Greysia Polii
Tadi siang saya mendapat kiriman gambar yang menarik, yaitu gambar televisi yang sedang menayangkan pertandingan bulu tangkis. Gambar itu menjadi menarik karena murid taman kanak-kanak yang membuatnya kemudian menjelaskan dengan detil semua yang ada di dalam gambar tersebut.
“Ini lapangan bulu tangkis. Ini pemainnya. Ini wasitnya. Ini tasnya. Ini pelatihnya dan ini orang yang nontonnya.”
“Siapa yang sedang bertanding?” tanya saya.
“Greysia Polii,” gadis kecil itu menjawab mantap. Ia dan adiknya memang ikut menyaksikan laga para pebulu tangkis Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Saat itu keluarga besar kami sedang antusias mengikuti perjuangan para pemain bulu tangkis nasional kita untuk mengumandangkan lagu Indonesia Raya di Mushasino Forest Sport Plaza. Saya teringat kiriman video adik saya yang berisi dua kanak-kanak sedang bermain badminton. Sejak pertama menonton pertandingan di layar kaca, kedua keponakan kecil saya itu telah ikut bermain bulu tangkis dengan raket mungil mereka. Begitu cepatnya mereka belajar.
Saya juga masih ingat perubahan gaya permainan kedua kakak adik ini dalam bermain bulu tangkis. Setelah mereka menonton pertandingan Greysia Polii dan Apriani Rahayu di final, ada adegan keluar lapangan untuk mengganti raket di tengah-tengah permainan, persis seperti yang dilakukan Polii. Kemudian, saat kedua keponakan kecil ini menonton upacara pengalungan medali, maka setelah usai bermain mereka pun menaiki bangku kecil, pura-pura mendapat medali. Bukan itu saja, ada pula adegan foto dengan menggigit medali. Saya tersenyum memandang kiriman foto dari ibu mereka saat kedua kanak-kanak ini berpose dengan gaya pura-pura menggigit dan mencium medali. Begitulah anak-anak, mereka adalah peniru ulung. Apa yang mereka lihat akan mereka tiru.
Bicara tentang kemampuan anak-anak dalam meniru, saya teringat pada seorang rekan yang mengeluhkan gaya bicara anaknya.
“Sekarang suka membentak dan berteriak kalau bicara padahal kami di rumah tidak ada yang berbicara seperti itu,” ujarnya.
Saya bertanya, “Anaknya nonton TV?”
Saat sang rekan mengangguk, kami berdua telah tahu penyebab perubahan gaya bicara anaknya. Ada guru lain yang dicontoh si anak, yaitu televisi.
Kembali pada cerita keponakan saya, apabila sebuah tayangan yang hanya ditonton beberapa hari (selama pertandingan bulu tangkis olimpiade saja) telah terpatri dalam ingatannya hingga 2 bulan kemudian, bagaimana jika sebuah tayangan ditonton setiap hari? Apa yang akan ditiru oleh anak saat orang tua menjadikan televisi sebagai baby sitter?
Semoga kita punya waktu untuk mendampingi sang buah hati saat menonton televisi sehingga kita tahu “guru” seperti apa yang mereka tiru. Penting juga untuk mendiskusikan dengan anak mengenai pemahaman mereka terhadap tayangan yang mereka tonton dan meluruskan pemahaman mereka yang mungkin keliru karena keterbatasan daya nalar kanak-kanak mereka. Wallahu a’lam.
Padang Datar, 29 September 2021
Dian L Izwar
Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.
(HR. Al-Hakim)
