Rela Susah
“Siapa sih ini yang punya ide?”
Saya tersenyum mendengar pertanyaan retoris yang terlontar dari seorang sahabat di sela-sela helaan napasnya. Kami sepakat mengisi libur di hari Jumat ini dengan kegiatan trekking di daerah Sentul, Bogor.
“Jaraknya 6 km pulang pergi.” Demikian info rute yang kami terima. Tidak terbayang bahwa 6 km itu terdiri dari tanjakan dan turunan yang cukup menantang.
“Kalau ada yang perlu bantuan, jangan sungkan. Kami siap membantu,” demikian kurang lebih pesan pemandu selepas pemanasan di awal perjalanan.
“Boleh minta istirahat, boleh minta dibawain tas. Yang nggak boleh adalah minta jalan datar,” ujarnya dalam senyum seraya membagikan kudapan manis.
Memang tak banyak jalan datar kami temui, bila tak mendaki ya menurun. Di tengah jalan setapak yang mendaki itulah sang sahabat menyampaikan pertanyaan retoris tadi. Saya melihatnya sebagai gurauan pengusir penat, karena ia tetap melangkah dengan gagah.
Walau jalan kian menanjak dan napas mulai tersengal, kami berempat belas terus berjalan. Bila penat benar-benar terasa, kami rehat sejenak sebelum melangkah lagi. Hampir semua peserta merasa perjalanan ini menguras tenaga dan membuat letih. Namun tidak ada yang memutuskan untuk menyerah atau berbalik arah. Setiap orang bergerak dengan iramanya masing-masing. Yang belia berjalan cepat kemudian menunggu rekan-rekan yang bergerak lebih lambat hingga langkah kami tiba pada sebuah curug berair jernih. Alhamdulillah.
Keriaan menikmati sejuknya air pegunungan hadir menggantikan rasa penat. Seru sekali canda kami di bawah air terjun kecil yang mengalir dari celah gunungan batu. Ma syaa Allah. Air yang terus mengalir seakan mengingatkan bahwa hidup ini sejatinya juga sebuah perjalanan. Kita perlu terus bergerak hingga sampai di tujuan.
Saya teringat “kesusahan” yang kami rasakan saat mendaki. Medannya memang cukup sulit. Namun semangat mencapai tujuan membawa kami melewati kesulitan itu. Kami “rela susah” menempuh perjalanan agar sampai ke air terjun. Boleh berhenti, bisa menyerah tapi kami tetap melangkah walau dengan kaki gemetar, lutut yang mulai merajuk, betis kian pegal dan napas tersengal. Semua ketidaknyaman ini kami terima dan berhasil kami lalui hingga kami tiba di curug itu. Ma syaa Allah, demikian Allah memberi kekuatan pada kita.
Pengalaman yang melelahkan fisik tetapi menyenangkan hati ini membuat saya merenung. Bila tujuan kita surga, seberapa rela kita “susah” untuk mencapainya? Seberapa sabar kita saat bertemu jalan mendaki dalam perjalanan hidup?
Semoga Allah tetapkan hati kita di jalanNya. Semoga Allah ilhamkan kesabaran saat kita harus menapaki jalan mendaki dan semoga dengan kesabaran itu Allah berikan surga sebagai balasan. Aamiin.
Ciomas, 5 September 2025
Dian L Izwar
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah. Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya?
Dia mengatakan, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.” Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya?
Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata, lidah, dan sepasang bibir, serta Kami juga telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)? Maka, tidakkah sebaiknya dia menempuh jalan (kebajikan) yang mendaki dan sukar?.”
Q.S. Al Balad: 4-11
