Sedekahnya Petani
Beberapa hari yang lalu saya sangat senang. Bibit mentimun yang saya semai mulai tumbuh. Rasa bahagia merebak di hati saat melihat dua kelopak muncul dari biji yang terbelah. Sebuah harapan menjelma dari tunas-tunas muda nan menghijau.
Keesokan paginya, saya berniat mengabadikan semaian itu dalam rangka mencatat perkembangan tumbuhnya. Napas saya tertahan saat melihat tak ada lagi kelopak hijau yang memukau. Hanya tertinggal batang-batang pendek bekas gigitan binatang. Saya tidak tahu hewan apa yang telah berpesta di persemaian itu tadi malam. Sedih dan kecewa hadir begitu saja. Asa yang kemarin menggunung sirna dalam semalam. Saya mengatur napas. Bayangan segarnya buah mentimun muda organik yang baru dipetik dari halaman berlari dari angan.
=====
Tadi pagi sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam saya terima melalui pesan di grup whatsapp.
‘Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman, kemudian sebagiannya dimakan manusia atau binatang melata atau burung, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.’ HR. Darimi: 2496
Narasi hadis ini mengingatkan saya pada tunas-tunas mentimun di persemaian. Kelopak-kelopak hijau itu adalah sedekah. Apa yang dimakan oleh binatang malam itu bernilai sedekah. Ma syaa Allah. Apa yang membuat saya kecewa? Mengapa saya bersedih?
Saya tahu saya sedih karena harapan yang sirna. Saya kecewa karena bayangan untuk panen mentimun memudar. Namun saat membaca hadis di atas, saya sadar bahwa semua yang saya angankan itu adalah sesuatu yang akan saya nikmati di sini, di dunia ini. Sementara sedekah adalah sebuah bekal untuk kehidupan abadi. Sedekah in syaa Allah akan dinikmati nanti. Rasa sedih saya hilang saat memikirkan bahwa tunas mentimun yang tak jadi tumbuh itu masih bisa dinikmati kelak. In syaa Allah menjadi simpanan amal.
Saya merenung. Seandainya orientasi kita bisa bergeser dari dunia ke nirwana, rasanya tak banyak yang bisa membuat kita sedih atau kecewa. Apa yang hilang dari kita di dunia in syaa Allah nanti akan diganti. Bukankah Allah Maha Adil?
Kita hanya perlu menerima dengan hati lapang. Rida dengan apa yang terjadi kemudian melangkah maju tanpa tumpukan rasa sedih dan kecewa. Secara psikologis, ini adalah sikap mental yang sehat dan mengundang bahagia. In syaa Allah.
Saya rasa kuncinya adalah menyadari bahwa hidup tidak berhenti di sini. Kita akan hidup kembali dan menikmati apa yang luput dari kita di dunia. Kesadaran akan adanya balasan yang kelak diterima, in syaa Allah akan membuat kita merasa lebih ringan dalam menghadapi tantangan hidup. Bukankah dunia hanya persinggahan?
Wallahu a’lam.
Mutiara, 4 Januari 2025
Dian L Izwar
“Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui.”
QS. Al-‘Ankabut: 64
