Rekening yang Kosong
Kemarin saya membaca satu pesan pada sebuah grup media sosial. Judulnya Ketika Buya Hamka Ditahan. Pesan itu berisi cerita mengenai keadaan keuangan keluarga Ketua Majelis Ulama Indonesia pertama ini saat beliau ditahan oleh pemerintah pada tahun 1964. Dalam tulisan yang merupakan cuplikan dari buku Ayah karya Irfan – putra beliau – dikisahkan bahwa selama 2 tahun 4 bulan masa penahanan, pemerintah melarang terbitnya buku-buku sang ulama besar. Padahal royalti dari buku-buku tersebut merupakan salah satu sumber penghasilan beliau di samping kegiatan ceramah atau seminar.
Pada suatu hari Ummi bersama Irfan pergi ke sebuah penerbitan, berharap masih ada sisa honor Buya Hamka di penerbit tersebut. Uang terakhir mereka gunakan untuk ongkos becak. Ternyata semua buku yang diterbitkan telah disita sehingga tak ada lagi honor untuk diberikan. Pemilik penerbitan ingin memberi mereka uang sebagai sedekah namun Ummi menyampaikan agar uang tersebut diberikan kepada orang yang lebih memerlukan.
“Kami datang tidak untuk mengemis,” ujar beliau.
Asumsi saya, Ummi yakin bahwa Allah akan memberinya rezeki meskipun pada saat itu ia tidak memiliki uang lagi sehingga harus pulang dengan berjalan kaki. Sebuah keyakinan yang kuat dari istri seorang ulama besar sehingga ia menolak sedekah yang diberikan oleh sang pemilik penerbitan.
Di akhir kisah diceritakan bahwa sesampai di rumah, Ummi mendapati pemilik PT Pustaka Islam telah menunggu untuk memberikan sejumlah uang hasil penjualan tanah yang pernah dijanjikannya pada Buya Hamka. Beberapa saat kemudian pemilik PT Pustaka Nusantara, sebuah penerbitan di Bukittinggi, juga datang mengantarkan uang royalti buku-buku Buya. Hanya di Sumatera Barat buku-buku Buya Hamka aman dari sitaan sehingga uang royaltinya tetap ada. Dompet Ummi yang kosong pun terisi kembali.
Membaca kisah ini saya ingat pada seorang ustadz. Jauh sebelum pandemi kami pernah berbagi kelas di sebuah kota di ujung pulau Sumatera. Sang ustadz mengajak saya untuk membantunya memberikan materi mengenai teknik konseling sesuai dengan permintaan klien. Beliau sendiri memberikan materi yang lain. Dalam bincang-bincang ringan di sela-sela pelatihan, beliau bercerita tentang rekeningnya yang sering kosong.
“Iya, rekening saya di bank itu seringnya kosong. Kalau ada honor mengajar atau ceramah yang masuk, nanti akan ada aja keperluan sehingga uangnya akan keluar lagi. Tapi, alhamdulillah kalau pas sedang diperlukan, rekening yang kosong itu akan terisi sehingga saya bisa memenuhi keperluan itu,” ujarnya sambil tertawa.
“Jadi nggak punya tabungan dong, Bang?” tanya saya.
“Nggak di bank, tabungan rezekinya dipegang Allah,” demikian kira-kira jawabannya. Ia yakin bahwa rezekinya sudah ditetapkan dan Allah akan memberikan sesuai dengan kebutuhannya. Ia tidak terlalu risau memikirkan apakah saat ini ia punya uang atau tidak. Ia berprinsip rezeki bisa datang dari mana saja. Ia juga tidak memikirkan berapa ia akan dibayar pada saat memberikan pelatihan atau ceramah.
“Yang penting urusan kita sama Allah beres,” ini adalah kunci keyakinannya akan rezeki.
Kalimat ini membawa ingatan saya pada seorang senior di kampus. Beliau memiliki keyakinan bahwa taat = rezeki. Uang adalah bagian kecil dari rezeki. Jika kita taat kepada Allah, maka Allah akan membukakan rezeki dalam bentuk beragam. Berikut cerita beliau pada saya.
Pada waktu mendengar seorang sahabatnya pergi berhaji sekeluarga, kakak kelas saya ini juga ingin sekali pergi berhaji.
“Ingiiiiiiin banget,” ujarnya.
Namun karena belum selesai kuliah S2, keluarga tidak mengizinkan ia berangkat. Teman dan saudara-saudara pun mempertanyakan dengan setengah mengejek keinginannya untuk berhaji pada saat itu.
“Mending beli mobil,” ujar mereka.
Tantangan dan ejekan tidak mengurungkan niatnya, ia mendaftar pada tahun berikutnya. Kala itu untuk pergi haji tidak harus mengantri seperti sekarang. Uang tabungan hanya pas untuk mendaftar namun ia tidak banyak pikir karena memang sangat ingin mengunjungi baitullah.
“Setelah melunasi pembayaran haji, uang tabungan saya hampir nol. Yang saat itu tidak masuk logika saya adalah besoknya ada tawaran dari teman seprofesi untuk membantu merekrut calon pekerja di sebuah perusahaan besar. Honor langsung dibayarkan setelah laporan selesai dan jumlahnya kira-kira sebesar uang yang saya keluarkan untuk melunasi ONH. Terus menjelang berangkat, saya menukar uang real untuk bekal. Malamnya saya dapat tawaran proyek lagi. Pada saat honornya ditransfer, jumlahnya juga sekitar uang yang saya keluarkan untuk menukar real. Ma syaa Allah, setiap kali saya keluarkan uang untuk keperluan haji, Allah menggantinya dengan jumlah yang hampir sama. Alhasil sebelum berangkat ke tanah suci, jumlah tabungan saya kembali seperti sediakala.” Demikian beliau bercerita panjang.
Sekembalinya dari Mekah, teman-temannya masih bertanya dengan nada mengejek, “Terus apa untungnya loe, pergi haji?”
Senior saya yang rendah hati ini hanya tersenyum. Sepulang dari berhaji beliau mendapat beasiswa untuk mengikuti kursus singkat mengenai HIV dan AIDS di Sydney dan Melbourne. Setelah mengikuti kursus tersebut beliau banyak dilibatkan pada proyek-proyek penanganan HIV & AIDS di Indonesia.
“Jadi beli mobil juga nggak, Mbak?” tanya saya penasaran.
Beliau tertawa dan menjawab, “Alhamdulillah. Tetep kebeli juga mobilnya. Malah sempat umroh juga beberapa kali setelah pergi haji.”
Ternyata rezeki beliau tidak berkurang karena pergi haji, malah bertambah. Rekening yang kosong segera diganti oleh Allah. Banyak rezeki lain yang beliau peroleh setelah pulang dari tanah suci.
Kisah-kisah ini mengingatkan saya akan pentingnya menjaga ketaatan pada Allah. Di tengah pandemi sekarang, saya banyak mendengar cerita mengenai ekonomi yang sulit dan rezeki yang berkurang. Dalam logika manusia, sesuatu bisa saja tampak sulit namun jika kita berpikir dengan logika langit – istilah teman saya – maka sesuatu itu mudah saja bagi Allah. Wallahu a’lam.
Mutiara, 24 November 2020
Dian L Izwar
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
(QS Ath-Thalaq: 2–3)
