Quran and Science

Pertemuan malam ini diawali dengan pertanyaan “why do we need science?”  Saya menjawab “to find the truth”.  Ternyata itu tidak cukup.  We need science to find Allah.  Ma syaa Allah.

Tujuan dari pengetahuan adalah agar manusia makin dekat pada Allah.  Hakikat hidup ini adalah perjalanan dari Allah menuju Allah.  Dunia merupakan tempat persinggahan untuk menemukan arah agar manusia dapat kembali pada Sang Pencipta.  Karena manusia terlahir dalam keadaan tidak tahu apa-apa, maka Allah mengajarkan pengetahuan padanya.  Itulah mengapa belajar menjadi sebuah kewajiban seumur hidup bagi seorang muslim. 

Sumber pengetahuan yang utama adalah Alquran, Allah telah memfasilitasi hamba-hambaNya dalam proses belajar ini.  Kita perlu membaca Alquran hingga dapat memahami ayat-ayat dalam kitab mulia tersebut dan menemukan jalan untuk kembali pada Sang Pemilik Hidup.  Alquran telah memberikan tanda-tanda agar kita berjalan ke arah yang benar.  Kita hanya perlu mengikuti tanda-tanda tersebut.  Lalu bagaimana kita tahu bahwa kita telah mendapatkan pemahaman yang benar pada saat mempelajari Alquran?  Pertanyaan ini menggema di ruang renung saya. 

“Mungkin tujuannya bukan pemahaman yang benar karena setiap kali kita membaca Alquran, kita akan mendapatkan hal baru,” demikian Pak Bagus menjawab pertanyaan saya.

“Jika pada saat membaca Alquran kita merasa bahwa pengetahuan kita bertambah, kita dapat melihat kaitannya dengan ayat-ayat lain dan dapat menerapkannya di kehidupan kita, dan hati kita menjadi tenang, maka kita sudah berada in the right path,” sambung beliau.

Saya mengangguk.  Sebuah isyarat yang in syaa Allah dapat saya pahami.  Jika pada saat memaknai sebuah ayat saya menemukan pertentangan dengan ayat lain, saya perlu merenung kembali karena mungkin ada pemahaman yang perlu saya perbaiki.  Tidak ada pertentangan dalam Alquran, seluruh ayat-ayatnya koheren dan saling melengkapi. 

Hidup ini bergerak.  Manusia selalu berubah.  Kita perlu terus mengembangkan diri sehingga akhir hayat adalah momen terbaik dari seluruh kehidupan yang kita jalani.  Untuk bisa belajar dan mengembangkan ilmu, Pak Bagus memperkenalkan 2 prinsip sains. 

Prinsip sains yang pertama adalah rendah hati.  We need to be humble.  Sikap ini membuka peluang untuk menemukan hal-hal baru dalam proses belajar.  Di sisi lain kita juga perlu bersikap skeptis, tidak mudah yakin saat menemukan sebuah hal baru.  Kita perlu menelaah dan membuktikan kebenarannya dengan seksama. 

Prinsip sains yang kedua adalah menghindari tanda-tanda palsu sehingga tidak terjebak pada kesimpulan yang keliru.  We should avoid false signs.  Bagaimana caranya?  Ada 5 indikator tanda-tanda palsu dalam sains, yaitu hanya berdasarkan spekulasi, adanya kepentingan pribadi, mereplikasi para pendahulu, mengikuti mayoritas dan tunduk pada kekuasaan.  Ke semua ini dapat mengarahkan kita pada kesimpulan yang keliru. 

Kontemplasi memang merupakan bagian dari sumber sains tetapi bukan spekulasi, hasil kontemplasi berawal dari Alquran dan kemudian dibuktikan kebenarannya secara empiris.  Kepentingan pribadi jelas akan berpengaruh pada pengambilan keputusan saat kita melakukan pembuktian.  Tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi bukanlah sains, kita perlu bersikap kritis terhadap sebuah tradisi.  Sains tidak sekedar mereka ulang apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu.  Demikian pula dengan prinsip mayoritas, jika banyak orang melakukan sesuatu, belum tentu itu adalah hal yang benar.  Ah, saya jadi teringat pada konsep mean, median, modus dalam statistik.  Tidak selalu yang banyak adalah yang terbaik.  Terakhir, sains tidak tunduk pada kekuasaan.  Sains selayaknya memberi masukan pada penguasa agar terus bergerak menuju kebaikan, in syaa Allah. 

Kuliah malam ini mengingatkan saya untuk selalu membuka diri terhadap pengetahuan dan hal baru sekaligus tetap kritis dalam menyikapi temuan-temuan yang ada.  Semoga Allah mudahkan kita untuk terus belajar di jalanNya.

Mutiara, 13 Februari 2022

Dian L Izwar

#Refleksi kuliah sesi kedua “The 126-hour program on Islamic Psychology as the science of human soul, cognition, emotion and behavior”.  Ahad, 13 Februari 2022, 20.00-22.00 WIB oleh Dr. Bagus Riyono, MA, Psikolog.


“… Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim).”

Q.S. An-Nahl: 89


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *