Sedikit Nggak Apa-Apa

Hari libur pertama di tahun 2025 kami isi dengan bersantai di rumah.

“Kita bikin klapertart, yuk.”

Ajakan saya disambut dengan antusias.  Gadis kecil kami senang sekali bila diajak beraktivitas di dapur.

“Aku aja yang pecahin telurnya, Bunda.”

“Ok.  Telurnya kita pisah ya.  Yang kuning untuk bagian bawah, putihnya nanti untuk topping,” ujar saya seraya menyiapkan dua wadah.

Si Cantik menempatkan telur ke dalam kedua wadah itu.

“Kuningnya ikut masuk, Bunda.”

Saya melihat ada sedikit kuning telur yang masuk ke dalam wadah putih telur.  Saya tersenyum, ini konsekuensi dari belajar. 

“Sedikit nggak apa-apa,” ujar saya. 

“Aku yang aduk telurnya,” pinta bidadari saya yang sepertinya berbakat jadi chef ini.

Adonan pertama selesai.  Kami menuangnya ke dalam mangkuk cetakan.  Langkah selanjutnya adalah mengocok putih telur.

Setelah mengocok beberapa waktu, saya mengamati bahwa putih telur tersebut tidak mengental sebagaimana mestinya.

“Bunda nggak tahu kalau bikin meringue, putih telurnya nggak boleh tercampur bahan lain?” tanya suami saya.

“Tahu.  Tadi Kakak sudah bilang ada kuningnya yang ikut masuk.  Bunda pikir kalau sedikit nggak apa-apa.” 

Bapak yang juga suka memasak itu tersenyum maklum.

“Nggak mau kental dia, Kak.  Kita bikin ulang adonan putih telurnya ya?” Ujar saya pada si Cantik.

“Aku mau pecahin telurnya lagi.”

Saya mengamati.  Kali ini hanya putih telur saja yang berada di wadah.  Alhamdulillah.

“Waah, nggak tumpah!  Lucu ya, Bunda,” ujarnya senang saat melihat adonan meringue yang sudah jadi.  Adonan itu mengental sempurna dan berwarna putih cerah.  Ia membalik wadah tempat mengocok telur tersebut dan terpesona pada adonan yang bergeming.

Chef cilik kami mengambil alih tugas membuat klapertart.  Ia meratakan meringue di atas adonan pertama dan menghiasinya dengan kismis.  Ia juga yang memasukkannya ke dalam oven untuk dipanggang. 

Saya bahagia melihat semangatnya.  Saya juga bahagia karena ia telah belajar sebuah konsekuensi.  Meski sedikit, tak boleh ada campuran kuning di dalam putih telur.  Ada batas-batas yang tidak boleh dilanggar. 

Di zaman serba bebas ini, kadang kita secara sadar melenturkan aturan.  Entah dengan alasan ketinggalan zaman, toleransi, tidak efektif, bikin lama, terasa tidak relevan, malu karena berbeda dengan orang lain, takut menyinggung perasaan, banyak orang yang juga melakukan, hanya sekali ini saja, atau pun alasan lainnya.  Kadang konsekuensi dari kelenturan ini langsung terlihat, tetapi bisa juga baru terasa dalam jangka panjang.  Hal terakhir membuat kita cenderung untuk terus mengabaikan aturan dan baru menyadari konsekuensinya saat sudah terlambat.  Na’udzubillahi min dzalika.

Saya teringat salah satu pesan Buya Hamka.  Ulama besar ini menulis, ‘Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui mengapa ia didirikan. Jangan pernah mengabaikan tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan yang kemudian anda dapat.’ 

Sejatinya sebuah aturan dibuat dengan pertimbangan yang dalam dan luas.  Kadang kala kita merasa bahwa ‘sedikit nggak apa-apa’, padahal yang tidak boleh tetaplah tidak boleh.  Bisa saja pemahaman dan pengalaman yang kita miliki tidak cukup untuk melihat hikmah dibalik sebuah ketentuan.  Wallahu a’lam.

Mutiara, 6 Januari 2025
Dian L Izwar


“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman pemisah (antara yang hak dan yang batil) dan ia (Al-Qur’an) sama sekali bukan perkataan senda gurau.”
QS. At-Tariq: 13-14


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *