Validasi
Saat membaca tulisan saya tentang Raham, seorang sahabat bertanya, “Validasi itu apa sih?”
Pertanyaan ini bisa dijawab secara “ringan” tapi juga bisa menjadi sebuah ulasan panjang. Saya coba menuliskannya dengan sederhana. Bismillah.
Validasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pengesahan. Valid bermakna sahih, sah, benar. Melakukan validasi adalah membuat sesuatu menjadi sah atau benar.
Dalam kaitannya dengan hubungan interpersonal, validasi mencakup ucapan atau perbuatan yang bertujuan untuk membuat seseorang merasa telah melakukan atau merasakan sesuatu yang benar. Validasi dapat bersifat eksternal atau internal. Pengesahan yang berasal dari luar diri, misalnya pengakuan yang diberikan oleh orang lain, adalah bentuk validasi eksternal. Sementara validasi internal berasal dari dalam individu itu sendiri, pengesahan yang kita buat terhadap apa yang kita rasakan atau lakukan.
Sebagai contoh di lingkup psikologi, kita mengenal istilah validasi emosi yang berarti menerima dan membenarkan sebuah emosi yang dirasakan oleh seseorang. Dalam ranah pengasuhan, orang tua disarankankan untuk melakukan validasi emosi pada anak. Tujuannya agar anak tahu emosi apa yang dirasakannya serta memahami bahwa merasakan sebuah emosi adalah suatu hal yang wajar. Ini adalah bentuk validasi eksternal. Anak belajar melalui validasi yang dilakukan oleh orang tua. Saat ia datang datang dengan mata berkaca-kaca, lalu ibunya berkata, “Adek sedang sedih?” Ia belajar bahwa emosi yang saat ini dirasakannya adalah sedih. “Kalau sedih, Adek boleh nangis.” Ia tahu bahwa ia boleh merasa sedih dan salah satu cara mengekspresikan kesedihan adalah dengan menangis. Inilah fungsi validasi eksternal, menjadi sarana belajar dan pembentukan perilaku.
Kemudian seiring dengan pertambahan usia, anak diharapkan dapat melakukan validasi internal terhadap emosi yang dirasakan. Pada saat kehilangan sesuatu, ia tahu bahwa ia merasa sedih dan dapat berkata pada dirinya, “Saya saat ini sedih karena saya merasa kehilangan.” Ia melakukan pengesahan sendiri terhadap emosi yang dirasakannya. Ia tak lagi membutuhkan validasi eksternal seperti saat baru belajar mengenal emosi.
Di samping emosi, validasi dapat diberikan terhadap hampir semua hal yang dilakukan seseorang. Pujian, komentar dan like terhadap unggahan di media sosial adalah bentuk validasi eksternal. Pengesahan yang didapat dari orang lain ini umumnya menimbulkan rasa senang dan merupakan hal yang wajar sepanjang tidak menjadi tujuan dari perilaku seseorang.
Terkadang, ada pribadi yang menjadikan validasi eksternal sebagai tolok ukur keberartian diri. Ia baru merasa berharga apabila mendapatkan penerimaan, pengakuan atau pujian dari orang lain. Perilaku dan perasaannya ditentukan oleh umpan balik yang diterima. Saat kecanduan validasi eksternal, seseorang akan berupaya agar setiap tindakannya mendapat pengakuan, semua pekerjaannya menuai pujian dan apa yang dilakukannya diperhatikan. Dalam kasus ekstrem, seseorang bahkan rela melakukan tindakan di luar batas kewajaran hanya untuk menarik perhatian. Ini tentu bukanlah sikap mental yang sehat.
Meski menyenangkan, validasi eksternal bersifat sementara dan tak pasti. Tidak semua orang punya waktu untuk memperhatikan, tidak selalu pula mereka menyukai apa yang kita lakukan. Karena berasal dari luar diri, seseorang tidak mempunyai kendali terhadap validasi eksternal. Pengesahan dari orang lain tak selalu bisa didapatkan. Risikonya adalah kekecewaaan. Saat tak mendapat umpan balik sesuai harapan, pribadi pencari validasi eksternal akan merasa tidak diterima, tidak berharga dan berkecil hati. Sebuah keadaan mental yang tidak optimal dan dapat berujung pada menurunnya produktivitas.
Kembali pada Raham dalam film Buya Hamka. Yang saya kagumi dari sosok ini adalah ia seolah tidak membutuhkan validasi eksternal. Jangankan dari orang lain, dari suaminya pun tidak. Raham terkesan tidak mencari pengakuan atas apa yang dilakukannya untuk Sang Ulama. Bahkan saat membuatkan kopi, ia tak “memaksa” agar sang suami menyadari kehadirannya. Tertangkap kesan ia hanya melakukan apa yang perlu dan tak hirau dengan respon orang lain. Ma syaa Allah. Di sinilah kekuatan Raham.
Saya menamainya kekuatan karena individu yang tidak mencari validasi eksternal cenderung menjadi individu yang bahagia dan lebih sehat mental. Mereka jarang kecewa karena memang tidak mengharapkan apa-apa dari orang lain. Mereka dapat melakukan validasi internal atas pilihan perilakunya. Saya membayangkan mereka adalah orang-orang yang melakukan sesuatu dengan tulus. Pribadi yang berbuat dari hati. Mengerjakan sesuatu karena memang ingin melakukannya, ikhlas tanpa pamrih. Ma syaa Allah. Alangkah indahnya bila kita bisa sampai pada titik ini.
Semoga Allah mudahkan. Aamiin.
Mutiara, 5 Mei 2023
Dian L Izwar
“Seluruh amal perbuatan tergantung pada niat. Setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan.
Siapa saja yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya.
Dan siapa saja yang hijrahnya karena dunia yang akan diperoleh atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya hanya memperoleh apa yang diniatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
