tidak bisa memastikan bahwa yang dipilih sebagai kelompok kontrol dan kelompok intervensi persis sama.  Padahal syarat data yang dapat digunakan dalam penelitian untuk menguji pengaruh X terhadap Y adalah kedua kelompok harus ekuivalen.  Bahkan kalau seandainya pun kedua kelompok setara, kita tidak bisa memastikan bahwa intervensi yang diberikanlah yang menyebabkan perbedaan hasil karena manusia pada hakikatnya selalu berubah dan ada banyak sekali faktor yang tidak bisa dikendalikan dalam penelitian. 
  4. Observation. Hal ini perlu dilakukan dengan baik.

Hal terakhir yang didiskusikan hari ini adalah mengenai generalisasi.  Mengingat tidak mungkin menjadikan manusia sebagai bahan percobaan, peneliti menggunakan hewan untuk menguji atau mengembangkan sebuah teori.  Teori clasical conditioning dari Pavlov dan juga beberapa teori belajar lainnya dikembangkan dengan mengamati hewan.  Apakah hal itu bisa serta merta digeneralisasikan pada manusia?  Allah subhahanu wata’ala jelas menyatakan bahwa manusia berbeda dari binatang.  Manusia diberi akal yang membedakannya dari makhluk lainnya.  Manusia bukanlah social animal atau rational animal.  Manusia adalah makhluk mulia. 

Ma syaa Allah.  Diskusi hari mengingatkan saya pada pentingnya memahami sesuatu secara mendalam.  Saya penasaran dengan bahasan selanjutnya yang akan disampaikan oleh Prof.  Nizar.  Semoga Allah mudahkan saya dan teman-teman untuk belajar banyak dari beliau.   Semoga Allah anugerahkan ilmu yang bermanfaat.  Aamiin.

Mutiara, 7 Juli 2025
Dian L Izwar


“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.

QS.Al-Isra‘: 70


#Refeksi hari pertama “International Seminar: Redefining the Human Psyche: Islamic Perspective for a Changing World’” – UI Salemba, 7-9 Juli 2025.

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *