Mistake

Pada saat manusia pertama diciptakan, Allah mengajarkan pengetahuan.  Kemudian Allah menetapkan sebuah aturan, lalu membebaskan nabi Adam ‘alaihis salam untuk menikmati surga.  Iblis menggoda dan sang Nabi tergelincir.  Beliau melakukan kesalahan, melanggar aturan.  Pada saat menyadari kesalahan tersebut, Nabi Adam ‘alaihis salam dengan kerendahkan hati mengakui kesalahannya dan memohon ampun pada Allah subhanahu wa ta’ala. 

Kebebasan memilih yang Allah berikan pada manusia membawa konsekuensi bagi manusia untuk berbuat salah.  Tidak selamanya manusia mengambil pilihan yang benar dan sesuai dengan aturan Allah subhanahu wa ta’ala.  Alquran telah memberikan tuntunan mengenai apa yang harus dilakukan pada saat hal itu terjadi.  Bapak para manusia telah memberikan teladan.  Seperti yang dicontohkan nabi Adam ‘alaihis salam, kita perlu mengakui kesalahan tesebut yang memohon ampun kepada Allah, bertobat kepadaNya.  Menyadari kesalahan, menyesalinya dan berniat sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri adalah sebuah rangkaian sikap yang perlu diambil saat melakukan kesalahan.  Allah yang Maha Pengampun menjanjikan ampunan bagi hambanya yang bertobat.  Dengan demikian, apabila kita benar-benar bertobat maka seolah-olah kita seperti terlahir kembali.  Bebas dari segala kesalahan. 

Allah yang Maha Penyayang memahami bahwa manusia yang Ia ciptakan mempunyai potensi untuk melakukan kesalahan, untuk itu Allah yang Maha Pemaaf menyediakan sarana bagi manusia untuk membersihkan diri dari kesalahan-kesalahan tersebut.  Istigfar adalah ucapan pembersih dosa.  Shalat lima waktu menghapuskan dosa diantara waktu shalat yang satu hingga waktu shalat berikutnya.  Ramadhan menghapuskan dosa dari Ramadhan sebelumnya.  Ini bagai sebuah lingkaran yang senantiasa membersihkan manusia dari kesalahan-kesalahannya.

Dari segi psikologi, seorang muslim yang melakukan kesalahan tidak perlu berlarut-larut dalam perasaan bersalah atau penyesalan tak berujung yang dapat menimbulkan masalah mental.  Melakukan kesalahan adalah manusiawi.  Kita hanya perlu mengakuinya dan bertobat, memohon ampunan kepada Allah disertai upaya maksimal untuk memperbaiki diri dan tak mengulanginya lagi.  In syaa Allah sikap ini akan membawa kita kepada kesehatan mental yang lebih baik.  Wallahu a’lam.

Mutiara, 8 Maret 2022

Dian L Izwar

#Refleksi kuliah sesi kedelapan “The 126-hour program on Islamic Psychology as the science of human soul, cognition, emotion and behavior”.  Ahad, 6 Maret 2022, 20.00-22.00 WIB oleh Dr. Bagus Riyono, MA, Psikolog


“Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang yang baik, maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat..”

QS. Al-Isra: 25


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *