Juri Nomor Delapan
Saya baru menonton sebuah film berjudul 12 Angry Men. Film keluaran tahun 1957 ini bercerita mengenai 12 lelaki yang ditunjuk menjadi juri dalam sebuah pengadilan di Amerika. Kedua belas orang tersebut harus memutuskan secara bulat apakah terdakwa bersalah atau tidak. Mereka harus yakin apakah remaja berusia 18 tahun itu memang membunuh ayahnya seperti yang dituduhkan. Keputusan para juri menentukan apakah terdakwa akan dihukum mati atau tidak.
Kedua belas orang ini diundang melalui surat untuk hadir di sebuah ruangan dan hanya akan meninggalkan ruangan tersebut apabila mereka telah sampai pada satu keputusan yang akan diserahkan pada hakim. Mereka baru bertemu untuk pertama kalinya dan tidak saling mengenal. Identitas yang digunakan adalah juri nomor 1, juri nomor 2 dan seterusnya hingga juri nomor 12.
Yang menarik dari film berdurasi 96 menit ini adalah proses pengambilan keputusan yang terjadi di ruangan terkunci itu. Pada awalnya juri nomor 1 memimpin pemungutan suara untuk mengetahui pendapat setiap orang mengenai bersalah tidaknya terdakwa. Semua menyatakan bahwa terdakwa bersalah, kecuali 1 orang. Juri nomor 8 menyatakan tidak bersalah. Juri lain memandang tidak senang padanya. Ketidak sepakatan ini akan membuat mereka berada lebih lama di ruangan tersebut. Juri nomor 8 mengatakan bahwa harus ada diskusi sebelum mereka mengambil sebuah kesepakatan, boleh jadi ada kemungkinan lain di samping keputusan yang telah diambil oleh sebagian besar juri.
Kedua belas orang ini berasal dari lingkungan yang berbeda, mempunyai pekerjaan yang berbeda dan tentunya juga mempunyai kepentingan masing-masing. Ada yang sudah punya tiket untuk menonton pertandingan baseball dan tidak ingin melewatkannya. Ada yang punya masalah dengan anaknya dan memproyeksikan rasa tidak senangnya pada terdakwa.
Mereka juga mempunyai karakter yang berbeda. Ada yang hanya mengikuti arus, menyetujui sesuatu yang disetujui banyak orang tanpa mempertimbangkan atau (ingin) tahu dasar persertujuan tersebut. Ada yang setuju agar proses ini cepat selesai dan tidak terlalu peduli akan kesepakatan yang diambil. Ada yang ragu-ragu tapi tidak berani bicara. Ada yang mempercayai penuh apa yang disampaikan oleh orang lain tanpa memikirkannya lebih lanjut. Ada juga yang kritis dan memikirkan secara rinci setiap fakta, menggabungkan beberapa data dan mengolahnya dengan logika jernih untuk sampai pada sebuah kesimpulan logis.
Hasil voting di awal adalah 11 guilty vs 1 not guilty. Jika keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak, maka terdakwa akan dikirim ke kursi listrik untuk menerima hukuman mati. Namun peraturan penjurian tidak menerima keputusan berdasarkan suara terbanyak. Semua juri harus sepakat mengenai keputusan yang diambil. Oleh karena itu pemimpin rapat memutuskan untuk mendengarkan alasan dari juri nomor 8. Hal ini biasa kita lakukan, yang berbeda diminta menjelaskan mengapa ia berbeda. Yang kemudian terjadi dalam film ini tidak biasa. Sebelas orang juri diminta untuk menjelaskan mengapa mereka menganggap terdakwa bersalah. Yang menarik adalah tidak semua orang bisa menjelaskan alasannya!
Selama proses diskusi terlihat bahwa saat diminta untuk voting atau mengambil keputusan berdasarkan suara terbanyak, seseorang dapat memilih tanpa berpikir. Mereka hanya memilih. Tak selalu peduli pada apa yang dipilih dan atau alasan memilih. Beberapa hanya sekedar menggunakan hak suara.
Diskusi panjang yang dilakukan 12 juri dalam film ini mengingatkan saya pada esensi musyawarah. Sebuah upaya untuk mencapai mufakat, persetujuan bulat. Seiya sekata dari semua yang terlibat. Juri nomor 8 memberi sudut pandang baru bagi anggota lainnya. Mereka yang sebelumnya tidak menyadari atau tidak terpikir mengenai sebuah informasi akhirnya mendapat pencerahan. Diskusinya tidak berjalan mulus, ada emosi yang meningkat, ada yang merasa tersindir, ada yang bersikukuh hanya karena mempertahankan harga diri. Ada juga yang tak menyadari telah mengambil keputusan berdasarkan emosi. Namun kesadaran akan kebenaran hakiki, keterbukaan akan informasi baru dan kemauan untuk melihat dari sudut pandang orang lain membawa satu persatu juri menuju suara bulat: not guilty. Sebuah keputusan yang jauh berbeda dari hasil voting mereka di awal.
Musyawarah memang membutuhkan waktu dan energi ekstra tetapi hasil akhirnya sepadan. Agar musyawarah dapat terlaksana diperlukan orang yang berkeinginan kuat untuk mengupayakan tercapainya kesepakatan yang bulat. Seseorang yang mau mendengar sudut pandang orang lain dan berkeinginan untuk menggugah orang-orang di sekitarnya. Seseorang yang benar-benar memikirkan alasan, tujuan dan dampak dari sebuah keputusan. Juri nomor 8 di film ini melakukannya dengan baik. Juri nomor 9 menjadi orang pertama yang melihat esensi ini dan mendukungnya. Berdua mereka membuka mata dan hati ke-10 juri lainnya. Jika mereka berdua bisa, in syaa Allah kita juga. Kenapa kita perlu melakukannya?
Karena musyawarah adalah amanat Pancasila, dasar negara. Musyawarah mufakat adalah harapan dari pendiri bangsa agar negara ini senantiasa dikelola berdasarkan keputusan terbaik dari para putra bangsa. Di tengah zaman yang bergerak cepat ini, musyawarah mulai langka. Anak-anak muda lebih senang voting. Alasan yang sering terdengar adalah tidak perlu banyak waktu dan fair karena semua menggunakan haknya. Padahal musyarawah mengandung esensi yang jauh lebih tinggi.
Musyawarah mengandung sinergi. Musyawarah memberikan sudut pandang yang lebih kaya. Musyawarah menghasilkan sebuah keputusan terbaik hasil elaborasi bersama. Musyawarah tidak hanya sebuah proses pengambilan keputusan tetapi merupakan proses untuk mengasah logika, menajamkan empati, menghargai perbedaan, mengendalikan diri dan menjadi sarana untuk mencerdaskan setiap orang yang terlibat.
Sebentar lagi 17 Agustus. Saya membayangkan, diantara gegap gempita lomba dan pawai peringatan 17-an akankah juga terselip keinginan menjadi “juri nomor 8”? Alangkah indahnya saling mengingatkan.
Semoga Allah mampukan putra-putri Pertiwi menjalankan amanat Pancasila. Semoga Allah memberkahi Indonesia, para pendiri negara dan semua warga yang mencintai negara ini. Dirgahayu Indonesiaku.
Jakarta, 13 Agustus 2022
Dian L Izwar
(Juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
(QS. Asy-Syura: 38)
https://en.wikipedia.org/wiki/12_Angry_Men_(1957_film)
