Remah Rengginang

Pekan lalu suami saya mendapat oleh-oleh.

“Ini rengginang dari Madura,” ujar sang pemberi seraya menyodorkan bungkusan plastik berisi kudapan renyah.

Suami saya membawanya pulang.  Ia penggemar rengginang, saya juga.  Apalagi yang baru digoreng.  Hmm.. gurih dan nikmat.  Teksturnya yang renyah mencipta kesan tersendiri saat kita mengunyah.

Sesampainya di rumah, saya menyalin penganan tradisional itu ke dalam toples.  Beberapa bagian masih utuh sementara ada bagian lainnya yang hancur membentuk remahan.  Kantong plastik yang menjadi wadahnya tak melindungi cemilan ini dari benturan sehingga tidak semua bagian terjaga utuh.  Rengginang memang rapuh.

Saat menata cemilan gurih itu ke dalam toples, frasa “remah rengginang” melintas di ingatan.  Saya pernah mendengar dua kata itu disebut oleh beberapa sahabat.  Tak hanya seorang, tapi beberapa orang.  Remah rengginang sering diucapkan pada saat seseorang merasa dirinya tidak berarti, bukan siapa-siapa dan tak pantas diperhitungkan.

“Apalah saya ini, hanya remahan rengginang,” begitu kurang lebih ucapan yang terdengar.

Terkadang seseorang mengucapkan hal ini untuk merendah.  Namun pada kesempatan lain, frasa ini diucapkan sebagai penyataan ketidakberdayaan.  Bagian terakhir ini yang agak mengusik saya.  Kita memang tidak boleh sombong.  Kemampuan yang kita punya atau apa saja yang kita miliki sejatinya bukan karena kita bisa tapi karena Allah memudahkannya untuk kita.  Namun, kita juga tidak boleh merasa rendah dan tak berharga.  Rendah diri dan rendah hati adalah dua hal yang berbeda.  Beberapa sahabat terkadang membaurkannya.

Rendah hati bermakna tidak angkuh atau tidak sombong, sebuah sifat yang positif.  Sementara rendah diri berarti merasa diri kurang.  Sifat ini perlu dikoreksi.  Apabila seseorang merasa dirinya kurang, tidak mampu dan tidak berdaya, maka ia pada akhirnya memang tidak akan bisa melakukan apa pun.  Dalam psikologi hal ini disebut self-fulfilling prophecy.  Jika kita meyakini sesuatu, maka kita akan bertindak sesuai dengan keyakinan itu sehingga hal itu akan menjadi kenyataan.  Jadi pada saat seseorang merasa bahwa ia adalah remahan rengginang dan menyakininya, maka ia akan selalu menjadi remahan rengginang meski potensinya jauh melebihi hal itu. 

Lalu, bagaimana mengatasi perasaan rendah diri agar tak selamanya menjadi remahan rengginang?  Jawaban singkatnya adalah mengembangkan rasa percaya diri.

“Gimana caranya, Mbak?  Udah nggak pe-de duluan soalnya.”

Keyakinan diatasi dengan keyakinan.  Dalam psikologi hal ini dikenal dengan mengubah belief.  Keyakinan lama diganti dengan keyakinan baru.  Jika selama ini seseorang meyakini bahwa ia tidak mampu, tidak berharga atau tidak bisa apa-apa, maka ia perlu membentuk sebuah keyakinan baru bahwa ia cakap, berdaya dan kompeten.  Ia perlu mempercayai dirinya sendiri, yakin bahwa ia adalah insan yang berarti.  Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia, jadi pasti ada keunikan dalam diri setiap orang yang akan menjadi kekuatannya.  Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan, jika kita merasa memiliki kekurangan, kita juga pasti memiliki kelebihan.  Kita hanya perlu melihat lebih teliti ke dalam diri dan menemukan potensi ini.  Kuncinya adalah keyakinan.  Yakinlah bahwa kita memiliki kekuatan sehingga kita akan dapat menemukan kekuatan itu, in syaa Allah. 

“Kalau yakin tapi nggak ketemu juga kita bisanya apa, gimana, Mbak?”

Ini memang bukanlah proses yang instan.  Kita perlu berusaha menggali dengan sungguh-sungguh serta tidak mudah menyerah.  Konsistensi dan keinginan  untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik penting ditumbuhkan.  Ketekunan in syaa Allah akan berujung pada kemahiran.

Kalau masih belum dapat juga, kita dapat meminta umpan balik mengenai kelebihan dan kekurangan yang kita miliki dari orang yang terpercaya, lalu mengolah masukan yang diperoleh.  Bicara dengan profesional juga boleh.  Saat ini banyak psikolog berpraktik juga sebagai life coach yang dapat membantu seseorang menemukan mutiara yang terpendam di dalam dirinya.  Yang penting yakin dulu bahwa kita adalah pribadi yang berharga dan berdaya.  Manusia adalah makhluk yang Allah ciptakan untuk menjadi khalifah di bumi.  Pasti ciptaan Allah ini istimewa, bukan?  Yakinlah pada kebaikan dan kekuatan yang Allah ciptakan dalam diri kita, in syaa Allah akan terbuka jalan untuk mewujudkannya.  Wallahu a’lam.

Mutiara, 23 Mei 2023
Dian L Izwar


“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya), yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk…”

QS. Al-A’la: 1-3


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *