Shalat Dimana?

Seorang sahabat bercerita tentang sulitnya mendapat tempat untuk duduk tenang di Masjidil Haram, “Baru selesai shalat sudah disuruh pergi.  Pas ada tempat kosong, baru mau duduk berdoa disuruh pindah lagi.” 

Sahabat lainnya mengaku bingung. “Berubah-ubah terus.  Kalau di Nabawi kan tetap ya.  Kita datang cepat, bisa dapat tempat di depan.  Di Haram nggak tentu, beda-beda tiap hari.”

Memasuki Masjidil Haram yang dinamis setelah menikmati ketenangan Masjid Nabawi memang butuh sedikit penyesuaian.  Aktivitas jemaah di Masjidil Haram lebih kompleks karena ada kegiatan tawaf dan sai di dalamnya.  Di samping itu, jumlah jemaah di sini pun lebih banyak.

Jumlah dan arah pergerakan jemaah merupakan salah satu alasan sebuah pintu Masjidil Haram akan dibuka atau ditutup.  Bila sebuah lokasi sudah terisi penuh, maka jalan ke arah lokasi tersebut akan ditutup dan jemaah diarahkan ke tempat yang masih kosong.  Inilah yang membuat kita tidak selalu bisa shalat di tempat yang sama esok hari.  Jumlah jemaah terkadang tidak bisa diprediksi. 

Jadi bagaimana menentukan akan shalat di mana selama berada di masjid terbesar sedunia ini?  Dari pengalaman 6 hari kemarin, ada beberapa pilihan pintu masuk yang saya catat.  Semoga informasi ini bermanfaat bagi sahabat yang akan berziarah ke Masjidil Haram.  

Pintu umrah

Pintu umrah selalu dibuka untuk jemaah yang akan melaksanakan tawaf dan sai.  Karena merupakan jalur khusus umrah, hanya jemaah laki-laki dalam balutan kain ihram yang diperkenankan melewati pintu ini.  Sementara semua jemaah perempuan boleh masuk karena tidak ada pakaian khusus bagi perempuan selama umrah. 

Dari pintu ini kita diarahkan untuk turun eskalator menuju pelataran Ka’bah dan dapat langsung melakukan tawaf.  Area marmer di sekeliling Ka’bah diperuntukkan bagi kegiatan tawaf kecuali ketika shalat wajib saat semua area ini akan menjadi tempat shalat bagi jemaah laki-laki.  Dengan alasan ini, menjelang waktu shalat wajib jemaah perempuan akan diarahkan untuk pindah ke bagian belakang, kecuali yang masih tawaf.  Ini merupakan salah satu sebab mengapa seorang sahabat perempuan merasa ‘tidak boleh duduk lama-lama di depan Ka’bah.’  Bisa jadi ia berada di sana saat mendekati waktu shalat wajib. 

Sebenarnya ada tempat khusus di area ini yang memungkinkan kita shalat dengan tenang dan berdoa sepuas hati sambil memandangi Ka’bah, yaitu di belakang Maqam Ibrahim. Area ini diberi pagar sehingga jemaah dapat shalat sunah 2 rakaat dengan nyaman sesudah menyelesaikan tawaf.  Tidak ada peruntukan khusus untuk laki-laki atau perempuan, siapa saja boleh shalat di sini.  Namun tidak semua jemaah shalat sunah tawaf di area ini.  Beberapa langsung shalat di area yang kosong sehingga begitu selesai shalat ia diminta pindah karena area tempat ia shalat sebenarnya diperuntukkan untuk lalu lintas jemaah. 

Bila masih ingin shalat atau itikaf sambil memandangi Ka’bah, jemaah bisa agak mundur ke arah bangunan masjid.  Biasaya ada area pelataran yang diberi pagar di arah belakang rukun Yamani hingga Maqam Ibrahim yang bisa digunakan untuk itikaf.  Atau kita bisa lebih masuk ke dalam bangunan masjid dan mencari area yang diberi karpet.  Area berkarpet disediakan untuk tempat itikaf.  Kita bebas berlama-lama duduk di sini dan biasanya juga terdapat rak berisi Alquran bagi yang ingin tilawah.  Ini adalah area favorit saya.  Shalat dengan langsung memandang Ka’bah memberi rasa yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.  Ma syaa Allah.  Semoga sahabat semua juga bisa merasakannya, in syaa Allah.

Pintu lantai 1 khusus perempuan

Pintu lantai 1 dikhususkan untuk perempuan.  Pintu yang terdekat dengan tempat saya menginap adalah pintu 89.  Laki-laki tidak boleh masuk melalui pintu tersebut.  Saat kemarin mengantarkan saya ke pintu ini, suami saya diarahkan untuk naik eskalator ke lantai 2 melalui pintu 91.

Di lantai 1 ada banyak tempat berkarpet yang dikelilingi rak berisi Alquran.  Kita bisa shalat dan itikaf di sana.  Ruangannya sejuk karena berada di dalam bangunan masjid.  Hanya kita tidak dapat melihat Ka’bah dari sini.  Meski memandang Ka’bah hanya merupakan keutamaan dan tidak mempengaruhi pahala shalat, saya lebih suka bila saya dapat melihat Ka’bah.  Karena itu, saya memilih untuk turun eskalator dan mencari area berkarpet di dalam bangunan masjid di mana saya bisa memandang bangunan mulia berselubung kiswah ini.  Tidak selalu saya bisa mendapatkan view Ka’bah secara penuh, terkadang tempat tujuan saya telah terisi jemaah lain.  Namun saya tetap berusaha, saya sudah bahagia meski hanya dengan sedikit bayangan Ka’bah dalam pandangan selama shalat.

Pintu lantai 2

Pintu lantai 2 bisa diakses melalui eskalator dari pintu 91.  Pintu ini dapat dilewati oleh jemaah laki-laki dan perempuan. Pada lantai 2 terdapat area-area khusus berkarpet dikelilingi rak-rak berisi Alquran bagi jemaah laki-laki, perempuan dan penyandang disabilitas.  Saya belum mengeksplorasi lebih jauh area lantai 2 ini karena lebih senang shalat di lantai bawah.  Suami saya yang lebih sering shalat di lantai ini.

Akses ke lantai dua tidak dibuka setiap waktu.  Bila ruangan di lantai dua sudah terisi penuh, maka pintu akan ditutup dan jemaah di arahkan ke lantai 3.

Roof floor lantai 3

Ruangan terbuka di lantai 3 merupakan pilihan bila suami istri ingin shalat di tempat yang relatif berdekatan.    Di sini terdapat area shalat untuk jemaah laki-laki dan perempuan.  Hampir selalu ada tempat untuk shalat di area ini bila kita datang minimal beberapa menit sebelum azan, in syaa Allah.

Area lantai 3 dapat diakses menggunakan eskalator melalui pintu 91.  Yang perlu dicermati adalah arah eskalator di pintu 91 berubah mengikuti waktu shalat.  Menjelang shalat wajib, ke-4 eskalator mengarah naik.  Kita tidak bisa turun dari pintu ini.  Sebaliknya seusai waktu shalat, semua eskalator mengarah turun.  Tampaknya hal ini dilakukan untuk memudahkan pergerakan jemaah yang ramai di sekitar waktu shalat wajib.  Bila kerumunan jemaah telah terurai, barulah eskalator ini berfungsi naik dan turun seperti yang biasa kita jumpai.  Dua tangga berjalan untuk naik, dan 2 untuk turun.

Menunggu syuruq di roof floor membawa kesan tersendiri.  Seusai shalat, beberapa jemaah berfoto dengan latar belakang Abraj Al-bait, menara jam tertinggi di dunia yang menjadi salah satu icon di sekitar Masjidil Haram.  Dari lantai 3, sudut pengambilan gambarnya lebih baik dibandingkan dengan lantai dasar. 

Yang sangat saya nikmati di lantai ini adalah perubahan rona langit dari sebelum subuh hingga matahari terbit.  Ma syaa Allah.  Begitu indah.  Hamparan langit luas berhias awan memanjakan mata dengan pergeseran warna seiring naiknya sang surya. 

Saat hari mulai terang, burung-burung pun datang.  Mereka terbang menuju area di sekitar Masjid.  Mengamati merpati yang terbang berarak mengingatkan saya pada keagungan Sang Pencipta.  Mā yumsikuhunna illar-raḥmān.  Ma syaa Allah.

Meski menyenangkan, kita tidak bisa berlama-lama di area lantai 3.  Segera setelah syuruq, petugas akan mulai menggulung karpet.  Bila kita masih shalat dhuha atau membaca Alquran, mereka akan menunggu.  Gulungan karpet akan berhenti persis di sebelah kita.  Jika tidak segera beranjak, kita akan duduk dikelilingi gulungan karpet.. hehehe.  Saya rasa mereka sengaja, karena di musim panas ini tidaklah bijak berada di ruangan terbuka pada siang hari.  Suhu yang menyengat kurang bersahabat.  Area ini juga bukan pilihan saya untuk shalat zuhur.

Jalur tawaf lantai 2 

Bila kita sampai di Masjidil Haram beberapa saat sebelum azan atau saat panggilan shalat sudah terdengar, jalur tawaf lantai dua dapat menjadi pilihan.  Jalur ini biasanya masih terbuka di saat pintu-pintu lain sudah ditutup karena penuh.  In syaa Allah kita bisa shalat di jalur yang digunakan untuk tawaf.  Petugas akan mengarahkan jemaah mengisi tempat yang kosong, ikuti saja pergerakan jemaah sesuai arahan petugas. 

Pada saat iqamah berkumandang, kita bisa shalat di area sekitar posisi kita saat itu.  Jemaah laki-laki di area depan, jemaah perempuan di area belakang.  Di sini sangat terasa alasan mengapa shaf laki-laki yang utama adalah di depan dan shaf perempuan yang utama adalah di belakang.  Dengan pengaturan ini, siapa pun yang datang belakangan dapat segera memasuki shaf tanpa mengganggu jemaah lainnya.  Ma syaa Allah, sebuah manajemen yang sempurna.

Di area ini, kita harus segera beranjak seusai shalat karena jemaah yang hendak tawaf biasanya langsung bergerak melanjutkan putaran yang tadi terjeda oleh panggilan shalat.  Kita bisa berpindah ke area lain yang lebih ‘tenang’ bila masih ingin berada di masjid.  Seusai shalat wajib biasanya ada cukup tempat luang di dalam Masjidil Haram untuk itikaf.

Bila semua pilihan di atas tidak memungkinkan, jemaah masih bisa shalat di halaman masjid.  In syaa Allah shafnya masih tersambung dengan shaf di dalam Masjidil Haram. 

Oya, ada satu lagi jalur masuk yang bisa diakses jemaah untuk bisa shalat dan itikaf dengan tenang, yaitu lokasi perluasan Masjidil Haram yang ketiga. Area ini dapat dicapai melalui pintu 100.  Menurut muthawif kami, bagian ini paling tenang karena hanya digunakan untuk shalat.  Ka’bah dan pelatarannya tidak terlihat dari sana.  Saya membayangkan mungkin suasananya mirip dengan Masjid Nabawi, saya belum sempat mengunjungi area ini karena lokasinya cukup jauh dari penginapan.  Eksplorasi saya pada kunjungan kali ini terbatas dari pintu 79 hingga pintu 92.  Semoga Allah berikan kesempatan bagi kita semua untuk kembali beribadah di Haramain.  Aamiin.

Pengalaman 6 hari di Masjidil Haram kemarin membawa saya pada renungan bahwa hidup ini sejatinya dinamis, senantiasa bergerak.  Kita tidak pernah berada pada titik yang sama karena waktu tak pernah berhenti.  Dalam pergerakan ini kita perlu membuat rencana dan pada saat yang sama tetap fleksibel menghadapi semua kemungkinan.  Kita dapat melakukan antisipasi tetapi bisa saja bukan itu yang terjadi.  Kita boleh berharap tetapi tidak bisa memastikan.  Saya memahami ini sebagai esensi dari kalimat in syaa Allah yang perlu kita ucapkan setiap kali merencanakan sesuatu.  Semua hanya dapat terjadi atas perkenan Yang Maha Kuasa.  Oleh karenanya setelah upaya terbaik dilakukan, pilihan kita adalah mengikuti apa yang telah ditentukan: menerima, menjalani dan menikmatinya sebagai sebuah anugerah. 

Shalat di belakang Maqam Ibrahim seraya memandang Ka’bah sepuas hati, menunggu syuruq di roof floor sambil menikmati pagi dan arakan merpati hingga shalat di jalur tawaf lantai 2 memberikan pengalaman berbeda yang saling memperkaya.  Semua terjadi atas kehendakNya.  Semua saya maknai sebagai bentuk kasih sayangNya.

Semoga catatan kecil ini bermanfaat bagi sahabat yang ingin ke Baitullah.  Semoga Allah panggil lagi kita ke Mekah.  Semoga Allah mudahkan kita untuk beribadah memuliakan Ka’bah. 

Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal-hamda wan-ni’mata laka wal-mulk, laa syarika lak.

Saudia, JED-CGK, 27 Agustus 2025
Dian L Izwar


“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.”
Q.S. Ali Imran: 96-97


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *