Rasa
Kemarin saya menangis. Saat Indonesia Raya berkumandang mengiringi naiknya Sang Saka di Musashino Forest Sports Plaza, rasa haru menyergap hati saya yang menyaksikan dari Jakarta. Segera saja bulir bening menggenang di sudut mata, lalu turun membasahi pipi. Saya biarkan tetesan hangat itu mengalir. Pandangan saya tertuju ke layar kaca, pada pasangan ganda putri Indonesia yang juga tampak berurai air mata walau dalam sikap menghormat bendera.
Greysia Polii dan Apriani Rahayu, dua wanita dengan banyak perbedaan itu telah bahu membahu mempersembahkan medali emas bagi Indonesia di pesta olah raga berkelas dunia. Medali emas pertama di Olimpiade Tokyo 2020 dan medali emas pertama bagi Indonesia dari ganda putri cabang olah raga bulu tangkis di sepanjang sejarah olimpiade. Ma syaa Allah. Siapa yang tidak bangga akan pencapaian ini?
Pasangan ganda putri ini adalah contoh nyata dari kekompakan yang sangat baik dalam sebuah tim. Bagaimana mereka saling mendukung terlihat jelas di lapangan. Interaksi yang saling mengisi dan senyum yang menghiasi wajah penuh keringat mereka selama pertandingan mengesankan sebuah kerja sama yang menyenangkan. Saya terpesona dengan penampilan mereka sejak pertama melihat mereka berlaga. “Semoga dapat emas,” doa saya.
Setelah acara pemberian medali usai, saya membuka media sosial. Banyak ucapan selamat disampaikan secara terbuka disertai pernyataan bangga dan ucapan terima kasih bagi dua srikandi bulu tangkis Indonesia ini. Beberapa teman bahkan menjadikan profil mereka sebagai status media sosialnya. Video berisi detik-detik kemenangan sang juara dan kumandang Indonesia Raya saat pemberian medali pun banyak dibagikan di grup-grup media sosial.
“Aku nangis pas dengar Indonesia Raya,” ujar saya menanggapi beberapa unggahan teman.
“Sama…”
“Aku nangis juga..”
“Aku juga nangis..”
Demikian teman-teman menulis. Ternyata bukan hanya saya. Banyak sahabat yang juga terharu pada momen itu. Banyak yang menitikkan air mata. Banyak yang merasa bangga. Mengapa?
Mengapa saat Gresyia dan Apriani meraih medali kita turut bangga? Mengapa saat mereka berlaga kita berdoa untuk kemenangannya? Toh kita belum tentu kebagian hadiah 5 milyar yang dijanjikan pemerintah untuk mereka. Mengapa kita ikut senang saat mereka menang? Ini adalah prestasi Greysia dan Apriani, bukan kita. Mengapa kita latah ikut menangis dan bersorak?
Anda pasti sudah tahu jawabnya: karena kita bangsa Indonesia. Rasa kita telah menyatu. Mereka mewakili Indonesia. Mereka mewakili kita.
Indonesia Raya menyatukan kita, kumandang lagu kebangsaan ini mengingatkan bahwa kita adalah sekumpulan manusia dengan berbagai suku dan budaya yang mendiami nusantara dan menyatu sebagai bangsa Indonesia. Menjadi sebuah bangsa adalah soal rasa. Rasa menjadi bagian dari sebuah kesatuan negara berdaulat, yang tertanam di dada setiap penerus generasi. Tugas kita untuk menjaga agar rasa ini terus ada. Dirgahayu Indonesia! Aman, damai, sentosa, in syaa Allah.
Mutiara, 3 Agustus 2021
Dian L Izwar
“Wahai manusia. Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
QS. Al-Hujurat ayat 13
